Konten dari Pengguna

Karhutla Mengancam Lahan Gambut Bisa Membahayakan Lingkungan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dimas Rahmat Naufal Wardhana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Gambut (unsplash.com/Ries Bosch)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Gambut (unsplash.com/Ries Bosch)

Lahan gambut mungkin terlihat seperti tanah biasa yang terlalu basah untuk dimanfaatkan. Namun, di balik permukaannya yang lembek, tersimpan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada yang terlihat, tapi saat ini ancaman karhutla bisa membahayakan lingkungan bagi hewan hingga manusia.

Kita perlu memikirkan, lahan gambut itu cuma tanah basah berlumpur yang nggak ada gunanya kalau nggak dikeringkan? Dulu aku juga sempat mikir gitu. Kelihatan kayak rawa lebat yang cuma bikin susah kalau mau dibangun jalan atau perkebunan.

Ternyata, di balik permukaannya yang lembek dan becek, gambut itu ibarat harta karun raksasa yang lagi kritis banget. Parahnya lagi, cara pandang yang keliru selama ini justru bikin bencana kebakaran hutan dan lahan, alias karhutla, makin gila-gilaan dari tahun ke tahun.

Bayangin aja, Indonesia punya 865 Kesatuan Hidrologis Gambut dengan total luas sekitar 24,67 juta hektare. Dari angka raksasa itu, peta nasional membaginya jadi 12,4 juta hektare fungsi lindung dan 12,27 juta hektare fungsi budidaya.

Gambut yang masih alami itu sebenarnya penyerap air dan karbon yang sakti banget. Bank Dunia bahkan mencatat kawasan gambut tropis kita ini sebagai salah satu yang terbesar di dunia, dengan cadangan karbon mencapai 46 gigaton.

Selama tanahnya tetap basah, karbon itu bakal terikat rapi di bawah tanah. Tapi begitu dikeringkan lewat kanal-kanal buatan, gambut berubah total dari spons penyimpan air jadi tumpukan bahan bakar raksasa yang siap meledak kapan aja.

Memasuki awal Oktober 2026 ini, dampaknya makin kerasa makin mengkhawatirkan. Per data 5 Oktober 2026 kemarin, laporan pemantauan titik panas di beberapa wilayah gambut terus berkobar. Peringatan dari BMKG soal kombinasi El Niño, lonjakan suhu udara, dan pengeringan lahan terbukti bikin kondisi makin parah.

Data dari Wetlands International juga menunjukkan hal yang bikin elus dada secara angka dari sekitar 13,4 juta hektare gambut tropis Indonesia, ada 4 sampai 6 juta hektare yang kondisinya udah terdegradasi berat.

Gambut yang rusak ini kehilangan kemampuan alaminya buat membasahi diri sendiri, makanya pas musim kemarau datang sedikit aja, apinya langsung berkobar tanpa kendali.

Ada hal bikin dada sesak baik secara harfiah maupun kiasan mengenai dampaknya ke kesehatan kita semua. Asap karhutla dari lahan gambut itu beda sama asap kayu biasa.

Kabut asap ini membawa campuran gas beracun dan partikel halus mikro yang langsung menusuk ke paru-paru. Di wilayah yang berdekatan sama titik api, kasus ISPA langsung melonjak drastis.

Puskesmas dan rumah sakit penuh sama anak-anak kecil dan lansia yang kehabisan napas, batuk-batuk, sampai matanya perih. Bayangin, warga yang bahkan nggak ikut memegang korek api harus menanggung penderitaan bernapas dalam racun tiap detik.

Kerusakan paru-paru akibat asap gambut ini sifatnya jangka panjang, bukan cuma gatal tenggorokan sehari dua hari lalu hilang. Masalah utamanya, kebakaran gambut itu ibarat musuh dalam selimut.

Apinya nggak cuma merambat di atas pohon yang kelihatan mata, tapi menjalar jauh masuk ke lapisan organik di bawah tanah. Walaupun di permukaan cuma kelihatan asap tipis, di dalam tanah sana ada bara api membara yang membakar kedalaman berkocek-kocek meter secara diam-diam.

Makanya memadamkan karhutla gambut itu susahnya setengah mati. Tim pemadam harus menyiram beribu-ribu liter air ke dalam tanah cuma buat memadamkan satu titik bawah tanah yang terus menerus memproduksi asap pekat.

Bukan cuma manusia yang tersiksa, satwa liar juga kehilangan rumah secara tragis. Lahan rawa gambut kayak di kawasan Katingan, Kalimantan Tengah, itu kan habitat penting buat orangutan Kalimantan, harimau Sumatra, burung-burung langka, sampai ekosistem air tawar.

Saat api masuk dan tanahnya membara, pepohonan tumbang dan tempat mereka berlindung musnah seketika. Satwa yang selamat akhirnya terpaksa lari keluar hutan, masuk ke pemukiman warga karena kelaparan, atau malah mati terpanggang di dalam rumahnya sendiri.

Ironisnya, kerusakan lingkungan jangka panjang ini sering kali dipicu oleh alasan mengejar keuntungan ekonomi jangka pendek. Padahal kalau dihitung pakai logika sehat, hilangnya fungsi alami gambut itu ruginya jauh lebih mahal.

Penelitian dari CIFOR-ICRAF ngebuktiin kalau nilai ekonomi total dari jasa ekosistem gambut buat masyarakat di Sumatra aja rata-rata mencapai sekitar 3.174 Dolar AS per rumah tangga tiap tahunnya. Itu mencakup penyediaan air bersih, sumber perikanan, hasil hutan non-kayu, sampai penahan banjir alami.

Angka-angka ini sering nggak kelihatan, karena nggak dicatat di atas kertas bisnis pembukaan lahan. Begitu karhutla meletus, biaya berobat ISPA, penerbangan yang gagal terbang, sekolah yang diliburkan, dan rusaknya ekosistem jutaan hektare jauh melampaui hasil kayu atau sawit yang didapat.

Makanya, menurutku kita harus banget mengubah cara pandang terhadap lahan gambut. Gambut itu bukan tanah nganggur yang nunggu dikeringkan demi proyek baru, tapi benteng pertahanan alami kita menghadapi krisis iklim.

Menjaga gambut tetap basah dan memulihkan kawasan yang terdegradasi itu bukan berarti menghentikan pembangunan, tapi justru memastikan pembangunan itu nggak membebani anak cucu kita dengan utang ekologis yang harganya nggak ternilai.

Sebab pada akhirnya, kalau gambut terus terbakar dan hancur, bukan cuma tanahnya yang hilang, tapi kemampuan bangsa kita buat bernapas dengan layak juga ikut terancam.

Sumber Referensi:

  • https://ecobiz.asia/indonesia-tegaskan-komitmen-pada-konservasi-lahan-gambut-di-forum-iklim-dunia/

  • https://www.jejakin.com/id/blog/indonesias-peatlands

  • https://sustainabletravel.org/project/katingan-mentaya-project/

  • https://katinganmentaya.com/

  • https://www.researchgate.net/publication/392403353_Meneroka_Nilai_Ekonomi_Jasa_Ekosistem_Lahan_Gambut_dan_Implikasinya_untuk_Pengelolaan_Lahan_Gambut_yang_Efektif_Studi_Kasus_di_Riau_Sumatera_Indonesia

  • https://gaw-bariri.bmkg.go.id/publikasi/artikel/527-pengaruh-el-nino-terhadap-kualitas-udara-penyebab-ciri-dan-cara-menghadapinya

  • https://indonesia.wetlands.org/id/el-nino-dan-perubahan-iklim-tingkatkan-risiko-kebakaran-gambut-di-indonesia-diperlukan-aksi-nyata/