Tenang yang Mahal di Era Bising Media Sosial

Dosen data science UMP, Penulis buku social media politica, dan Kordinator Staff Ahli Wakil Ketua DPD RI Bidang Ekonomi dan Pembangunan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Anwar Abugaza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah rimba informasi dan tuntutan hidup modern yang serba cepat, rasa cemas seolah menjadi teman setia sehari-hari. Mulai dari tekanan pekerjaan, ekspektasi sosial, hingga notifications ponsel yang tak pernah berhenti, otak dan jiwa manusia dipaksa bekerja tanpa jeda. Banyak orang akhirnya menganggap bahwa "TENANG" adalah sebuah keberuntungan atau karakter bawaan lahir yang hanya dimiliki orang-orang tertentu.
Namun, benarkah demikian?
Kenyataannya, ketenangan batin bukanlah takdir yang kaku, melainkan-sebuah keterampilan jiwani yang dapat dipelajari, dilatih, dan dibiasakan. Sama seperti otot tubuh yang perlu dilatih di tempat kebugaran agar makin kuat, jiwa manusia pun membutuhkan ruang latihan agar tak gampang goyah saat diterjang badai kehidupan.
Dalam tradisi Islam, instrumen utama untuk melatih ketenangan tersebut sangat mendasar dan telah menjadi rutinitas harian: mengingat Allah (zikir) dan menunaikan salat.
Secara psikologis, kecemasan sering kali bersumber dari pikiran yang melayang jauh ke masa depan (kekhawatiran atas hal yang belum terjadi) atau tertambat di masa lalu (penyesalan). Zikir—secara bahasa berarti "mengingat"—berfungsi memutus rantai pikiran liar tersebut dan mengembalikannya ke momen sekarang bersama Sang Pencipta.
Allah SWT secara tegas menegaskan korelasi langsung antara mengingat-Nya dengan ketenangan jiwa dalam Al-Quran " (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)
Zikir mendidik kesadaran kita bahwa di balik segala riuh rendah kekuasaan dan masalah duniawi, ada Zat Yang Maha Mengatur. Ketika kesadaran itu hadir, beban di dada perlahan terangkat karena kita sadar tidak sedang berjalan sendirian.
Salat: Tempat Perhentian dan "Reset" Harian
Jika zikir adalah pengingat yang bisa diucapkan kapan saja, maka salat adalah jeda terstruktur harian. Lima kali sehari, manusia diminta meninggalkan segalanya—komputer, rapat, gawai, dan urusan rumah tangga—untuk berdiri tegak di hadapan Tuhan.
Bagi Rasulullah SAW, salat bukanlah beban kewajiban yang menggencet, melainkan tempat beristirahat dari lelahnya aktivitas duniawi. Dalam sebuah hadits shahih, beliau pernah berseru kepada muazinnya: "Wahai Bilal, kumandangkanlah iqamah untuk salat, **istirahatkanlah kami dengan shalat tersebut." (HR. Abu Dawud No. 4985, dishahihkan oleh Al-Albani)
Secara medis dan neurosains modern, gerakan salat yang dilakukan secara tumakninah (tenang/tidak terburu-buru), terutama saat sujud, terbukti membantu menurunkan hormon stres (kortisol) dan menurunkan irama gelombang otak ke fase yang lebih rileks (gelombang alfa). Salat yang benar adalah mindfulness tingkat tinggi, di mana fokus, gerakan tubuh, dan bacaan menyatu secara utuh.
Tentu, meraih ketenangan lewat salat dan zikir tidak terjadi secara instan bagaikan membalikkan telapak tangan. Ia membutuhkan proses, latihan, dan konsistensi (istiqamah).
Kunci utamanya terletak pada kualitas kehadiran diri (khusyuk). Salat yang sekadar menggugurkan kewajiban secara tergesa-gesa tidak akan memberi dampak transformatif yang sama dengan salat yang diresapi pada setiap gerakannya. Untuk itu, kita perlu melatih diri:
1. Niatkan sebagai jeda. Jadikan waktu salat sebagai momentum untuk menyegarkan pikiran, bukan gangguan terhadap pekerjaan.
2. Hadirkan hati. Saat melafalkan kalimat zikir, resapi maknanya. Jangan biarkan mulut mengucap sementara pikiran mengembara ke hal lain.
3. Tumakninah. Beri jeda pada setiap gerakan salat. Ketenangan fisik, lambat laun, akan merambat menjadi ketenangan jiwa.
Ketenangan bukanlah ketiadaan masalah, melainkan kemampuan untuk tetap stabil di tengah masalah. Dengan menjadikan zikir dan salat sebagai sarana latihan harian, kita sedang menempa jiwa agar tidak mudah retak saat dihantam ujian kehidupan.
