Konten dari Pengguna

Kompetisi Cerdas Cermat JSN 2026 Dorong Anak Muda Mengenal Perlindungan Satwa

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dimas Rahmat Naufal Wardhana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cerdas Cermat JSN 2026 di Taman Mini Indonesia Indah (Dok. Pribadi/Dimas Rahmat Naufal Wardhana)
zoom-in-whitePerbesar
Cerdas Cermat JSN 2026 di Taman Mini Indonesia Indah (Dok. Pribadi/Dimas Rahmat Naufal Wardhana)

Pernah nggak sih kita mikir, bagaimana caranya anak-anak zaman sekarang bisa benar-benar kenal satwa Indonesia dan mengajarkan pentingnya perlindungan satwa? Bukan cuma lewat gambar di buku pelajaran atau video di YouTube, tapi beneran lihat, merasakan, nanya langsung, bahkan nemuin sendiri bagaimana sebuah ekosistem bekerja.

Nah, semangat itulah yang coba diwujudkan lewat program Cerdas Cermat Jagat Satwa Nusantara 2026. Sebuah ruang pertemuan antara pendidikan, lingkungan, dan generasi muda buat mengenal sekaligus membangun kepedulian terhadap satwa Indonesia.

Program ini sebenernya bukan cuma soal lomba buat cari juara. Lebih dari itu, Cerdas Cermat Jagat Satwa Nusantara jadi bagian dari upaya pembelajaran berkelanjutan tentang keanekaragaman hayati.

Anak-anak diajak buat ngebangun rasa ingin tahu, kreativitas, sikap suportif, ditambah pemahaman bahwa keberadaan satwa punya hubungan erat sama kehidupan manusia dan lingkungan.

Direktur Jagat Satwa Nusantara, Rumpoko Hadi, menjelaskan ada dua pendekatan yang dipakai supaya anak-anak bisa belajar lebih nyata. Pembelajaran nggak cuma berlangsung di ruang kelas, tapi juga bawa mereka buat ngerasain langsung kondisi lapangan.

Menurutnya, pengalaman itu penting banget buat ngenalin ekologi, lingkungan, dan ekosistem secara lebih dekat. Dengan lihat objek secara langsung, pengetahuan yang didapat anak nggak berhenti jadi hafalan, tapi bisa berkembang jadi pemahaman yang lebih kontekstual.

"Kami ingin program dan kompetisi ini mengajarkan kreativitas, suportif, sekaligus mendekatkan mereka dengan keanekaragaman hayati dan mengenalkan satwa kepada anak-anak muda," ujar Rumpoko.

Kompetisi ini nggak fokus cuma ke kemampuan peserta jawab pertanyaan dengan cepat. Ada pembelajaran yang lebih panjang, yakni ngebangun pemahaman dan kepedulian terhadap keberlanjutan keanekaragaman hayati.

Ratri Paramitha Menyampaikan di Kegiatan Cerdas Cermat JSN 2026 (Dok. Pribadi/Dimas Rahmat Naufal Wardhana)

Gagasan yang sama disampaikan Ratri Paramitha, Direktur Utama PT Bhumi Visatanda TMII. Ia jelasin bahwa kompetisi Cerdas Cermat Jagat Satwa Nusantara dihadirkan supaya pengetahuan tentang satwa nggak hilang di tengah perkembangan zaman.

Anak-anak perlu punya kesempatan buat kenal satwa secara langsung, memahami keanekaragaman hayati, dan tahu kenapa konservasi perlu dilakukan.

Bagi Ratri, visi ini nggak bisa jalan sendirian. Dibutuhin kolaborasi antara berbagai pihak, mulai dari Kementerian Pendidikan, TMII, media, sampai komunitas lingkungan.

Kolaborasi jadi bagian penting supaya pendidikan soal satwa nggak berhenti di satu kegiatan, tapi bisa berkembang jadi gerakan pembelajaran yang berkelanjutan.

"Kompetisi ini bukan hanya soal visi dan misi, tetapi juga kolaborasi yang berkelanjutan untuk mendukung anak-anak muda memperoleh pengetahuan tentang satwa dan keanekaragaman hayati," jelasnya.

Sementara itu, Prof. Maila melihat Jagat Satwa Nusantara sebagai ruang belajar yang punya potensi besar buat nguatin pembelajaran berbasis sains, teknologi, teknik, dan matematika alias STEM.

Jagat Satwa Nusantara yang terdiri atas berbagai ruang edukasi satwa, termasuk taman burung dan museum, dinilai bisa jadi laboratorium pembelajaran yang hidup.

Pendekatan itu bikin proses belajar nggak harus selalu berlangsung di laboratorium sekolah. Anak-anak bisa ngamati langsung lingkungan yang ada di TMII, lalu gali pertanyaan dari apa yang mereka lihat.

Misalnya, bentuk paruh burung yang beda-beda bisa jadi pintu masuk buat bahas bagaimana burung cari makanan. Dari situ, pembelajaran bisa berkembang ke pertanyaan lain menjadi di mana burung itu hidup, bagaimana ekosistemnya, dan kenapa karakteristik tiap satwa bisa berbeda.

Menurut Prof. Maila, pendekatan pembelajaran mendalam kayak gitu ngebantu anak memahami bukan cuma "apa," tapi juga "mengapa." Dengan begitu, pengetahuan tentang satwa bisa terasa lebih bermakna karena berangkat dari pengalaman yang mereka lihat sendiri.

Dari sisi sekolah, semangat itu juga dirasakan sama Rizkia, Kepala Sekolah SD Global Islamic Labschool. Ia cerita bahwa perjalanan peserta menuju kompetisi dimulai dari proses penyisihan di sekolah. Bagi para siswa, kesempatan ikut perlombaan jadi motivasi buat belajar dan berani mencoba.

Sejak awal, kompetisi nggak ditempatkan cuma sebagai ajang buat bawa pulang piala. Yang lebih penting adalah bagaimana anak dapat pengalaman, pengetahuan, dan rasa percaya diri selama ikut prosesnya.

"Awalnya kompetisi bukan untuk menang, tetapi untuk mencoba. Harapannya mereka membawa pulang ilmu, pengalaman, dan pengetahuan, bukan hanya piala," ungkap Rizkia.

Rumpoko Hadi Direktur JSN 2026 Menjelaskan Kompetisi Cerdas Cermat (Dok. Pribadi/Dimas Rahmat Naufal Wardhana)

Harapan itu sejalan sama roadmap Jagat Satwa Nusantara yang buka ruang lebih besar buat kolaborasi. Keterlibatan komunitas jadi salah satu unsur penting buat ngebangun inklusivitas, memperkaya konten, serta mengembangkan beragam kegiatan pembelajaran konservasi.

Pada penyelenggaraan 2026, Cerdas Cermat Jagat Satwa Nusantara menargetkan keterlibatan 36 sekolah dengan 172 peserta. Registrasi dijadwalkan berlangsung pada September hingga Oktober, dengan sejumlah penyempurnaan teknis dibandingkan tahun sebelumnya.

Pemilihan format cerdas cermat sendiri berangkat dari kebutuhan buat menghadirkan inisiatif yang berkaitan dengan keberlanjutan. Sustainability nggak cuma ngomongin lingkungan, tapi juga nyentuh aspek sosial dan bagaimana pengetahuan ditanamkan ke generasi penerus.

Kesadaran lingkungan, pada akhirnya, perlu dimulai dari hal sederhana. Anak-anak perlu kenal dulu, terus paham, tumbuhin minat, dan perlahan bangun keinginan buat berkontribusi.

Dari proses belajar itulah kebiasaan bisa terbentuk. Sesuatu yang awalnya dilakukan karena tuntutan bisa berubah jadi disiplin, lalu berkembang jadi kebiasaan. Pada titik berikutnya, kepedulian atau sikap caring bisa tumbuh dari inisiatif pribadi.

Lewat Cerdas Cermat Jagat Satwa Nusantara 2026, pembelajaran konservasi pengin ditempatkan sebagai pengalaman yang hidup. Anak-anak bukan cuma diajak tahu nama dan jenis satwa, tapi juga memahami hubungan mereka dengan ekosistem dan masa depan lingkungan.

Sebab, menjaga keanekaragaman hayati nggak dimulai ketika seseorang sudah dewasa. Ia bisa tumbuh sejak seorang anak mulai bertanya, mengamati, dan merasa bahwa satwa serta lingkungan di sekitarnya adalah bagian penting dari kehidupan.