Mangrove Menyatukan Anak Muda dalam Mempelajari Makna Penting Lingkungan

Penulis dan Fresh Graduate Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Dimas Rahmat Naufal Wardhana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak cara mencintai lingkungan. Ada yang dimulai dari rumah dengan mengurangi penggunaan plastik. Ada pula yang memilih memilah sampah sebelum membuangnya.
Namun, pagi itu, cara mencintai lingkungan terasa sedikit berbeda. Sejumlah anak muda rela menginjak lumpur pesisir, menggenggam bibit mangrove, lalu menanamnya satu per satu di tanah yang basah.
Tidak ada panggung besar. Tidak ada seremoni yang terasa berjarak. Yang ada hanya anak-anak muda dengan pakaian yang siap kotor dan rasa ingin tahu tentang apa yang sebenarnya bisa dilakukan untuk alam.
Suasana seperti itulah yang terasa dalam Ocean Wave 2026, kegiatan yang diinisiasi Trash Ranger Indonesia di Wisata Mangrove Karangantu, Banten.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Trace Fest yang mengajak generasi muda mengenal lingkungan bukan hanya melalui percakapan, tetapi juga melalui pengalaman langsung.
Kegiatan ini menarik 35 anak muda. Mereka datang dari latar belakang yang berbeda. Ada yang sudah terbiasa mengikuti kegiatan lingkungan, tetapi ada pula yang baru pertama kali berhadapan langsung dengan kawasan mangrove.
Sebelum turun ke pesisir terdapat sesi berbagi cerita. Fariz, Community Development Director Trash Ranger Indonesia, membuka kegiatan dengan mengajak peserta melihat mangrove dari sudut pandang yang lebih dekat.
Mangrove bukan sekadar pohon yang tumbuh di pinggir laut. Di balik akar-akarnya terdapat kehidupan yang saling terhubung. Kegiatan ini bertujuan untuk mempelajari lebih dalam tentang mangrove.
Setelah itu, cerita berganti kepada Luthfia Rosvadiana dari Generasi Energi Bersih dan Ribkhi Aganta, Founder Rangers For Clean. Percakapan yang dipandu Dhimas Nugroho berjalan tanpa suasana yang kaku. Cerita demi cerita mengalir dari pengalaman mereka ketika berhadapan dengan persoalan lingkungan di berbagai tempat.
Ada cerita tentang kawasan mangrove di Cirebon yang perlahan kembali hidup melalui kolaborasi masyarakat. Ada pula pengalaman membangun gerakan pengelolaan sampah di Banten.
Dari sana muncul satu kesadaran sederhana: persoalan lingkungan memang besar, tetapi bukan berarti manusia tidak bisa melakukan apa-apa. Kadang, perubahan justru dimulai dari kegelisahan yang sederhana.
Merasa terganggu melihat sampah. Merasa khawatir ketika mangrove semakin berkurang. Merasa tidak nyaman ketika lingkungan yang menjadi tempat tinggal perlahan rusak. Kegelisahan itu kemudian menemukan bentuk ketika ada orang-orang yang memilih tidak hanya membicarakannya.
Setelah sesi berbagi selesai, peserta mulai bergerak menuju kawasan pesisir. Di sinilah suasana berubah. Lumpur mulai menempel di alas kaki. Bibit mangrove dibawa menuju area rehabilitasi.
Peserta kemudian dibagi menjadi sepuluh kelompok yang masing-masing terdiri atas tiga hingga empat orang. Setiap kelompok mendapatkan 15 bibit mangrove untuk ditanam.
Tidak semua peserta terbiasa dengan tanah berlumpur. Ada yang harus berhati-hati melangkah. Ada pula yang sibuk memastikan bibit yang dipegang tidak rusak sebelum masuk ke tanah.
Namun, tidak ada yang benar-benar mempermasalahkan pakaian kotor. Satu per satu bibit ditanam. Mungkin jumlahnya terlihat kecil jika dibandingkan dengan luas kawasan pesisir Indonesia.
Setiap bibit membawa cerita. Ada yang ditanam oleh mahasiswa, relawan komunitas, dan anak muda yang baru pertama kali mengenal mangrove secara langsung.
Setelah bibit berada di tanah, tidak ada perubahan besar yang langsung terlihat. Tidak ada pohon tinggi yang tiba-tiba muncul. Tidak ada kawasan pesisir yang seketika menjadi hijau.
Hanya ada bibit kecil yang berdiri di antara lumpur. Namun, justru di situlah maknanya. Mangrove membutuhkan waktu untuk tumbuh. Akar-akarnya kelak membantu menahan abrasi, menjadi tempat hidup berbagai biota, serta berperan dalam menyerap karbon.
Sesuatu yang terlihat kecil hari ini dapat memberikan manfaat yang jauh lebih besar ketika diberi kesempatan untuk tumbuh.
Indonesia sendiri dikenal memiliki kawasan mangrove yang luas. Namun, ekosistem tersebut tetap menghadapi berbagai tekanan, mulai dari pencemaran, alih fungsi lahan, hingga kerusakan kawasan pesisir. Karena itu, rehabilitasi mangrove menjadi bagian penting dari upaya menjaga keberlanjutan lingkungan.
Di tengah kegiatan tersebut, Palm is Not My ID (PINMID) turut berbagi cerita mengenai kolaborasi lintas negara dalam mendukung gerakan lingkungan di Indonesia. Cerita itu kembali menunjukkan bahwa kepedulian terhadap alam tidak mengenal batas wilayah.
Ketika lingkungan membutuhkan perhatian, siapa pun bisa mengambil bagian. Sore perlahan datang. Kegiatan mulai berakhir. Lumpur masih menempel di kaki, sementara bibit-bibit mangrove telah berdiri di tempatnya masing-masing.
Tidak ada yang tahu seperti apa bentuk pohon-pohon itu lima atau sepuluh tahun mendatang. Mungkin akan tumbuh tinggi. Mungkin akan menjadi tempat berlindung bagi biota pesisir.
Mungkin pula suatu hari ada orang lain yang berdiri di bawah rindangnya pohon tersebut tanpa pernah mengetahui siapa yang menanamnya.
Namun, bukankah memang begitu cara kerja sebuah kebaikan? Tidak selalu terlihat hasilnya hari ini. Tidak selalu diketahui siapa yang akan merasakan manfaatnya.
Kegiatan Ocean Wave akhirnya bukan hanya tentang menanam mangrove. Ada sesuatu yang lebih sederhana yang dibawa pulang seperti adanya rasa kesadaran bahwa menjaga lingkungan tidak harus dimulai dengan sesuatu yang luar biasa.
Terkadang cukup dengan bersedia turun ke lumpur, menggenggam satu bibit, menanamnya dengan hati-hati, lalu percaya bahwa alam masih memiliki kesempatan untuk tumbuh kembali. Selama masih ada orang-orang yang bersedia merawatnya bersama.
