Konten dari Pengguna

Minyak Jelantah Menuju Biosolar: Pemanfaatan Limbah Rumah Tangga di Indonesia

Dimas Rahmat Naufal Wardhana

Dimas Rahmat Naufal Wardhana

Penulis dan Fresh Graduate Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Jakarta

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dimas Rahmat Naufal Wardhana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Minyak Jelantah, (Gambar: https://www.pexels.com/photo/spring-rolls-frying-in-hot-oil-close-up-29037271/)
zoom-in-whitePerbesar
Minyak Jelantah, (Gambar: https://www.pexels.com/photo/spring-rolls-frying-in-hot-oil-close-up-29037271/)

Bayangkan, minyak goreng bekas atau minyak jelantah yang selama ini kita anggap sebagai limbah rumah tangga yang mengganggu, ternyata menyimpan potensi energi yang luar biasa. Di tengah gempuran harga energi global yang fluktuatif dan isu perubahan iklim yang semakin mendesak, minyak jelantah hadir sebagai sebuah solusi yang elegan, mengubah masalah lingkungan menjadi sumber energi alternatif yang menjanjikan.

Di Indonesia, pemanfaatan minyak jelantah untuk biosolar bukan lagi sekadar wacana, melainkan sebuah gerakan yang didukung oleh data dan fakta riset terbaru, serta kebijakan strategis nasional. Pembahasan ini akan mengajak kita untuk menyelami potensi besar limbah dapur ini.

Kapan Biosolar B50 Dimulai? Momentum Tepat untuk Minyak Jelantah

Dikutip dari laman resmi CNN Indonesia, pemerintah telah menetapkan bahwa mandatori biosolar B50 akan resmi berlaku mulai 1 Juli 2026. Kebijakan ini merupakan eskalasi dari B40 yang sudah berjalan sejak 1 Januari 2025.

Langkah ini diharapkan mampu mengurangi konsumsi BBM fosil hingga 4 juta kiloliter per tahun dan menghemat anggaran subsidi negara sekitar Rp48 triliun.

Bagi minyak jelantah, momentum ini membuka peluang besar sebagai bahan baku alternatif atau campuran, mendukung target pengurangan impor solar dan menekan emisi karbon nasional.

B50: Langkah Strategis Mengurangi Impor Solar

Kebijakan B50 adalah bagian dari target ambisius Indonesia untuk menghentikan impor solar. Dikutip dari laman resmi Media Indonesia, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebutkan bahwa pada tahun 2025, impor solar berhasil ditekan hingga tidak lebih dari 5 juta kiloliter, turun signifikan dari 8,3 juta kiloliter pada 2024.

Target selanjutnya adalah bebas impor solar pada 2026 melalui implementasi B50. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah membutuhkan pasokan bahan bakar nabati dalam jumlah besar, dan di sinilah minyak jelantah berperan sebagai second feedstock yang ideal.

Potensi Besar Minyak Jelantah sebagai Bahan Baku Alternatif

Dikutip dari kajian awal TNP2K dan Traction Energy Asia (2020) , konsumsi minyak goreng sawit nasional pada 2019 mencapai 16,2 juta kiloliter. Dari angka itu, rata-rata minyak jelantah yang dihasilkan diperkirakan 40–60 persen, atau setara dengan 6,46 hingga 9,72 juta kiloliter per tahun. Ini adalah potensi teoretis yang sangat besar—hampir sepuluh juta kiloliter limbah dapur yang bisa disulap menjadi energi.

Namun, dikutip dari laman resmi Kementerian ESDM, realitas di lapangan jauh berbeda. Minyak jelantah yang benar-benar berhasil dikumpulkan baru mencapai sekitar 3 juta kiloliter per tahun, hanya 18,5 persen dari total konsumsi. Artinya, lebih dari 80 persen potensi terbuang sia-sia—dibuang ke saluran air, berakhir di TPA, atau digunakan ulang secara tidak aman.

Seperti yang disampaikan oleh Subkoordinator Keteknikan Bioenergi Kementerian ESDM, Hudha Wijayanto, dari 3 juta kiloliter yang terkumpul tersebut, sebenarnya memiliki kapasitas untuk memenuhi hingga 32 persen kebutuhan biodiesel nasional.

Angka ini menunjukkan bahwa minyak jelantah bukanlah sekadar limbah kecil, melainkan komoditas energi yang sangat potensial dan strategis.

Sayangnya, dari jumlah yang terkumpul itu pun, hanya sebagian kecil yang benar-benar dikonversi menjadi biodiesel. Sebagian besar justru digunakan untuk minyak goreng daur ulang yang membahayakan kesehatan atau diekspor ke luar negeri dalam bentuk mentah.

Jadi, potensi minyak jelantah Indonesia sangat besar—hampir 10 juta kiloliter per tahun secara teoretis. Namun, tantangan utamanya terletak pada sistem pengumpulan yang belum terstruktur, sehingga yang berhasil dimanfaatkan baru sekitar 3 juta kiloliter. Ini adalah ironi sekaligus peluang besar.

Kontribusi Signifikan terhadap Pengurangan Emisi Karbon

Selain aspek ekonomi, minyak jelantah juga menjadi solusi strategis untuk masalah lingkungan. Efektivitas kebijakan biodiesel telah terbukti pada implementasi B40 sebelumnya. Dikutip dari laman resmi ANTARA News, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa B40 berhasil mengurangi impor solar sebesar 3,3 juta kiloliter dan menekan emisi hingga 38,88 juta ton CO₂ ekuivalen.

Kemudian dikutip dari laman Kementerian ESDM, kebijakan biodiesel tahun 2025 juga berhasil menghemat devisa sebesar Rp130,21 triliun.

Transformasi Limbah Dapur Jadi Bahan Bakar Mesin: Kisah dari ITK

Sebuah kabar baik datang dari Kalimantan Timur. Dikutip dari laman resmi Institut Teknologi Kalimantan (ITK) , untuk pertama kalinya Sekolah Kastrat di ITK menginisiasi program "Dari Limbah Dapur ke Tangki: Transformasi Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar Mesin".

Program ini melibatkan mahasiswa dan masyarakat mengolah minyak jelantah dari rumah makan dan dapur rumah tangga menjadi biodiesel skala kecil.

Hasilnya, limbah cair pencemar berhasil dikonversi menjadi bahan bakar untuk mesin sederhana. Penelitian ITK juga menyebutkan penurunan emisi gas rumah kaca hingga 85 persen dari penggunaan biodiesel minyak jelantah.

Riset Katalis Canggih dari Undip: Konversi hingga 97 Persen

Salah satu tantangan teknis dalam mengolah minyak jelantah adalah kadar asam lemak bebasnya yang tinggi. Namun, sebuah studi dari Universitas Diponegoro (Undip) yang dipublikasikan di laman penelitian tesis Undip berhasil menemukan terobosan.

Peneliti mensintesis komposit Fe₃O₄/H-Zeolit sebagai katalis dalam proses transesterifikasi. Hasilnya? Tingkat konversi minyak jelantah menjadi biodiesel mencapai lebih dari 97,42 persen dalam kondisi optimal. Ini adalah kabar baik bagi industri pengolahan minyak jelantah skala besar, karena efisiensi konversi yang tinggi berarti limbah yang terbuang semakin sedikit.

Uji Mesin Nyata dari UMY: Campuran B35 dan B55 Terbukti Andal

Tidak hanya di laboratorium, sebuah studi yang dimuat dalam prosiding Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menguji campuran biosolar dari minyak jelantah (disebut JME atau Jelantah Methyl Ester) pada mesin diesel sungguhan.

Hasilnya menunjukkan bahwa campuran B35 dan B55 memiliki performa yang sebanding, bahkan unggul dalam beberapa aspek dibandingkan solar murni.

Efisiensi termal tertinggi justru dicapai pada campuran B35, yaitu 25,57 persen, sementara solar murni hanya mencapai 15,19 persen. Artinya, biosolar dari minyak jelantah tidak hanya lebih ramah lingkungan tetapi juga lebih efisien dalam menghasilkan tenaga.

Sumber Referensi:

  • https://gorontalo.antaranews.com/berita/378409/b40-pangkas-impor-solar-dan-tekan-emisi-hingga-3888-juta-ton-co2e

  • https://itk.ac.id/untuk-pertama-kalinya-sekolah-kastrat-hadir-di-itk-2/berita/dari-limbah-dapur-ke-tangki-transformasi-minyak-jelantah-jadi-bahan-bakar-mesin

  • https://mediaindonesia.com/ekonomi/859839/bahlil-setop-impor-solar-bikin-importir-sakit-gigi

  • https://esdm.go.id/id/berita-unit/direktorat-jenderal-ebtke/peluang-dan-tantangan-pemanfaatan-biodiesel-berbasis-minyak-jelantah

  • https://www.cnnindonesia.com/otomotif/20260407103256-579-1345035/kapan-biodiesel-b50-dimulai-di-indonesia

  • https://www.cnbcindonesia.com/opini/20250711145715-14-648384/revolusi-minyak-jelantah-energi-bersih-dari-dapur?mtype=mpt.ctr-boxccxmpcxmp-modelB

  • https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/45456/

  • https://prosiding.umy.ac.id/semnasagriumy/index.php/ag/article/view/143

  • https://esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/minyak-jelantah-sebuah-potensi-bisnis-energi-yang-menjanjikan