Konten dari Pengguna

Skibidi Toilet dan Anak Kita: Hiburan Absurd atau Ancaman Nyata?

Antaiwan Bowo Pranogyo

Antaiwan Bowo Pranogyo

Praktisi, Dosen STIE Indonesia Jakarta, Instruktur dan Konsultan di bidang SDM, Risk Manajemen dan Internal Audit. Seorang pembelajar dan pengajar, moto hidupnya: Memberi Value Added kepada masyarakat adalah kewajiban bukan hak.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Antaiwan Bowo Pranogyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Akhir-akhir ini, anak-anak kita demam Skibidi Toilet.

Video animasi absurd ini viral di YouTube dan TikTok. Isinya? Kepala manusia muncul dari kloset, bertarung dengan tokoh berkepala kamera dan speaker. Nggak ada alur cerita yang jelas. Cepat, gaduh, dan penuh suara aneh. Tapi justru karena itu, anak-anak menyukainya.

Sebagai praktisi pengembangan sumber daya manusia, saya mulai waspada. Kita mungkin mengira ini cuma hiburan ringan. Tapi, efeknya bisa serius. Bukan hanya buat masa kecil mereka, tapi juga masa depan mereka sebagai manusia dewasa—yang suatu hari nanti akan masuk dunia kerja.

Otak Anak Terbiasa yang Instan

Serial seperti Skibidi Toilet bisa melatih anak untuk menyukai hal-hal yang cepat dan instan. Mereka tidak diajak berpikir, tidak diajak mencerna alur, apalagi mengambil hikmah.

Sebuah studi dari Christakis dkk. (2004) menunjukkan bahwa tayangan cepat dan acak dapat memicu masalah konsentrasi saat anak beranjak besar. Ini real. Kami di dunia SDM melihatnya: makin banyak karyawan muda yang cepat terdistraksi, sulit fokus, dan cenderung gampang bosan.

Kurang Belajar dari Sosok yang Manusiawi

Skibidi Toilet tidak punya tokoh yang bisa dijadikan contoh. Tidak ada nilai sosial, tidak ada percakapan yang bisa dicontoh anak. Interaksinya absurd. Emosinya datar.

Padahal anak-anak belajar banyak dari meniru. Dari menonton cara orang berbicara, berinteraksi, bahkan menyelesaikan konflik. Kalau tontonan mereka miskin hal-hal seperti itu, efeknya bisa terasa dalam kemampuan sosialnya.

Penelitian Linebarger & Walker (2005) bilang: konten yang minim interaksi sosial bisa membuat anak kesulitan membentuk keterampilan sosial yang sehat. Dalam dunia kerja, ini bisa berujung pada masalah komunikasi, konflik, bahkan burnout.

Deskripsi: Skibidi Toilet Sumber: Id.wikipedia.org

Emosi yang Dikejar Sensasi

Tayangan seperti ini penuh kejutan—kadang lucu, kadang menjijikkan, kadang tidak jelas. Emosi anak jadi seperti dikendalikan dari luar, tanpa waktu untuk berpikir atau memahami. Mereka bisa terbiasa bereaksi spontan, bukan reflektif.

Lillard dkk. (2015) menunjukkan, tontonan yang terlalu cepat bisa merusak fungsi eksekutif anak, termasuk kontrol emosi dan kemampuan mengambil keputusan.

Orang Tua Tidak Bisa Lepas Tangan

Kita memang tidak bisa melarang dunia digital masuk ke ruang anak. Tapi bukan berarti kita tutup mata.

Tugas kita adalah mendampingi, membimbing, dan membatasi—bukan membebaskan mereka menonton apa saja selama anteng dan tidak rewel. Anak-anak butuh tontonan yang mengajak berpikir, mengajak mengobrol, mengajak bertanya. Bukan cuma tontonan yang mengajak bengong.

Bukan cuma tanggung jawab orang tua, guru, atau psikolog. Tapi juga kita, para profesional SDM. Karena yang kita hadapi nanti di kantor adalah hasil dari apa yang mereka konsumsi hari ini.

Generasi yang kita bentuk sekarang akan masuk ke dunia kerja 10–15 tahun lagi. Jika mereka tumbuh dalam pola tontonan cepat, miskin empati, dan minim makna, maka kita sedang menyiapkan generasi yang lemah dalam berpikir, bekerja, dan berinteraksi.

Jadi, mari mulai awasi bukan cuma durasi screen time anak, tapi juga kualitas isi yang mereka tonton. Karena apa yang mereka nikmati hari ini, akan menjadi cara mereka berpikir, bekerja, dan hidup di masa depan.