Agar Cicilan Tetap Aman Meski Gaji Berhenti di Tengah Jalan
Tulisan dari Atu Kusno Sabastian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Cicilannya cuma Rp2 juta per bulan kok, masih aman." Kalimat seperti ini sering saya dengar ketika seseorang sedang mempertimbangkan mengambil kredit pinjaman. Entah itu untuk rumah, mobil, atau barang elektronik.
Lalu saya biasanya balik bertanya. "Kalau besok kamu tidak lagi digaji bagaimana? Apa kamu tetap bisa bayar cicilan?"
Nah, pertanyaan itu sering kali membuat lawan bicara saya terdiam. Bukan karena cicilannya yang terlalu besar. Namun, karena sebagian besar dari kita memang lebih sering menghitung kemampuan membayar hari ini saja daripada memikirkan kemungkinan yang bisa terjadi beberapa tahun ke depan.
Padahal, cicilan bukan komitmen 1 atau 2 bulan. Ada yang harus dibayar 5 tahun, 10 tahun, bahkan lebih. Dalam rentang waktu selama itu, apalagi dengan kondisi ekonomi seperti sekarang, banyak hal bisa berubah.
Bukan mau menakut-nakuti, justru itulah pentingnya mempersiapkan dengan matang untuk hal yang berurusan dengan “utang”.
Coba Hitung Biaya Lainnya di Luar Cicilan
Jika ditanya berapa proporsi utang maksimal dari pendapatan rutin yang kita punya, sebenarnya ada beberapa pendapat. Namun, saya pernah membahasnya dalam episode Cicilan Masih Jalan, Tapi Ekonomi Mulai Goyang dalam Youtube @hatikuningdotcom, rasio yang aman untuk berutang yaitu, maksimal 30% dari pendapatan rutin.
Dari situ, kita akan mulai menghitung nominal cicilan yang dianggap masih aman. Akan tetapi, yang juga perlu dipikirkan adalah:
"Apa yang membuatmu yakin gaji itu akan tetap sama dua atau tiga tahun lagi?"
"Kalau kondisi keuangan berubah, apakah cicilan ini masih bisa dipertahankan?"
Bukan karena saya mendoakan hal buruk terjadi. Tapi karena kondisi ekonomi memang berubah. Perusahaan bisa melakukan efisiensi kapan pun. Target pekerjaan bisa berubah tak masuk akal.
Bonus juga bisa saja hilang. Bahkan, orang yang performanya bagus pun bisa terdampak situasi bisnis. Artinya, kemampuan membayar cicilan bukan hanya ditentukan oleh penghasilan hari ini.
Maka dari itu, sebelum mengambil cicilan, jangan hanya menghitung apakah angkanya masuk dalam rasio 30%. Hitung juga total bunga yang akan dibayar, ruang di cash flow untuk “bernapas”, dan seberapa besar kemampuan kamu bertahan kalau kondisinya tiba-tiba berubah.
3 Pertanyaan Sebelum Mengambil Cicilan
Kalau kamu sedang mempertimbangkan mengambil cicilan, coba jawab terlebih dahulu 3 pertanyaan ini:
Kalau 3 bulan tidak menerima gaji, cicilanmu masih aman?
Kalau penghasilan turun 20–30%, pengeluaran apa yang akan kamu kurangi lebih dulu?
Kalau pekerjaanmu hilang dan harus mencari pekerjaan baru, seberapa lama dana yang kamu miliki bisa membayar cicilan?
Kalau kamu masih ragu menjawabnya, mungkin kamu perlu sedikit waktu lagi untuk memperkuat fondasi keuanganmu. Bisa dengan menambah dana darurat atau memperbaiki cash flow.
Karena tujuan memiliki cicilan bukan sekadar bisa membayar bulan depan. Tujuannya adalah bisa menjalaninya dengan tenang sampai lunas.
Jangan Bertumpu pada Satu Sumber Penghasilan
Tidak sedikit orang punya cicilan jangka panjang tapi hanya bergantung pada satu sumber penghasilan. Tidak ada dana darurat. Tidak ada tabungan. Tidak ada ruang di anggaran bulanan.
Kalau semua berjalan lancar, mungkin tidak ada masalah. Kamu tetap bisa menjalani hari-hari seperti biasa. Tapi hidup jarang selalu berjalan sesuai rencana, toh? Kita hidup di masa ketika perubahan bisa datang lebih cepat dari yang kita bayangkan.
Bukan berarti kamu harus memforsir diri dengan punya banyak pekerjaan sekaligus. Namun, ada baiknya mulai memikirkan cadangan.
Bisa berupa dana darurat, tabungan, atau penghasilan tambahan yang memang disiapkan sebagai bantalan ketika kondisi tidak berjalan sesuai rencana.
Kamu perlu ingat bahwa cicilan tidak akan berhenti atau bahkan memaklumi saat kita sedang mengalami masa sulit. Karena itu, yang perlu dipersiapkan bukan hanya cara mengambil cicilan, tetapi juga cara mempertahankannya.
Kalau Mulai Kesulitan, Jangan Tunggu Sampai Tunggakan Menggunung
Pesan saya, jika suatu hari nanti kamu mulai merasa kesulitan membayar, hubungi pihak bank atau lembaga pembiayaan, jangan pernah menghilang.
Dalam buku yang saya tulis “Lulus Cumlaude Mempersiapkan Fondasi Keuangan”, saya katakan bahwa dalam kondisi “terjebak”, bernegosiasilah dengan pemberi pinjaman.
Ceritakan kondisinya dan diskusikan beberapa opsi solusinya. Misalnya memperpanjang waktu pinjaman sehingga jumlah cicilan lebih kecil. Langkah ini jauh lebih baik daripada membiarkan tunggakan terus bertambah.
Intinya, tidak ada yang salah dengan mengambil cicilan. Yang perlu dihindari adalah mengambilnya tanpa rencana.
Jadi, sebelum menandatangani perjanjian kredit, pastikan kamu bukan hanya siap membayar cicilan bulan depan, tetapi juga siap menghadapi berbagai kemungkinan hingga cicilan itu benar-benar lunas.
Karena fondasi keuangan yang baik itu juga dibangun dari keputusan-keputusan kecil yang dipikirkan dengan matang.

