Konten dari Pengguna

Pertemuan Komunitas Lingkungan Bicara Transisi Energi Terbarukan dan Berkeadilan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dimas Rahmat Naufal Wardhana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pertemuan Community Gathering Generasi Energi Bersih bicara Transisi Energi (Dok. pribadi/Dimas Rahmat Naufal Wardhana)
zoom-in-whitePerbesar
Pertemuan Community Gathering Generasi Energi Bersih bicara Transisi Energi (Dok. pribadi/Dimas Rahmat Naufal Wardhana)

Sabtu kemarin, tepatnya 3 Oktober 2026, aku menghabiskan waktu di Perpustakaan Nyi Ageng Serang menghadiri Community Gathering yang digelar oleh Generasi Energi Bersih.

Suasananya hangat banget, dipenuhi anak-anak muda dari berbagai komunitas lingkungan dan ada juga dari komunitas non lingkungan. Temanya tentang "Bersama lebih kuat, bergerak lebih jauh." Rasanya seperti pulang ke rumah sendiri, di mana semua orang punya semangat yang sama untuk bumi.

Kegiatan dibuka dengan insightful panel discussion bertajuk "Dari tahu menjadi mampu". Ada Ibu Sulistio Rini dari pihak perpustakaan yang menyampaikan bahwa kolaborasi ini menjadi ruang berbagi diskusi.

Menurut beliau, kehadiran perpustakaan makin memperkuat ruang untuk belajar dan bertumbuh. Lalu, Kak Zikra, Campaign Specialist, menambahkan bahwa gathering ini tidak hanya fokus pada lingkungan.

Kita diajak memposisikan diri dengan sudut pandang masing-masing. Ada teman-teman yang datang untuk mengetahui dan belajar mengenai krisis iklim, dan itu sangat diterima. Targetnya besar untuk mencapai gerakan bersama, menekan emisi, mendorong kebijakan yang berpihak, dan menyatukan suara kolektif.

Serunya lagi, sebelum masuk ke materi inti, para peserta diajak main games dengan tiga pertanyaan pemantik. Kami diminta memahami apa itu transisi energi, seberapa tahu kami soal krisis iklim, dan dari mana biasanya kami mendapat informasi.

Jawabannya beragam, kebanyakan jawaban mengetahui krisis iklim dari media sosial, media online, sampai obrolan sehari-hari. Permainan ini sukses mencairkan suasana dan bikin lebih terbuka dan sangat seru.

Masuk ke diskusi utama, ada dua pembicara keren yang berbagi ilmu. Pertama, Khalifah, Project Manager ASRI (Akademi Sekolah Lestari) dari Sustainability & ESG Movement Kompas Gramedia. ASRI Academy fokus pada literasi isu lingkungan. Sasaran mereka adalah SMA/SMK.

Mereka menyadari bahwa siswa sekolah telah bosan dengan pelajaran. Karena itu, ASRI Academy menggunakan video dan konten yang menarik sebagai media pembelajaran; konten ini kemudian digunakan dalam proyek nyata.

Selain memberikan informasi, tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk beradaptasi, bekerja sama, dan menyelesaikan masalah yang kompleks.

Proyek dan gagasan keberlanjutan didorong oleh program Goes to School, ASRI Awards, dan kontes. Sangat menarik bahwa materi yang diberikan bersifat konseptual, mencakup literasi berkelanjutan dan mendorong siswa untuk meningkatkan karir mereka dalam masalah lingkungan.

Kesulitan yang dimiliki siswa secara garis terbesar adalah tetap konsisten dalam mengerjakan proyek di tengah jadwal pelajaran yang padat.

Pembicara kedua, Ilham Maulana, National Chairperson GenB Indonesia, benar-benar mengubah cara pandang kita. Ia mengajak kami menerjemahkan hal yang sulit menjadi mudah dipahami. Ilham mengajak kami berubah sudut pandang mengenai sumber listrik.

Ternyata, masih 80% listrik kita menggunakan batu bara. Hasil pembakarannya menghasilkan karbon. Lalu, dia menyentuh hal yang jarang kita sadari yaitu makanan.

Daging dan susu yang kita makan setiap hari. Ternyata di prosesnya sangat panjang mulai dari logistik hingga memasak. Setiap proses memiliki emisi dari energi dan kendaraannya.

Emisi itu bukan hanya gas buang kendaraan. Di peternakan, ada zat metana yang dampaknya lebih besar dari CO2, walau CO2 juga tetap buruk. Ilham mengajak kami melihat bahwa semuanya jauh lebih kompleks.

Ilham juga bercerita saat berkunjung ke Russia. Walau cuaca dingin, ternyata tidak begitu. Tahun ini, malam salju turun, siang salju itu hilang.

Hal ini menjadi sebuah isu besar. Dia melempar pertanyaan reflektif kepada kita supaya sadar dan bergerak mau jadi bagian dari masalah, atau jadi bagian dari solusi? Inilah kesempatan untuk berkontribusi peduli lingkungan.

Pulang dari acara itu, setiap kepala penuh dengan gagasan baru. Kegiatan ini membuat sadar dan ingin menjadi bagian dari solusi bukan cuma soal ikut demonstrasi atau posting di media sosial.

Kegiatan pertemuan komunitas yang di isi anak-anak muda mempersatukan pemikiran dan kepedulian dengan adanya Koalisi Indonesia Bebas Emisi 2050 (KIBE 2050) yang digagas oleh komunitas generasi energi bersih.

Kita butuh wadah seperti Community Gathering ini. Tempat kita belajar dari yang tadinya cuma "tahu", menjadi "mampu" bertindak. Pertemuan ini mengingatkanku bahwa kita tidak sendiri.

Bersama, kita lebih kuat untuk bisa bergerak lebih jauh. Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil, dari obrolan hangat di perpustakaan, hingga proyek nyata di sekolah. Semua hingga diri sendiri pulang membawa satu pertanyaan di kepala yakni apa kontribusi kecilku untuk bumi minggu ini?