Konten dari Pengguna

Deforestasi dan Sawit: Akar Masalah Banjir Kita?

Dimas Rahmat Naufal Wardhana

Dimas Rahmat Naufal Wardhana

Penulis dan Fresh Graduate Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Jakarta

Ā·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dimas Rahmat Naufal Wardhana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pohon di kabut pagi (dok. http://pixabay.com/EvgeniT)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pohon di kabut pagi (dok. http://pixabay.com/EvgeniT)

Secara global, laporan World Resources Institute (WRI) dan Global Forest Watch (GFW) menunjukkan bahwa kehilangan tutupan hutan di Indonesia secara umum meningkat pada 2024 ke level tertinggi sejak 2021, dengan peningkatan yang signifikan berasal dari pembukaan lahan legal.

Data terbaru dari World Resources Institute (WRI) dan Global Forest Watch (GFW) pada tahun 2024 menunjukkan adanya kenaikan laju deforestasi di Indonesia menjadi 261.575 hektare, mengubah tren penurunan yang terlihat pada tahun 2023 yang mencatatkan kehilangan hutan primer sebesar 257.384 hektare.

Analisis WRI menekankan peningkatan penebangan legal dalam konsesi sebagai faktor utama deforestasi pada tahun 2024, berbeda dari penyebab global yang banyak disebabkan oleh kebakaran hutan ekstrem.

Fakta: Hutan Hilang, Fungsi Hidrologis Punah

Hutan alam tropis bukan sekadar kumpulan pepohonan. Ia adalah infrastruktur alami paling canggih. Kanopinya menahan energi jatuh hujan, serasahnya bertindak seperti spons raksasa, dan sistem akar yang dalam dan kompleks menciptakan jalur pori-pori tanah untuk meresapkan air ke dalam bumi.

laju deforestasi di Indonesia pada 2024 meningkat dibandingkan 2023, terutama kehilangan hutan primer tropis yang mengalami peningkatan tajam, sebagian besar disebabkan oleh kebakaran yang diperparah oleh kondisi El NiƱo dan perubahan iklim.

Data KLHK menunjukkan bahwa satu hektar hutan dalam kondisi baik dapat menyimpan hingga 900 meter kubik air. Ketika deforestasi terjadi, fungsi-fungsi kritis ini lenyap seketika. Tanah menjadi padat, impermeabel, dan air hujan langsung menjadi aliran permukaan (run-off) yang deras, menggerus tanah dan membanjiri hilir dalam waktu singkat.

Monokultur Sawit adalah "Hutan Palsu" yang Memperparah Bencana

Di sinilah masalah pemanfaatan pohon yang tidak sesuai muncul. Banyak yang berargumen bahwa perkebunan kelapa sawit masih "hijau" karena terdiri atas pohon. Namun, dari sudut pandang hidrologi dan ekologi, ia adalah "hutan palsu".

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Environmental Science (2023) menegaskan bahwa perkebunan monokultur, termasuk sawit, memiliki fungsi ekosistem yang jauh lebih rendah dibanding hutan alam.

Akar persoalannya terletak pada struktur akar. Pohon hutan seperti Meranti, Keruing, atau Trembesi memiliki akar tunggang yang dalam (bisa mencapai 3-6 meter) dan akar lateral yang luas, yang secara efektif mengikat tanah dan membuka pori-pori untuk resapan.

Sebaliknya, kelapa sawit memiliki sistem perakaran serabut yang dangkal, biasanya tidak lebih dari 1-1,5 meter. Akar ini tidak mampu menahan tanah sekuat akar pohon hutan, terutama di lereng-lereng curam yang seharusnya tidak dialihfungsikan.

Dampaknya nyata. Di banyak daerah, seperti sebagian Kalimantan dan Sumatra, konversi hutan menjadi kebun sawit di daerah tangkapan air telah menjadi pemicu utama banjir dan longsor.

Saat hujan deras, tanah di antara barisan sawit yang gundul mudah tererosi. Air tidak diserap oleh "spons" akar yang dangkal, melainkan langsung meluncur ke sungai-sungai kecil, membawa sedimentasi yang kemudian mendangkalkan sungai utama dan mengurangi kapasitas tampungnya. Banjir pun menjadi konsekuensi logis yang berulang.

Dampak Berlapis: Dari Lingkungan Hingga Kehidupan

Dampak deforestasi dan salah kelola ini bersifat kumulatif:

  • Banjir & Longsor: Seperti yang diuraikan, hilangnya resapan dan penahan tanah langsung memicu bencana hidrometeorologi.

  • Krisis Air: Siklus air terganggu. Daerah yang kehilangan hutan akan lebih rentan terhadap kekeringan di musim kemarau karena cadangan air tanah tidak terisi.

  • Emisi Karbon: Deforestasi melepaskan karbon tersimpan, memperparah perubahan iklim yang pada gilirannya meningkatkan frekuensi cuaca ekstrem, termasuk hujan sangat lebat.

  • Kehilangan Keanekaragaman Hayati: Monokultur sawit adalah "padang pasir hijau" bagi sebagian besar satwa liar, memutus rantai ekologi.

Solusi: Melampaui Penanaman, Menuju Restorasi Fungsi

Maka, solusinya harus radikal dan tepat sasaran. Bukan sekadar menanam pohon, tetapi merestorasi fungsi ekosistem.

  • Rehabilitasi Daerah Tangkapan Air: Prioritas utama adalah mengembalikan vegetasi asli di daerah hulu, bantaran sungai, dan lereng kritis. Penanaman harus menggunakan spesies pohon yang sesuai, yaitu pohon-pohon pionir dan asli yang berakar dalam, bukan monokultur industri.

  • Moratorium dan Audit Lahan: Perlu peninjauan ulang izin di area-area yang secara hidrologis vital. Lahan gambut dan lereng curam >40% harus segera dipulihkan, bukan ditanami sawit.

  • Insentif untuk Konservasi: Skema pembayaran jasa lingkungan (PES) kepada masyarakat yang menjaga hutan harus diperkuat, sehingga hidup sejahtera tidak harus berarti mengkonversi hutan.

Banjir yang datang berulang adalah alarm yang tidak bisa lagi kita abaikan. Ia adalah gejala dari penyakit yang lebih dalam yaitu kebutaan akan fungsi ekologis sebuah pohon.

Menukar hutan dengan monokultur sawit adalah transaksi yang merugikan; kita menukar sistem pertahanan air yang kompleks dengan komoditas yang akarnya terlalu dangkal untuk menahan krisis.

Masa depan kita bergantung pada kemampuan membedakan antara sekadar "hijau" dan "berfungsi secara ekologis." Pilihan itu ada di tangan kita sekarang.

Sumber:

https://wri-indonesia.org/id/wawasan/kebakaran-menjadi-penyebab-kehilangan-hutan-tropis-terparah-sepanjang-2024

https://gfr.wri.org/id/latest-analysis-deforestation-trends

https://www.kompas.tv/internasional/503672/deforestasi-di-indonesia-meningkat-tahun-lalu-namun-analis-lihat-perbaikan-besar-secara-keseluruhan?page=all

https://fwi.or.id/klaim-deforestasi-klhk-berbeda-dengan-ngo/