Konten dari Pengguna

Riset Mahasiswa Farmasi UMY Kembangkan Nanoherbal Babchi sebagai Anti-Aging

antiagingbabchiriset

antiagingbabchiriset

Tim Riset mahasiswa Farmasi UMY yang sedang penelitian tentang Anti-Aging dari bahan alam

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari antiagingbabchiriset tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Proses pengujian antioksidan ekstrak babchi (Sumber: Penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Proses pengujian antioksidan ekstrak babchi (Sumber: Penulis)

Penuaan kulit masih menjadi masalah yang banyak ditakuti masyarakat, khususnya kaum perempuan. Permintaan terhadap produk anti-aging terus meningkat, namun masih banyak yang mengandalkan bahan sintetis dengan risiko efek samping seperti iritasi. Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Program Studi S1 Farmasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menghadirkan solusi baru berbasis tanaman herbal Babchi (Psoralea corylifolia).

Babchi (Psoralea corylifolia) mengandung berbagai senyawa bioaktif yang berperan dalam aktivitas antioksidan dan protektif terhadap sel kulit. Mekanisme kerjanya diduga melalui penangkalan radikal bebas serta stimulasi regenerasi sel, sehingga mendukung potensinya sebagai agen anti-aging alami yang aman dan efektif.

Melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) yang berhasil didanai oleh Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Tahun Anggaran 2025. Tim yang menamakan diri mereka sebagai peneliti @nanoyouthbabchi ini tengah mengembangkan formulasi Nanostructured Lipid Carrier (NLC) berbasis Babchi sebagai kandidat sediaan anti-aging. Tim tersebut terdiri dari Wahyu Caya Afriani (ketua), Imelsa Angger Setiaji, Ica Nur Febriani, dan Aprilia Dwi Ayu Lestari.

“Dengan formulasi berbasis NLC, kami berharap senyawa aktif Babchi bisa lebih stabil dan mudah diserap kulit. Nantinya sediaan ini akan kami kembangkan dalam bentuk serum, sehingga praktis digunakan masyarakat. Inovasi ini menunjukkan bahwa herbal pun bisa bersaing dengan bahan sintetis jika dipadukan dengan teknologi modern,” ujar Wahyu, selaku ketua tim.

Setelah sediaan nano berhasil diformulasi, tim akan melanjutkan dengan serangkaian pengujian. Pengujian meliputi uji aktivitas antioksidan untuk melihat kemampuan Babchi dalam menangkal radikal bebas, serta uji kultur sel fibroblas yang dilakukan untuk mengevaluasi potensi sediaan dalam melindungi sel kulit dari penuaan.

Proses formulasi NLC (Sumber: Penulis)

Dengan langkah ini, tim berharap Babchi dapat menjadi terobosan anti-aging berbasis alami yang lebih ramah kulit dan aman dibandingkan bahan sintetis seperti retinol, yang meski populer, kerap menimbulkan efek samping pada pengguna dengan kulit sensitif.

Dibimbing oleh dosen Apt. Rifki Febriansah, M.Sc, riset ini juga diarahkan untuk menghasilkan produk akhir berupa serum nanoherbal babchi. Bentuk sediaan serum dipilih karena lebih sesuai dengan tren skincare masa kini dan lebih mudah diterima masyarakat.

Keempat mahasiswa Farmasi UMY ini berharap riset mereka dapat membuka jalan bagi pengembangan kosmetik herbal modern di Indonesia.

“Kami ingin membuktikan bahwa riset ini mampu menghadirkan inovasi nyata dengan menggabungkan kekayaan herbal Asia dan teknologi nano. Harapannya, Babchi bisa menjadi kandidat kuat dalam perawatan kulit masa depan terutama sebagai anti-aging,” tambah Wahyu.