Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.102.2
Konten dari Pengguna
Ribetnya Perang Tarif Ala Trump: Maksudnya Apa Sih?
25 April 2025 14:13 WIB
·
waktu baca 3 menitTulisan dari Antony Mula tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Jadi ceritanya, di sore hari tanggal 2 April 2025, Presiden AS Donald Trump sampaikan pengumuman yang menghebohkan seluruh dunia. Di Gedung Putih, dia menyebut hari itu adalah “hari pembebasan” rakyat Amerika dari “kecurangan” negara-negara mitra dagangnya.
ADVERTISEMENT
Menurut Trump, selama ini Amerika rugi besar karena negara-negara lain lebih banyak menjual barang ke Amerika daripada membeli.
Jadi, untuk "membalas" nya, dia memutuskan untuk kasih tarif tambahan untuk hampir semua barang impor dari luar negeri. Tapi cara menghitung tarifnya cukup unik, jauh dari pendekatan ekonomi standar.
Bagaimana Cara Menghitungnya?
Trump buat rumus sendiri:
1. Buka data perdagangan dari United States Trade Representative (USTR) tahun 2024.
2. Lihat defisit perdagangan AS sama negara tertentu.
3. Bagi defisit itu dengan total ekspor negara tersebut ke AS.
4. Hasilnya dibagi dua, terus dibulatkan buat jadi tarif.
Contohnya Indonesia: tahun 2024, Indonesia untung USD 17,9 miliar dari perdagangan sama AS, dengan total ekspor USD 28,1 miliar. Kalau ikut rumus Trump, tarif yang dikenakan sekitar 32%. Gede juga, ya?
ADVERTISEMENT
Negara Yang Kasih Untung Juga Kena?
Yang bikin aneh, negara-negara yang sebenarnya bikin AS untung juga tetap kena tarif. Contohnya Australia, Inggris, dan Singapura – mereka tetap dikasih tarif minimum 10%. Jadi, rugi atau untung, tetap saja semua barang impor dihajar tarif tambahan.
Siapa yang Dikecualikan?
Ada juga yang tidak kena, misalnya Kanada dan Meksiko. Alasannya? Mereka sebelumnya udah kena tarif tinggi, 25%. Barang-barang penting seperti obat-obatan, semikonduktor, energi, aluminium, dan baja juga aman dari tambahan tarif ini.
Dunia Panik, Saham Anjlok
Begitu pengumuman keluar, pasar saham langsung gonjang-ganjing. Cuma dalam dua hari, nilai saham di Wall Street turun drastis, hilang sekitar USD 6 triliun. (hampir 100 ribu trilyun rupiah). Bursa di Jepang, Hong Kong, Shanghai, sampai Inggris juga ikut jeblok.
ADVERTISEMENT
Negara-Negara Lain Bagaimana?
China langsung membalas, yang langsung dibalas balik oleh AS. Sekarang total tarif tambahan AS untuk barang dari China tembus 145%, dan China balas dengan tarif 125% untuk barang dari AS.
Uni Eropa juga ikut-ikutan kasih balasan 25%. Tapi negara lain seperti Jepang, Korea Selatan, India, dan Singapura lebih kalem. Mereka langsung buka ruang negosiasi dengan AS.
Terus Sekarang Bagaimana?
Baru-baru ini, Trump bilang bakal tunda dulu tarif-tarif itu selama 90 hari – tapi khusus untuk China, tarifnya tetap jalan. Uni Eropa juga akhirnya menunda tarif balasannya.
Padahal, sebelumnya AS bilang nggak mau negosiasi sama sekali. Mungkin orang-orang di lingkarannya Trump juga mikir ulang dan berupaya meyakinkan Trump untuk sedikit mengerem, apalagi mulai bermunculan orang-orang kaya Republikan yang sampaikan concern, meskipun belum terang-terangan.
ADVERTISEMENT
Namun mengingat watak Trump, perang tarif ini sepertinya masih jauh dari selesai. Bisa saja besok ada kejutan baru lagi.
Indonesia Tenang Tapi Sigap
Indonesia bagaimana? Pemerintah kita tetap tenang, tapi nggak tinggal diam. Sekarang Pemerintah lagi siapkan strategi agar dampaknya tidak terlalu parah. Selain itu, Indonesia juga bakal buka jalur diplomasi langsung dengan AS. Siap-siap negosiasi, tapi tetap elegan.
Kita tunggu langkah-langkah selanjutnya...