Konten dari Pengguna

Mengenal Pluralitas Budaya Madura melalui Musik Daul

ANSORI

ANSORI

Dimana kegiatan saya saat ini terdiri dari internal maupun eksternal seperti akademik dan ikut organisasi kampus, profesi saya sebagai mahasiswa di Universitas muhammadiyah surabaya.

·waktu baca 4 menit

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari ANSORI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

WhatsApp Image 2025-05-14 at 22.27.43 salah satu foto daul di madura
zoom-in-whitePerbesar
WhatsApp Image 2025-05-14 at 22.27.43 salah satu foto daul di madura

Pulau Madura merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang kaya akan tradisi dan budaya lokal. Keberagaman seni yang tumbuh dan berkembang di Madura menjadi simbol kuat identitas masyarakatnya. Salah satu kesenian tradisional yang menonjol dan masih eksis hingga saat ini adalah musik Daul. Kesenian ini tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga warisan budaya Madura.

Musik Daul merupakan salah satu bentuk seni musik tradisional Madura yang sangat digemari oleh masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Musik ini kerap menjadi tontonan favorit dalam berbagai kegiatan masyarakat, baik di perkampungan maupun di kota-kota. Kehadirannya selalu berhasil menarik perhatian dan membangkitkan semangat masyarakat yang menyaksikannya.

Secara etimologis, istilah "Daul" berasal dari kata "gaul" yang kemudian dipelesetkan menjadi "daul" oleh para pencetusnya. Kata "gaul" sendiri memiliki arti mudah berbaur atau akrab dengan siapa pun. Maka dari itu, musik Daul dapat dimaknai sebagai musik yang bersifat terbuka, mudah dipahami, dan dapat dimainkan oleh siapa saja. Musik ini mengedepankan kebersamaan dan semangat gotong royong dalam menciptakan harmoni.

Perkembangan musik Daul mulai pesat sejak tahun 1990-an. Pada masa itu, musik ini mulai dikolaborasikan dengan berbagai genre musik lainnya, seperti dangdut, gambus, kasidah, hingga lagu-lagu daerah. Perpaduan ini menciptakan nuansa musik yang lebih variatif dan menarik. Musik Daul sendiri merupakan bentuk inovasi dari musik tong-tong, yang sebagian besar instrumennya terbuat dari bambu. Alat-alat musik yang digunakan memiliki ukuran yang bervariasi untuk menghasilkan suara yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan irama.

Cara memainkan musik ini adalah dengan memukul alat musik secara ritmis, menggunakan teknik pukulan monton, sehingga menghasilkan irama yang dinamis dan enerjik. Meski sejarah pasti tentang asal usul musik Daul belum dapat dipastikan, keberadaan dan pertumbuhan kelompok-kelompok musik Daul di Madura menjadi bukti kuat bahwa kesenian ini telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Madura.

Pada awalnya, musik Daul berkembang dari musik patroli yang digunakan oleh masyarakat untuk membangunkan warga menjelang sahur selama bulan Ramadhan. Namun, seiring berjalannya waktu, fungsi musik Daul meluas menjadi bentuk pertunjukan musik yang bersifat hiburan dan budaya. Kini, musik Daul tidak hanya dimainkan saat Ramadhan, tetapi juga dipertunjukkan dalam berbagai acara, termasuk perayaan hari besar, festival budaya, dan ajang perlombaan.

Dalam perkembangannya, pertunjukan musik Daul semakin kaya dengan tambahan berbagai instrumen musik seperti gendang, kenong, peking, serta alat utama seperti tong-tong, bung-bung, dan dug-dug. Kombinasi alat-alat tersebut menghasilkan suara yang harmonis dan ritmis. Tidak hanya sekadar permainan musik, dalam penampilan musik Daul juga sering disertai dengan tarian tradisional yang menambah daya tarik pertunjukan tersebut.

Penilaian dalam perlombaan musik Daul tidak hanya berdasarkan teknik dalam memainkan alat musik, melainkan juga memperhatikan kekompakan tim, kreativitas aransemen, kostum, hingga penampilan para penari pengiring. Ajang perlombaan ini menjadi agenda rutin yang banyak ditunggu-tunggu masyarakat, terutama saat momentum Lebaran Ketupat. Pemerintah daerah turut mendukung pelestarian seni ini dengan memfasilitasi berbagai kegiatan perlombaan yang mendorong semangat para seniman muda untuk terus berkreasi.

Menariknya, saat ini musik Daul tidak hanya terbatas pada wilayah Madura, tetapi juga telah dikenal dan dipentaskan di berbagai kota besar di Indonesia. Sambutan hangat dan antusiasme dari masyarakat luar daerah menunjukkan bahwa musik Daul mampu diterima dengan baik sebagai bagian dari kekayaan budaya Nusantara.

Eksistensi musik Daul yang tetap bertahan hingga kini membuktikan bahwa Madura merupakan tanah yang subur bagi pertumbuhan seni dan budaya. Musik Daul tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga simbol identitas, kebersamaan, dan semangat masyarakat Madura dalam menjaga warisan leluhur mereka.

Dengan dukungan semua pihak, termasuk pemerintah, komunitas seni, dan masyarakat umum, diharapkan musik Daul terus berkembang dan mendapat tempat istimewa dalam peta kesenian Indonesia. Pluralitas budaya yang tercermin dalam musik Daul menjadi cermin bahwa Madura memiliki kekayaan budaya yang patut dibanggakan dan dilestarikan.