Konten dari Pengguna

Komunitas Trash Ranger ajak Anak Muda Bersatu Lawan Sampah di WCD Jabar

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dimas Rahmat Naufal Wardhana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Trash Ranger ajak Anak Muda lawan sampah di WCD Jabar (Dok. Tim WCD Jabar/World Cleanup Day Jawa Barat)
zoom-in-whitePerbesar
Trash Ranger ajak Anak Muda lawan sampah di WCD Jabar (Dok. Tim WCD Jabar/World Cleanup Day Jawa Barat)

Keseruan World Cleanup Day Jabar di Alun-Alun Kabupaten Purwakarta ada yang menarik dari kerumunan anak muda. Mereka nggak datang buat nongkrong atau foto-foto. Mereka datang buat dengerin dan ngobrolin soal sampah.

Diskusi anak muda dengan komunitas tentang "Trash to Action, Saatnya Pemuda Ambil Aksi!" menjadi keseruan dan cerita tentang kelola sampah di Purwakarta. Banyak anak muda puncak World Cleanup Day Jawa Barat 2026.

Bicara soal angka di Jawa Barat menghasilkan 6,1 juta ton sampah sepanjang 2026. Timbulan hariannya mencapai 16.000 ton lebih. Dari total sampah nasional yang diperkirakan tembus 51,8 juta ton di tahun yang sama, sekitar 75 persen belum terkelola dengan baik.

Di Purwakarta sendiri, kapasitas pengolahan sampah baru mencapai 450 ton per hari. Jauh banget kan jarak antara yang dihasilkan sama yang mampu dikelola? Nah, talkshow ini hadir bukan buat takut-takut. Tapi buat ngajak kita semua berdiskusi perihal apa yang bisa kita lakuin, mulai dari sekarang, mulai dari diri sendiri?

Di antara pembicara yang hadir, ada nama Dimas Dwi Pangestu, Founder Trash Ranger Indonesia. Ia selalu gaungkan bebas sampah dan melawan sampah. Gaya bicaranya sederhana, kadang diselingi tawa, tapi pesannya ngena banget.

Dimas mulai dengan sebuah pengakuan yang jujur. "Kita berdosa atas kematian mereka. Kita juga bagian atas kematian mereka. Karena tanpa kita sadar, udara yang kita hirup, makanan yang kita makan, tanah yang kita pijak, bahkan air yang kita minum itu semuanya diberikan secara gratis oleh alam kita."

Kalimat itu bukan buat bikin kita merasa bersalah tanpa arah. Bagi Dimas, rasa bersalah itu titik awal, bukan akhir. Trash Ranger sendiri lahir dari kesadaran bahwa manusia sering gagal menjaga ruang hidupnya.

Berangkat dari kegagalan itu, muncul keinginan buat bergerak. "Mari bergerak, ayo berdampak. Let's move, let's make an impact," ujarnya, menyulamkan filosofi yang jadi napas komunitasnya.

Salah satu hal gagasan Dimas saat ngomng tentang kejujurannya soal kelemahan gerakan lingkungan selama ini. Ia nggak segan nyebut bahwa banyak program cuma "bersifat ceremony, terlalu bersifat formalitas, dan tidak mengedepankan keberlanjutan."

Dimas juga menyampaikan bahayanya obsesi pada angka target ribuan peserta, ratusan unggahan yang kadang nglupain perubahan perilaku yang nyata.

"Terkadang kita terlalu berambisi untuk mengubah hal besar, sampai lupa ada hal kecil yang bisa kita lakukan," katanya. Pesan ini sederhana, tapi dalem.

Kita sering nunggu momen besar buat berubah, padahal perubahan bisa dimulai dari milah sampah di rumah sendiri, bawa tumbler ke mana-mana, atau sekadar nggak buang puntung rokok sembarangan.

Di sesi talkshow, Dimas juga nyentuh topik yang jarang dibicarain di forum-forum lingkungan. Dia lihat bahwa isu sampah dan krisis iklim bukan cuma masalah, tapi juga peluang kerja buat anak muda.

Pandangan Dimas sangat menarik soal green jobs "Sebenarnya pekerjaan itu sama. Hanya saja trennya bergeser. Yang awalnya pekerjaan konvensional, jadi pekerjaan informal," ujarnya.

BPNAS bahkan menggambarkan penciptaan 4,4 juta pekerjaan hijau pada 2030. Tapi ada tantangan besar dimulai kesenjangan keterampilan, akses pendidikan yang belum merata, dan informasi kerja hijau yang terkonsentrasi di kota-kota besar.

Nah, di sinilah Trash Ranger memposisikan diri sebagai jembatan komunikasi bukan cuma komunitas relawan, tapi ruang persiapan sumber daya manusia yang adaptif.

Salah satu hal yang bikin talkshow ini terasa beda adalah penekanan pada kolaborasi. Dimas nyebut pendekatan pentahelix dari pemerintah, akademisi, masyarakat, media, dan swasta sebagai fondasi gerakan yang berkelanjutan.

Dimas percaya bahwa nggak ada satu pihak yang bisa nyelesaiin masalah sampah sendirian. Ini sejalan dengan apa yang terjadi di lapangan.

World Cleanup Day Jawa Barat 2026 sendiri melibatkan 566 sekolah dari 26 kabupaten/kota dengan total 438.079 peserta. Angka itu bukan sekadar statistik. Itu bukti bahwa ketika berbagai elemen bergerak bersama, dampaknya bisa sangat luas.

Talkshow ini berlangsung cuma dua jam, dari pukul 10.00 sampai 12.00 WIB. Tapi pesannya akan terus bergema jauh setelah acara selesai. Di akhir sesi, ada tanya jawab peserta.

Kegiatan ini begitu semarak dari antusiasme yang tulus dari anak-anak muda yang hadir. Mereka nanya tentang cara memulai komunitas, tentang tantangan menjaga konsistensi, tentang bagaimana menjadikan isu lingkungan sebagai karier.

Talkshow ini mengingatkan kita pada satu hal saat membentuk perubahan nggak perlu nunggu sempurna. Dimas sendiri ngaku bukan orang yang "jago" di bidang lingkungan.

Ketertarikannya tumbuh dari rasa ingin belajar, dari pengamatan terhadap realitas sosial dan ekologis di sekitarnya. Kalau dia bisa memulai, kita juga bisa.

Seperti yang tertulis dalam filosofi Trash Ranger "Nggak peduli kalian belum jadi siapa pun, kalian bisa berdampak. Asalkan punya satu hal." Satu hal itu adalah kemauan buat bergerak dan dari Purwakarta, gerakan itu sudah dimulai.