Algoritma Cahaya dan Kegelapan dalam Diri Manusia

Dosen data science UMP, Penulis buku social media politica, dan Kordinator Staff Ahli Wakil Ketua DPD RI Bidang Ekonomi dan Pembangunan
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Anwar Abugaza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada sesuatu yang menarik ketika teknologi komputer dibaca melalui perspektif spiritual. Komputer bekerja dengan sesuatu yang sangat sederhana: 0 dan 1. Namun dari kombinasi dua keadaan itu, lahirlah dunia digital yang begitu kompleks—gambar, suara, video, kecerdasan buatan, bahkan simulasi dunia yang hampir menyerupai kenyataan.
Warna adalah salah satu contohnya.
Dalam sistem warna RGB, putih dapat direpresentasikan sebagai intensitas cahaya penuh pada tiga kanal: RGB (255, 255, 255). Nilai 255 berasal dari bilangan biner 11111111, yaitu seluruh bit bernilai satu. Sebaliknya, hitam direpresentasikan sebagai RGB (0, 0, 0) atau 00000000, ketika seluruh intensitas cahaya berada pada titik nol.
Di antara keduanya terdapat jutaan gradasi warna. Abu-abu menjadi salah satu gambaran paling sederhana: ia berada di antara putih dan hitam.
Secara teknis, ini adalah cara komputer menerjemahkan intensitas cahaya menjadi informasi digital. Tetapi secara filosofis, kita dapat mengambil pelajaran yang lebih dalam: kehidupan moral manusia juga mengenal gradasi.
Putih: Ketika Cahaya Berada pada Puncaknya
Putih dapat menjadi metafora bagi keadaan ketika seluruh potensi cahaya berada dalam kondisi maksimal. Dalam perspektif Islam, cahaya bukan sekadar fenomena fisik. Al-Qur'an menggunakan konsep nur sebagai simbol yang sangat kuat tentang petunjuk, kebenaran, dan keberadaan yang menerangi.
Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nur : 35 "Allah adalah cahaya langit dan bumi..."
Dalam kehidupan manusia, kebaikan dapat dibayangkan seperti cahaya. Kejujuran menerangi hati. Ilmu menerangi pikiran. Iman menerangi arah kehidupan. Kasih sayang menerangi hubungan antarmanusia. Keadilan menerangi keputusan.
Manusia yang memilih kebaikan bukan berarti manusia yang tidak pernah menghadapi kegelapan. Ia adalah manusia yang terus berusaha mempertahankan cahayanya.
Jika komputer mengenali putih sebagai intensitas cahaya yang penuh, maka secara metaforis kita dapat membayangkan kebaikan sebagai kondisi ketika cahaya nilai-nilai moral berada dalam keadaan maksimal.
Bukan berarti manusia menjadi sempurna, tetapi ia terus mengarahkan dirinya kepada kebenaran.
Kejahatan Jarang Dimulai dari Hitam
Di sinilah metafora warna menjadi menarik.Kejahatan sering kali tidak dimulai dengan tindakan yang langsung terlihat hitam. Ia dapat dimulai dengan sebuah kompromi kecil.
Awalnya seseorang mengetahui bahwa sesuatu itu salah, tetapi berkata: "Tidak apa-apa sekali." Kemudian: "Semua orang juga melakukannya."
Lalu: "Saya tidak punya pilihan." Berikutnya: "Yang penting saya mendapatkan keuntungan." Sedikit demi sedikit, standar moral mengalami penurunan.
Dalam bahasa warna, cahaya mulai diredupkan. Dari putih menuju abu-abu. Dan wilayah abu-abu inilah yang menarik sekaligus berbahaya.
Abu-Abu: Wilayah Kompromi Moral
Dalam komputer, abu-abu bukanlah hitam. Ia masih memiliki cahaya. Begitu pula manusia yang berada dalam wilayah abu-abu moral belum tentu sepenuhnya menjadi jahat.
Ia masih memiliki kesadaran. Ia masih mengetahui bahwa ada sesuatu yang salah. Ia masih memiliki kesempatan untuk kembali. Justru karena itulah wilayah abu-abu menjadi wilayah yang sangat penting dalam perjalanan moral manusia.
Kejahatan sering mendapatkan ruang bukan karena manusia tiba-tiba kehilangan seluruh cahaya, tetapi karena manusia membiarkan cahayanya berkurang sedikit demi sedikit.
Hari ini berbohong sedikit. Besok menipu sedikit. Kemudian membenarkan kebohongan. Lalu menganggap penipuan sebagai sesuatu yang biasa. Akhirnya hati tidak lagi merasa bersalah.
Pada titik tertentu, sesuatu yang dahulu dianggap salah mulai terasa normal. Di situlah masalah moral menjadi jauh lebih serius.
Dari Satu Bit ke Satu Keputusan
Komputer tidak memahami moralitas seperti manusia. Ia hanya memproses informasi. Tetapi metafora biner memberi kita gambaran menarik tentang kehidupan. Setiap keputusan manusia seperti sebuah pilihan kecil antara mempertahankan cahaya atau menguranginya.
Satu keputusan tampak kecil. Namun keputusan yang diulang akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan membentuk karakter. Karakter membentuk perilaku. Dan perilaku yang dilakukan terus-menerus dapat membentuk kehidupan seseorang.
Dengan demikian, kerusakan moral tidak selalu berupa lompatan besar dari putih menjadi hitam. Ia bisa berupa proses komputasional yang panjang:
11111111 → 11111110 → 11111100 → 11111000 → ... → 00000001 → 00000000
Secara matematis, angka-angka tersebut hanyalah representasi digital. Tetapi sebagai metafora spiritual, ia menggambarkan sesuatu yang sangat manusiawi: cahaya yang dikurangi sedikit demi sedikit.
Hitam: Ketika Cahaya Dipadamkan
Dalam representasi RGB, hitam berada pada: RGB (0, 0, 0) Tidak ada intensitas cahaya yang dipancarkan. Secara spiritual, hitam dapat kita gunakan sebagai simbol metaforis bagi keadaan ketika manusia telah begitu jauh dari nilai-nilai kebaikan sehingga kejahatan tidak lagi dianggap sebagai kesalahan.
Yang lebih berbahaya bukan sekadar melakukan dosa. Yang lebih berbahaya adalah ketika hati kehilangan sensitivitas terhadap dosa.
Dosa dilakukan tanpa rasa bersalah. Ketidakadilan dilakukan tanpa rasa malu. Kebohongan dianggap sebagai strategi. Kezaliman dianggap sebagai kekuasaan.
Dan manusia mulai menggunakan kecerdasan, teknologi, serta kekuasaannya bukan untuk menghadirkan kemaslahatan, tetapi untuk memperbesar kepentingan dirinya sendiri.
Di titik inilah teknologi menjadi sangat penting—bukan karena ia menentukan moralitas, melainkan karena ia memperbesar apa pun yang telah ada di dalam diri manusia: cahaya atau kegelapan.
