Anak Pintar Belum Tentu Siap Menghadapi Kehidupan

Dosen Universitas Sanata Dharma
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Apri Damai Sagita Krissandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Anak bisa mendapatkan nilai matematika yang bagus, tetapi belum tentu mampu mengatur uang sakunya. Ia bisa menghafal banyak teori Bahasa Indonesia, tetapi masih kesulitan menyampaikan pendapat dengan jelas. Ia mungkin mahir menggunakan ponsel, tetapi belum tentu mampu membedakan informasi yang benar dan menyesatkan.
Apakah ini berarti anak kurang pintar? Belum tentu. Bisa jadi, selama ini mereka lebih sering berlatih menjawab soal daripada menghadapi persoalan.
Sekolah memang memiliki tugas mengajarkan pengetahuan. Anak perlu belajar membaca, menulis, berhitung, memahami sejarah, dan mengenal ilmu pengetahuan. Namun, pendidikan seharusnya tidak berhenti pada kemampuan menjawab pertanyaan di lembar ujian.
Kehidupan di luar sekolah jauh lebih rumit daripada soal pilihan ganda. Tidak selalu tersedia empat pilihan jawaban, petunjuk pengerjaan, atau guru yang memberi tahu apakah keputusan kita benar.
Karena itu, ada satu hal yang perlu mendapat perhatian: apakah sekolah sudah memberi anak cukup kesempatan untuk berlatih menghadapi kehidupan?
Tidak Semua Hal Bisa Dipelajari dari Buku
Bayangkan seorang murid yang diminta mengelola uang Rp100.000 untuk memenuhi kebutuhan selama beberapa hari. Ia harus menentukan prioritas, membandingkan harga, memperkirakan pengeluaran, dan menyisihkan uang jika diperlukan.
Kegiatan sederhana ini bisa menjadi pelajaran matematika sekaligus latihan mengambil keputusan. Anak belajar bahwa uang yang terbatas mengharuskan seseorang menentukan mana yang paling penting.
Contoh lainnya, murid diminta memilih antara memperbaiki perpustakaan kelas atau membeli perangkat digital baru. Keduanya memiliki manfaat. Mereka perlu berdiskusi, mencari informasi, mempertimbangkan kebutuhan teman, lalu menjelaskan pilihan mereka.
Guru tidak harus buru-buru menentukan satu jawaban paling benar. Yang lebih penting adalah membantu murid membangun alasan, menggunakan data, dan mempertimbangkan konsekuensi.
Bukankah kehidupan dewasa juga dipenuhi keputusan seperti itu?
Kita harus menentukan prioritas pengeluaran, memilih pekerjaan, menyelesaikan perbedaan pendapat, dan memeriksa informasi sebelum mempercayainya. Semua membutuhkan pengetahuan, tetapi juga latihan.
Berani Salah, Belajar Memperbaiki
Di sekolah, kesalahan sering kali langsung terlihat dalam bentuk nilai yang berkurang. Padahal, kesalahan juga bisa menjadi pintu masuk untuk belajar.
Ketika murid gagal menyelesaikan proyek kelompok, misalnya, guru dapat mengajak mereka mencari tahu penyebabnya. Apakah pembagian tugas tidak jelas? Apakah mereka kurang berkomunikasi? Apakah rencana awal tidak sesuai dengan keadaan?
Dengan cara ini, kegagalan tidak sekadar menjadi sesuatu yang harus dihindari. Murid belajar mengevaluasi tindakan dan memperbaiki strategi.
Tentu saja, bukan berarti semua kesalahan harus dibiarkan. Anak tetap perlu memahami aturan dan bertanggung jawab atas tindakannya. Namun, sekolah perlu membedakan kesalahan yang menjadi bagian dari proses belajar dan perilaku yang memang harus diperbaiki.
Anak yang tidak pernah diberi kesempatan mencoba mungkin terlihat aman di kelas. Namun, ia bisa kebingungan ketika harus menyelesaikan persoalan tanpa bantuan guru.
Literasi Harus Membantu Anak Memahami Dunia
Hal yang sama berlaku dalam pembelajaran literasi. Bisa membaca dengan lancar merupakan kemampuan dasar, tetapi belum cukup.
Anak juga perlu memahami maksud sebuah teks, mengenali informasi yang meragukan, membandingkan sumber, dan menilai apakah suatu klaim masuk akal.
Ketika membaca iklan, misalnya, mereka perlu memahami bahwa informasi yang disajikan bisa bertujuan membujuk. Ketika membaca berita, mereka perlu bertanya tentang sumber dan bukti. Ketika menerima informasi di media sosial, mereka perlu belajar menahan diri sebelum membagikannya.
Arah ini sejalan dengan kerangka PISA yang menekankan penggunaan, evaluasi, dan refleksi atas informasi untuk menghadapi persoalan kehidupan. Pengetahuan menjadi bermakna ketika seseorang mampu menggunakannya dalam situasi yang berbeda.
Dengan demikian, belajar membaca bukan hanya soal memahami isi buku. Anak juga sedang belajar memahami dunia tempat mereka hidup.
Sekolah Perlu Memberi Pengalaman Nyata
Latihan menghadapi kehidupan tidak harus diwujudkan dalam program besar. Murid bisa belajar memasak, menanam, merawat barang, membuat anggaran kegiatan kelas, membaca petunjuk, atau menyelenggarakan acara sederhana.
Saat memasak, mereka belajar mengukur bahan dan menghitung kebutuhan. Ketika membuat kegiatan kelas, mereka berlatih berkomunikasi, membagi tugas, mengelola anggaran, dan menyelesaikan masalah.
Pelajaran akademik tetap penting. Justru melalui pengalaman seperti inilah anak dapat melihat bahwa matematika, bahasa, dan ilmu pengetahuan memiliki kegunaan nyata.
Sekolah juga tidak harus meniru seluruh persoalan dunia luar. Cukuplah menyediakan lingkungan yang aman agar anak dapat mencoba, berdiskusi, mengambil keputusan, dan memperbaiki kesalahan dengan pendampingan guru.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari seberapa banyak jawaban yang mampu dihasilkan anak. Kita juga perlu melihat apakah mereka mampu menggunakan pengetahuan, mempertimbangkan pilihan, bekerja sama, dan bertanggung jawab.
Anak memang perlu pintar. Namun, mereka juga perlu kesempatan untuk belajar menjalani kehidupan, bukan hanya mempersiapkan diri menghadapi ujian.
