Siswa kita: Mampukah mereka memahami teks sederhana?

Guru Kelas 4 SDI Al-Fahmiyah
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari A Ansori tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kemampuan membaca dan memahami sama halnya dengan kemampuan memindai pesan. Serta meringkusnya ke dalam otak. Kemudian membenamkannya ke dalam alam bawah sadar. Kemampuan yang mungkin sudah menjadi biasa di negara-negara maju. Jauh berbeda dengan apa yang dialami oleh negara berkembang seperti Indonesia. Kemampuan memahami pesan dengan baik adalah jalan menuju peradaban dan kemajuan.
Kemajuan dan peradaban itu selalu dimulai dari Sekolah dasar sebagai ujung tombak. Akan menjadi mustahil rasanya, jika kemajuan tidak bermula dari tingkat sekolah dasar. Meskipun faktanya menyakitkan. Kita harus mengakui, bahwa kemampuan literasi siswa-siswi kita masih di bawah 50 persen. Meskipun agak meragukan, pisa menyebutkan minat baca orang Indonesia masih nomor 2 dari bawah.
Saya sempat berpikir ketika di jalan. Pernah terlintas saat berkendara meski sebentar. Kenapa siswa kita sulit memahami teks sederhana? Apa karena doktrin sejak dari awal. Bahwa membaca kadang dianggap tugas. Karena dianggap tugas. Akhirnya menjadi beban. Tahu kan beban? Orang akan meninggalkannya agar tidak membuat stres pikiran.
Beberapa animasi, film yang saya tonton di aplikasi. Selain fokus pada alur cerita, saya mencari dengan sebuah tanya yang saya siapkan dalam kepala. Apakah ada buku yang diselipkan di cerita. Baik anime atau film. Rata-rata menampilkan buku. Film aksi, anime seperti Naruto masih menyelipkan buku. Kakashi guru Naruto masih membiasakan membaca buku karyanya Jiraiya.
Jiraiya selain menjadi guru Naruto dan terkenal hebat. Ia juga mengarang buku untuk dijual. Yang menikmati karyanya tentu Kakashi sensei. Tentu, saya pahami alam pikiran Masashi Kishimoto. Kultur jepang yang sudah terbiasa dengan literasi tergambarkan dalam karyanya. Nuansa keilmuan akan sulit ditemukan di tempat, jika tidak terbiasa dengan membaca buku. Tidak terbiasa dengan literasi.
Literasi akan menjadi himbauan terus menerus di negara yang belum terbiasa dengan memahami teks sederhana. Tentu dalam hal ini, literasi tidak dipahami hanya sebatas membaca buku dan memahaminya. Literasi juga dipahami sebagai proses mengejewantahkan ide dalam bentuk tulisan. Bisa juga dipahami sebagai proses memahami makna dari sebuah lambang. Mendialogkan pikiran dengan kenyataan yang diejawantahkan dalam bentuk berpikir kritis.
Siswa kita belum mengarah ke proses membaca. Lebih-lebih memahami sebuah teks sederhana. ANBK yang diadakan pemerintah tidak serta merta menjadikan anak kita melek makna. Pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya diperoleh dari teks belum tentu juga dipahami dengan mendalam. Banyak dari siswa-siswi yang mengikuti ANBK buru-buru menyelesaikan asesmennya.
Pertanyaannya, apakah literasi akan semakin meningkat karena adanya ANBK? Memang perlu analisis mendalam dengan berbagai variabel. Tetapi, kita bisa amati dengan kacamata sederhana. Apabila siswa kita semakin banyak menyukai buku untuk dibaca dan dipahami. Tentu bisa kita simpulkan, literasi meningkat. Begitu juga sebaliknya. Jika anak-anak mampu berpikir kritis terhadap tontonan tiktok. Ini indikasi bahwa literasi meningkat.
Siswa-siswi yang sudah terbiasa memahami teks sederhana ia akan penasaran dengan teks yang lebih kompleks lagi. Pernahkah kita membaca novel yang endingnya digantung? Pernahkah kita baca teks berita tiba-tiba terpotong karena harus membayar? Bukankah kita tidak akan penasaran jika kita tidak memahami teks dari awal? Memahami teks sederhana akan berlanjut pada teks lebih kompleks.
Awal-awal kebiasaan saya membaca dulu diawali dengan rasa penasaran cerita silat. Hingga pada akhirnya saya penasaran pada novel bumi cinta karya Habiburrahman el-shirazy. Novel yang menurut saya saat itu memukau. Saat itu, anak-anak pesantren banyak membacanya. Saya penasaran. Kemudian membelinya dengan uang kiriman dari bapak. Tidak kecewa, novelnya memang bagus.
Perpustakaan pesantren saya kunjungi setelah selesai menanak nasi. Setiap pukul 1 siang saya baca buku. Buku yang membuat saya penasaran, selain fiksi. Ada buku karya Adian husaini tentang liberalisme. Daftar-daftar orang liberal seperti Cak Nur dan Ulil Abshar Abdallah. Yang belakangan saat kuliah saya baca langsung karya-karya mereka. Lagi-lagi karena penasaran.
Persoalan hari ini yang menjangkiti siswa-siswi kita adalah godaan aplikasi cepat scroll bernama tiktok. Aplikasi ini menawarkan kesenangan tontonan meskipun tidak mendidik. Memang ironi. karenanya, kebiasaan nonton tiktok juga perlu diawasi oleh orang tua siswa. Agar tidak bahaya tiktok dan tontonan yang tidak mendidik bisa diminimalisir sedini mungkin.
Sejauh ini, siswa-siswi kita sibuk mengenal Tontonan Fyp daripada memahami buku bacaan. Akibatnya, secara tidak sadar mereka telah terbiasa dengan konten joget-joget serta membiarkan otak mereka kosong.
Siswa-siswi kita tidak bisa memahami teks dengan baik karena tidak terbiasa menghadapi teks sederhana. Indikasi mereka paham teks sederhana. Mereka bisa memahami pertanyaan dan pernyataan dengan baik. Kemudian menjawabnya sesuai pertanyaan atau mengerjakan sesuai pernyataan.
Darimana literasi dimulai? Dari guru sendiri. Bagaimana caranya memulai? Membaca dan memahami teks. Bagaimana agar siswa terbiasa memahami teks sederhana? Membiasakan mereka dengan pertanyaan ketika pembelajaran. Pertanyaan itu tidak saja terbatas pada "What". Tapi harus melampaui Why dan How.
