Surat Duka Megawati dan Gema Hati Nurani

Penulis dan Peneliti
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Anwar Saragih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Megawati Soekarnoputri dalam kapasitasnya sebagai Presiden ke-5 RI, Ketua Umum PDI Perjuangan sekaligus mewakili keluarga besar Soekarno mengirimkan surat duka atas meninggalnya pemimpin tertinggi Republik Islam Iran Ayatollah Ali Khamenei pada serangan Israel-Amerika Serikat (AS) pada 28 Februari 2026.
Surat duka tersebut disampaikan langsung oleh Sekjen DPP Hasto Kristiyanto bersama rombongan fungsionaris pengurus pusat PDI Perjuangan ke Kedutaan Besar Iran di Jakarta pada 3 Maret 2025 lalu.
Surat duka cita Megawati tersebut bukan sekadar ucapan belasungkawa biasa dalam mengungkapkan keprihatinan serta rasa simpatinya terhadap keluarga Khamenei, pemerintah dan seluruh rakyat Iran.
Jauh dari pada itu, surat duka cita tersebut sekaligus menjadi pernyataan sikap Megawati dalam merespon serangan gabungan militer Israel- AS ke Iran. Posisi Megawati secara tegas menyatakan bahwa dirinya menolak dan mengecam keras segala bentuk agresi militer sepihak yang melanggar kedaulatan negara serta mengancam perdamaian dunia.
Harus diakui surat duka Megawati tersebut terasa sangat istimewa. Selain memang surat duka Megawati itu secara komprehensif juga menjelaskan posisi ideologis dalam menolak segala tindakan imperialisme, konstitusi sebagaimana yang diamanatkan dalam nilai-nilai Pancasila dan semangat Dasa Sila Bandung 1955.
Tidak hanya itu, keberanian Megawati mengambil posisi diametral dengan mengecam serangan Israel-AS secara langsung menjadi dukungan moral bagi rakyat Iran yang baru saja kehilangan pemimpinnya.
Pujian dari para tokoh nasional kemudian hadir setelahnya. Khususnya dari Amien Rais (mantan ketua MPR) dan Dahlan Iskan (mantan menteri BUMN).
Ada pun Amien Rais dalam siaran melalui siaran youtube pribadinya mengatakan surat duka yang dikirimkan Megawati sebagai pelajaran moral dari sikap seorang pemimpin sementara Dahlan Iskan mengatakan Indonesia masih punya perempuan teguh berpendirian bernama Megawati.
Sikap Ideologis dan Historis
Pengetahuan geopolitik Megawati berakar dari pemikiran Soekarno yang dilandasi oleh nilai kemanusiaan, keadilan dan kesetaraan antar bangsa. Cara pandang Soekarno memandang tatanan dunia adalah koeksistensi atau keselarasan bangsa-banga yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila.
Penjewatahannya secara praksis dirumuskan oleh Mohammad Hatta melalui politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif.
“Bebas” artinya tidak memihak blok kekuatan dunia tertentu sementara “aktif” berarti ikut serta dalam upaya menciptakan pedamaian dunia sebagaimana amanat aline keempat UUD 1945.
Secara historis, politik bebas aktif Indonesia kemudian dijalankan dalam peristiwa Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung tahun 1955. Konferensi itu melahirkan sepuluh konsensus bersama yang dikenal dengan Dasa Sila Bandung.
Di mana poin-poin sentral yang termaktub dalam Dasa Sila Bandung meliputi prinsip penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM), kedaulatan negara, kesetaraan derajat serta penyelesaian sengekta secara damai sebagai landasan setiap bangsa-bangsa hidup berdampingan.
Harus diakui pula salah satu kontribusi terbesar bangsa Indonesia terhadap dunia adalah Dasa Sila Bandung. Ada banyak negara-negara di Asia dan Afrika yang mendeklarasikan kemerdekaan pasca KAA 1955.
Tidak hanya itu, semangat Dasa Sila Bandung juga menjadi trigger penting lahirnya tokoh-tokoh yang berani dan termotivasi dalam memperjuangkan kemerdekaan serta kebebasan untuk bangsa dan rakyatnya.
Salah satunya adalah Khamenei yang sejak muda menjadikan sosok Soekarno sebagai salah satu inspirasinya dalam berjuang. Pidato Soekarno di KAA 1955 tentang pentingnya kemerdekaan, kemandirian bangsa dan sikap anti-imperialisme mendapat tempat tersendiri di hati dan perjuangan Khamenei. Pun tidak sekali dua kali, Khamenei mengutip pidato Soekarno dalam menggelorakan semangat rakyat Iran.
Itu sebabnya, ketika Rezim Pahlavi berakhir di tahun 1979 kemudian digantikan oleh Republik Islam teokratis yang dipimpin oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini tak lama kemudian Iran bergabung ke koalisi negara Gerakan Non-Blok (GNB) yang salah satu inisiator utamanya adalah Soekarno.
Artinya secara ideologis dan historis, terdapat irisan yang kuat antara Soekarno dan Khamenei dalam melawan segala bentuk kolonialisme. Keteguhan berjuang selama lebih dari tiga dekade ditengah himpitan geopolitik barat dan serangan militer demi mempertahankan kedaulatan negara Iran ini pula menjadi salah satu alasan Megawati memberikan hormat setinggi-tingginya pada sosok Khamenei.
Gema Hati Nurani
Prinsip seorang negarawan tidak akan menukar diplomasi kemanusiaan dan martabat bangsa demi dukungan kekuasaan semata.
Sikap yang sama terbukti telah dijalankan oleh Megawati yang tidak akan mentransaksikan isu kemanusiaan demi alasan apa pun.
Bukti empiriknya tercatat jelas pada sepanjang masa kepresiden Megawati dari tahun 2001 sampai 2004. Khususnya pasca tragedi penabrakan Menara World Trade Center (WTC) di New York City pada 9 September 2001 yang menghadirkan wacana menyudutkan Islam.
Pada Forum Dewan Keamanan PBB di tahun 2001, Pidato Megawati yang mengatakan bahwa akar dari terorisme bukan berasal dari Islam tapi dari ketidakadilan global. Ia kala itu menggemakan bahwa Islam adalah agama Rahmatan lil 'Alamin atau Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.
Setelahnya, Megawati memerintahkan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda untuk sebanyak-banyaknya menyelenggarakan konferensi internasional dengan tujuan melawan cap Islam-Phobia yang dikampanyekan barat. Pun pada tiga tahun kepresidenan Megawati setidaknya pemerintahan yang ia pimpin berhasil menyelanggarakan 17 konferensi internasional yang melibatkan 105 negara.
Tidak hanya itu, sikap tegas juga pernah sampaikan Megawati ketika dirinya dalam kapasitas Presiden RI mengutuk invasi AS ke Irak beberapa jam setelah serangan pertama di Ibukota Baghdad di 20 Maret 2003.
Presiden AS George W Bush sampai empat kali menelepon untuk meyakinkan Megawati agar mendukung serangan AS ke Irak. Megawati kukuh menolak permintaan Bush.
Argumen penolakan Megawati kala itu bahwa ia sangat bersimpati kepada rakyat Irak, utamanya anak-anak dan perempuan yang menjadi korban perang.
Artinya merujuk pada perspektif ideologis dan historis, Surat duka Megawati yang disampaikan ke Kedutaan Besar Iran bukan hanya digerakkan oleh keberanian tapi juga gema hati nurani untuk berpihak pada yang tertindas.
