Konten dari Pengguna

Geomembran TPST Bantar Gebang sebagai Transisi Kelola Sampah

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dimas Rahmat Naufal Wardhana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Tumpukan Sampah, Dok. unsplash.com/Hermes Rivera
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Tumpukan Sampah, Dok. unsplash.com/Hermes Rivera

Melihat sebuah gunungan sampah dari kejauhan. Tumpukan itu semakin tinggi setiap hari. Padahal, di dalamnya terjadi sampah organik yang terus terurai, air hujan masuk ke timbunan, air lindi terbentuk, hingga saat ini di Bantargebang ditutupi geomembrane sebagai transisi dalam perbaikan kelola sampah.

Di TPST Bantar Gebang, persoalan tersebut memiliki skala yang tidak kecil. Kawasan pengelolaan sampah ini memiliki luas sekitar 110,3 hektare, dengan area lahan urug yang tercatat sekitar 81,91 hektare. Sampah yang diterima juga berada pada kisaran 6.500–7.000 ton per hari.

Angka tersebut membuat pembicaraan tentang geomembrane Bantar Gebang menjadi lebih dari sekadar persoalan teknologi. Ada pertanyaan yang jauh lebih penting mengenai bagaimana membuat gunungan sampah yang sudah terlanjur ada menjadi lebih aman bagi lingkungan dan masyarakat?

Pada Juli 2026 kemarin, Pemprov DKI Jakarta mulai menjalankan transisi menuju controlled landfill di TPST Bantar Gebang. Dua zona aktif mulai ditutup menggunakan media pelindung, kemudian diperkuat dengan pemasangan geomembrane secara bertahap.

Apa sebenarnya geomembrane ini? Faktanya mulai 1 Agustus kemarin, penerapan controlled landfill dilakukan secara bertahap. Pada kuartal II 2026, open dumping masih mendominasi dengan porsi 72,56 persen.

Kemudian sampah yang diolah melalui berbagai fasilitas baru mencapai 7,59 persen. Pemerintah menargetkan porsi open dumping turun menjadi 50,34 persen pada kuartal III dan IV 2026, sementara pengolahan sampah meningkat menjadi 20,28 persen.

Adanya geomembrane bukan sekadar penutup agar gunungan sampah terlihat lebih rapi. Penutupan membantu mengurangi bau, mengendalikan emisi gas, serta meminimalkan masuknya air hujan yang dapat memperbesar pembentukan air lindi.

Catatan penting tutupan geomembrane di Bantargebang tidak menghilangkan gas metana, tetapi Gas tersebut tetap dapat terbentuk selama bahan organik di dalam timbunan mengalami pembusukan. Yang dilakukan geomembrane sebagai bantuan mengendalikan lingkungan timbunan sehingga dampaknya dapat dikelola lebih baik.

Ilustrasi Banyak Sampah, Dok. unsplash.com/Katie Rodriguez

Persoalan metana di Bantar Gebang sesuai dengan laporan Spotlight on the Top 25 Methane Plumes in 2025: Landfills yang dirilis pada April 2026 menempatkan Bantar Gebang sebagai posisi ke-2 sumber emisi metana landfill terbesar yang terdeteksi. Estimasinya mencapai sekitar 6,3 ton metana per jam.

Manfaat geomembrane bukan sekadar mengurangi bau, karena terdapat hal kompleks seperti terdapat air lindi, gas landfill dapat menimbulkan risiko kebakaran serta potensi longsor. Ada pula persoalan emisi yang berkaitan dengan perubahan iklim.

Pemasangan geomembrane perlu dilihat sebagai bagian dari sistem yang lebih besar. Penutupan timbunan harus berjalan bersama pengelolaan lindi, pemantauan kestabilan lereng, serta sistem pengumpulan dan pengendalian gas.

Pertanyaan penting dari masalah yang terjadi apakah geomembrane bisa bertahan jangka panjang? Geomembrane bukan solusi sekali pasang lalu persoalan selesai. Karena itu, manfaat geomembrane dalam jangka panjang sangat bergantung pada bagaimana sistem tersebut dirawat.

Jika hanya dipasang tanpa pemantauan dan pengelolaan gas, manfaatnya tentu terbatas. Sebaliknya, jika geomembrane menjadi bagian dari sistem controlled landfill yang dilengkapi pengelolaan lindi, pengendalian gas, pemantauan lingkungan, dan pemeliharaan berkala, fungsinya menjadi jauh lebih penting.

Pada akhirnya, persoalan Bantar Gebang tidak bisa diselesaikan hanya dengan menutup gunungan sampah. Sejak 1 Agustus 2026 kemarin, sekitar 25 persen sampah yang dikirim ke Bantar Gebang ditargetkan sudah berupa residu hasil pengolahan.

Target tersebut meningkat menjadi 50 persen pada 2027 dan 75 persen pada 2028. Pada 2029, seluruh sampah yang masuk ditargetkan telah melalui proses pengolahan sehingga yang tersisa hanya residu.

Jadi, geomembrane memang penting. Tetapi ia bukan akhir dari perjalanan. Ia adalah salah satu bagian dari cara baru memperlakukan sampah.

Dari sekadar kumpul, angkut, buang, perlahan diarahkan menjadi pilah, angkut, olah, lalu hanya menyisakan residu untuk landfill. Pemprov DKI sendiri menyebut arah kebijakan tersebut sebagai bagian dari target zero open dumping pada 2029.

Geomembrane memang bukan solusi jangka panjang, tetapi ia bisa menjadi tutupan sampah yang bisa berfungsi dalam transisi dalam kelola sampah untuk mengendalikan air lindi, bau sampah dan sebagainya.

Ukurannya jauh lebih sederhana sekaligus lebih penting seperti apakah bau berkurang, lindi lebih terkendali, gas metana dapat dikelola, risiko longsor menurun, dan semakin sedikit sampah yang harus ditimbun? Apabila tercapai geomembrane bukan sekadar lembaran penutup.