Pentingkah Komunikasi Efektif bagi Seorang Dokter?

Medical Student in Universitas Airlangga
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Anthony Camilo Lim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokter adalah salah satu tombak terdepan dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat Indonesia, khususnya dalam bidang kesehatan. Sayangnya, dalam mewujudkan Indonesia Sehat, terdapat kasus-kasus kontroversial dalam masyarakat yang melibatkan dokter.
Contohnya, kasus RSUD Ciereng di Subang yang menolak ibu hamil yang hendak bersalin dengan alasan penuh. Contoh lainnya, kepala bayi yang dipotong oleh dokter di RSUD Jombang untuk mengeluarkan bayi yang sudah meninggal dari dalam rahim ibu.
Kasus-kasus tersebut, tentu, merupakan suatu “pengingat” bagi dokter untuk melakukan tindakan yang sesuai dengan prosedur dan mengkomunikasikannya secara baik dengan keluarga pasien untuk menghindari kesalahpahaman. Kunci yang membuat keluarga pasien paham akan tindakan yang akan dilakukan adalah komunikasi efektif.
Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari pemberi pesan kepada penerima pesan atau audiens baik itu dalam bentuk simbol, lambang dengan harapan bisa membawa atau memahamkan pesan itu kepada penerima pesan serta berusaha mengubah sikap dan tingkah laku.
Komunikasi efektif merupakan komunikasi yang dapat mengubah sikap orang-orang yang terlibat dalam komunikasi sesuai dengan keinginan komunikator. Tujuan komunikasi efektif tersebut adalah memudahkan seseorang memahami pesan yang disampaikan oleh komunikator. Bentuk dan karakteristik komunikasi efektif adalah mencakup komunikasi verbal efektif dan nonverbal efektif.
Perlu diingat, komunikasi efektif bukan hanya komunikasi secara verbal saja, melainkan juga secara nonverbal. Hal ini memiliki makna bahwa komunikasi yang dilakukan sebaiknya dilakukan dengan memerhatikan seluruh aspek tubuh, bukan hanya kata-kata saja.
Bahkan, 93% dari semua makna sosial dalam komunikasi tatap muka diperoleh melalui syarat-syarat nonverbal. Berdasarkan kalimat tersebut, aspek verbal hanya memainkan 7% makna komunikasi.
Maka dari itu, penting dalam komunikasi efektif untuk memerhatikan aspek nonverbal agar tujuan komunikasi efektif tercapai, khususnya di sini bagi dokter.
Contoh komunikasi nonverbal yang dapat dilakukan dokter adalah menunjukkan sikap menerima pasien, tersenyum, menghargai pasien dengan mengontak mata pasien saat mereka berbicara, berbicara dengan nada yang lembut dan artikulasi yang jelas, dan lain sebagainya. Selanjutnya, akan diulas mengenai pentingnya komunikasi efektif bagi dokter.
Pertama, komunikasi efektif itu penting untuk membina hubungan pasien-dokter. Berdasarkan pengertian pada paragraf sebelumnya, komunikasi efektif membuat pasien dapat mengubah sikap sesuai dengan keinginan dokter.
Jadi, dengan komunikasi efektif, pasien dapat menjadi lebih nyaman dan percaya kepada dokter maupun kepada profesionalitas dokter. Dengan demikian, hubungan pasien-dokter akan menjadi baik. Hubungan baik antara pasien-dokter ini adalah kunci untuk kesembuhan pasien sendiri dan mencegah hal-hal yang tidak diinginkan oleh dokter.
Kedua, komunikasi efektif itu penting untuk membuat pasien menceritakan keluhan yang dimilikinya. Dengan menjadi dokter yang komunikatif, menunjukkan sikap menerima pasien melalui aspek nonverbal, pasien akan merasa lebih nyaman dan mau menceritakan semua keluhan yang dimilikinya.
Dengan pasien menceritakan hal tersebut, tentunya, akan lebih mudah bagi seorang dokter untuk mendiagnosis dan menindaklanjuti penyakit yang dimiliki seorang pasien sehingga peluang pasien untuk sembuh dari suatu penyakit akan lebih tinggi.
Ketiga, komunikasi efektif itu penting untuk mengedukasi pasien. Edukasi kepada pasien ini sama pentingnya dengan diagnosis yang tepat kepada pasien karena setepat apa pun diagnosis yang dilakukan oleh seorang dokter tidak ada gunanya apabila pasien tidak bekerja sama dengan dokter untuk menyembuhkan dirinya sendiri.
Contoh sederhananya, pasien tidak meminum obat secara teratur padahal sudah dianjurkan minum obat secara teratur. Dengan metode edukasi yang tepat dan mengena di hati pasien, pasien lebih mungkin untuk melaksanakan anjuran-anjuran yang diberikan serta menghindari larangan-larangan yang diberikan oleh dokter. Dengan demikian, pasien akan sembuh dengan lebih cepat dan hasil penyembuhannya akan lebih optimal.
Keempat, komunikasi efektif itu penting untuk menghindari sengketa medis. Selain komunikasi efektif, melakukan tindakan sesuai SOP juga penting.
Akan tetapi, dengan komunikasi efektif, jika terjadi hal yang tidak diinginkan kepada pasien dan dokter telah melakukan prosedur sesuai SOP, dokter mampu menjelaskan kepada keluarga pasien dengan baik sehingga keluarga pasien pun akan lebih mampu menerima hal yang terjadi pada pasien dan dalam lingkup komunitas, mengurangi tuntutan hukum akibat risiko medis yang bersifat minor dan tidak membahayakan nyawa.
Berdasarkan uraian-uraian di atas, komunikasi efektif itu penting bagi seorang dokter. Maka dari itu, sejak pendidikan kedokteran (masa preklinik), komunikasi efektif ini sebaiknya dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
