Megawati Soekarnoputri, Dialektika Kekuasaan dan Intelektual Organik

Penulis dan Peneliti
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Anwar Saragih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Presiden kelima Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri menerima penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa (HC) dari Princess Nourah Bint Abdulrahman University (PNU) pada 9 Februari 2026.
Ada pun PNU adalah universitas khusus perempuan terbesar di dunia dan salah satu kampus terkemuka di Arab Saudi yang terletak di Kota Riyadh.
Penghargaan yang diberikan oleh PNU tersebut merupakan bentuk apresiasi terhadap sosok Megawati terkait capaian politiknya sebagai presiden perempuan di negara mayoritas Islam di dunia serta sikap konsistennya mempromosikan perdamaian lewat isu kemanusiaan.
Kontribusi lainnya yang menarik perhatian dunia adalah komitmen Megawati dalam memajukan hubungan internasional, demokrasi, pembangunan politik dan pemberdayaan perempuan. Lebih lanjut, Megawati adalah perempuan pertama dari luar Arab Saudi yang meraih penghargaan kehormatan itu.
Secara empirik, usia kepresidenan Megawati terbilang pendek karena hanya memerintah tiga tahun dari 2001-2004. Meski demikian, periode tersebut sangat krusial bagi Indonesia dengan 3 (tiga) tantangan yaitu
Pertama, ancaman disintegrasi nasional dengan menguatnya isu gerakan saparatis di Aceh (GAM) dan Papua (OPM) sebagai efek domino dari hasil referendum kemerdekaan Timor Timur tahun 1999.
Kedua, warisan ekonomi yang buruk pasca krisis 1998 berdampak pada defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan membengkaknya utang luar negeri Indonesia empat kali lipat akibat melemahnya nilai dolar atas rupiah.
Dan ketiga, pelbagai konflik SARA yang terjadi di Sampit, Poso dan Ambon.
Masa kepemimpinan Megawati adalah era stabilitas. Ia tidak memiliki kemewahan secara utuh dalam menjalankan program-program ekonomi dan sosialnya karena keterbatasan APBN dan dihadapkan pada urgensi mewujudkan stabilitas nasional yang akhirnya diselesaikan dengan baik.
Meski demikian pada tingkat kawasan, kepemimpinan Megawati memberi peran strategis bagi Indonesia.
Sikap konstruktifnya menentang Junta Militer di Myanmar dengan mendorong dialog dan evolusi demokrasi lewat KTT Asean di Bali tahun 2003 serta kehadirannya pada deklarasi kemerdekaan Timor Leste di tahun 2002 meningkatkan eskalasi perdamaian di ASEAN.
Kemudian pada tataran global, Megawati juga aktif menyuarakan perdamaian pada banyak kesempatan, baik ketika menyampaikan Pidato di Sidang Dewan Keamanan PBB di tahun 2001 maupun pada pelaksanaan forum Internasional untuk agenda perdamaian yang diselenggarakan di Jakarta, seperti: Konferensi Internasional Perempuan Muslim 2003 dan Konferensi Ulama Islam Internasional 2004.
Megawati pada beragam kesempatan saat menyampaikan pidatonya dalam forum internasional selalu konsisten mengatakan bahwa akar dari terorisme yang terjadi di dunia kala itu bukan berasal dari Islam tapi berakar dari ketidakadilan yang dipicu oleh kolonialisme dan imperialisme global.
Terkhusus kecaman Megawati terhadap invasi Amerika Serikat ke Irak 2003 merupakan salah satu keputusan paling berani dan ikonik dalam sejarah politik kontemporer dunia.
Intelektual Organik
Jika kita membedah pemikiran Megawati terdapat pertalian utuh yang tidak bisa dipahami secara tekstual tapi harus melalui pemahaman komprehensip dengan tidak memisahkan antara esensi dan konteks.
Hal ini didasari karena konstruksi pemikirannya dibangun atas pengalamannya memperoleh ilmu pengetahuan bersumber dari ajaran ideologi serta prinsip kepemimpinan dari ayahnya, Soekarno bukan sekadar ruang-ruang kelas kuliah akademik.
Seseorang yang belajar di ruang kelas yang paripurna dibidang perkuliahan dengan menyelesaikan sarjana, magister hingga doktoral secara metodologi berpikir sangat dinamis.
Pun tidak jarang pada perjalanan riset dari skripsi, tesis hingga disertasi, teori dan paradigma yang digunakan juga kerap dilakukan secara pragmatis tergantung pada selera kemauan dosen pembimbing akademik.
Berbeda dengan cara Megawati dalam membedah persoalan yang sifatnya statis. Pisau analisanya bersandar pada ajaran-ajaran Soekarno sebagai instrumen dalam menyelesaikan pelbagai tantangan persoalan bangsa. Baik dalam konteks wong cilik, konsitusi, perdamaian dan sikap kemanusiaan.
Juga terkait dinamisasi terhadap relevansi tantangan bangsa di era modern saat ini, Megawati hampir tidak pernah bergeser dari kemurnian ideologi ajaran Soekarno.
Misalnya, bila Soekarno merumuskan kerangka ideologi melawan kolonialisme maka Megawati mentransformasikan ideologi tersebut dalam kekuatan partai secara masif. Kemudian, jika Soekarno menyampaikan gagasannya melalui orasi yang berapi-api dalam membangun semangat nasionalisme maka Megawati memulainya dari internal PDI Perjuangan melalui disiplin dan konsolodasi partai.
Pun saat Soekarno menjaga semangat rakyat Marhaen dalam bingkai memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan maka Megawati mengorganisir ideologi Marhaenisme ke dalam realitas politik kontemporer dengan mewujudkan cita-cita wong cilik dalam kerangka demokrasi elektoral.
Antonio Gramsci dalam karyanya yang berjudul “Selections from the Prison Notebooks” (1971) merujuk satu diksi yang sangat tepat dalam menjelaskan persona Megawati yaitu intelektual organik.
Dimana pra-syarat dari seorang intelektual organik dalam pandangan Gramscian adalah mewujudkan hegemoni dalam mengartikulasikan kesadaran, baik individu pribadi maupun kelompok organisasi dalam mendominasi wacana publik.
Sosok Megawati bagi wong cilik atau massa wong cilik di era pemerintahan Soeharto merupakan simbol perlawanan terhadap rezim rezim Orde Baru.
Ia menjadi simpul bagi kelompok politik yang terpinggirkan hingga mengispirasi lahirnya kesadaran melawan status quo pemerintahan yang berkuasa saat itu.
Sebagai perempuan politik, Megawati mewakili tiga minoritas dalam politik sekaligus yaitu minoritas gender di tengah maskulinitas politik, oposisi tunggal melawan kekuasaan yang ditopang ABRI, Birokrasi dan Golkar serta minoritas pemimpin politik yang ideologis ditengah gempuran pragmatisme politik.
Lebih jauh, melalui kontestasi elektoral pasca reformasi Megawati juga berhasil mengartikulasikan kepentingan kelompok nasionalis di dalam tubuh PDI Perjuangan menjadi kekuatan politik yang kohesif.
Selain itu, melalui sekolah partai di intitusi PDI Perjuangan adalah manifestasi pemikiran dari Megawati dalam menciptakan intelektual-intelektual organik baru untuk mencetak kader yang akan didistribusikan oleh partai baik sebagai anggota legislatif, kepala daerah atau pemimpin nasional.
Lebih Jauh bila asosiasikan dalam kerangka akademik penelitian ilmiah di kampus-kampus terdapat istilah kebaruan (novelty) sebagai bagian dari unsur keasilan, temuan baru serta nilai tambah sebuah riset serta yang membedakan dengan riset yang sudah ada.
Megawati dalam personanya sebagai pemimpin politik juga banyak merujuk istilah-istilah baru dalam menyesuaikan diksi dari Soekarno menjadi lebih sederhana dan relevan digunakan di era politik sekarang.
Luis Perron dalam bukunya berjudul “Beat the Incumbent” (2024) menggunakan istilah signature speech (pidato andalan) yang juga relevan dalam membedah cara Megawati yang kerap menggunakan signature speech darinya dengan pelbagai istilah dari wong cilik, berdikari, petugas partai, hingga spirit perjuangan.
Di mana pada konteks intelektual organik, diksi-diksi itu digunakannya sekaligus tidak hanya dalam konteks upaya mempertahankan atau merebut kemenangan elektoral tapi juga mempromosikan isu kemanusiaan dan perdamaian dunia
Dan fakta politiknya selain status Megawati sebagai Wakil Presiden dan Presiden perempuan pertama di Indonesia, kepemimpinan politiknya juga berhasil membawa kemenangan 4 (empat) Pemilu dari 6 (enam) kali pemilu untuk PDI Perjuangan di era reformasi.
Terakhir, sebagai perempuan politik Megawati tentu sangat layak mendapat apresiasi dengan 11 gelar doktor dan 3 gelar profesor kehormatan dari banyak kampus baik nasional maupun internasional termasuk gelar Doktor Honoris Causa diterimanya dari Kampus PNU Riyadh, Arab Saudi hari ini.
