Konten dari Pengguna

Gambaran Sampah Sisa Makanan MBG

Apri Damai Sagita Krissandi

Apri Damai Sagita Krissandi

Dosen Universitas Sanata Dharma

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Apri Damai Sagita Krissandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Potensi sampah makanan MBG mencapai ratusan ribu ton per tahun dan menunjukkan masalah serius dalam pengelolaan program pangan skala besar.

Sampah makanan MBG dalam jumlah besar dari program makan gratis di Indonesia. Foto: Generated by AI
zoom-in-whitePerbesar
Sampah makanan MBG dalam jumlah besar dari program makan gratis di Indonesia. Foto: Generated by AI

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini menghadapi kritik serius terkait potensi sampah makanan MBG yang sangat besar. Dalam kajian Food Waste Management, persoalan food waste dalam program pangan massal sering muncul akibat distribusi yang tidak presisi. Berdasarkan laporan Tempo, angka sampah ini sudah mencapai ratusan ribu ton per tahun.

Angka ini muncul dalam laporan Tempo berjudul “Potensi Sampah Makanan Program Makan Bergizi Gratis 624 Ribu Ton per Tahun” (2025). Masalahnya, angka sebesar itu terlalu abstrak. Ia terdengar besar, tetapi tidak terasa.

Maka mari kita ubah cara melihatnya. Bayangkan satu truk sampah besar mampu mengangkut sekitar 10 ton. Dengan 624 ribu ton makanan terbuang, kita sedang berbicara tentang 62.400 truk sampah penuh setiap tahun. Jika truk-truk itu disusun berjejer, panjangnya bisa mencapai ratusan kilometer—cukup untuk membentang dari Yogyakarta menuju kota-kota lain tanpa putus.

Atau bayangkan satu lapangan sepak bola standar bisa menampung sekitar 1.000–1.500 ton material jika ditumpuk setinggi beberapa meter. Artinya, sampah makanan dari program ini bisa mengisi ratusan lapangan sepak bola dengan gunungan nasi, sayur, dan lauk yang tidak pernah dimakan.

Ilustrasi makanan sisa di tempat pembuangan makanan. Foto: Shutterstock

Dan jika kita ingin membayangkannya secara vertikal, 624 ribu ton makanan itu dapat membentuk gunungan raksasa—bukan sekadar metafora, melainkan juga timbunan nyata yang jika dikumpulkan akan tampak seperti bukit buatan. Gunung yang seluruh isinya adalah makanan layak konsumsi, yang berakhir sebagai limbah. Inilah yang sering tidak kita sadari: yang terbuang bukan sekadar “sisa”. Ia adalah produksi makanan dalam skala masif yang gagal sampai pada tujuan akhirnya, yaitu dikonsumsi.

Jika dipecah lebih jauh, 624 ribu ton berarti 624 juta kilogram makanan. Dengan asumsi satu porsi sekitar 400 gram, kita sedang membuang sekitar 1,56 miliar porsi makanan. Angka ini akan terasa jauh lebih konkret ketika diterjemahkan ke kehidupan sehari-hari.

Jumlah tersebut setara dengan memberi makan sekitar 520 juta orang dalam satu hari (dengan asumsi tiga kali makan), atau sekitar 14 juta orang selama lebih dari satu bulan penuh, bahkan cukup untuk menghidupi lebih dari 4 juta orang selama satu tahun penuh.

Sebagai perbandingan, angka itu melampaui jumlah penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu sekitar 3,7 juta jiwa. Artinya, makanan yang berpotensi terbuang dari satu program ini saja sebenarnya cukup untuk memberi makan seluruh penduduk dalam satu provinsi selama lebih dari satu tahun.

Ilustrasi paket makanan MBG. Foto: Shutterstock

Peringatan tentang ini sebenarnya sudah ada. Kajian dari Bebas Sampah menegaskan bahwa program MBG berpotensi meningkatkan food waste jika tidak diiringi sistem distribusi yang adaptif dan edukasi konsumsi. Namun seperti banyak kebijakan lain, peringatan sering kalah oleh keinginan untuk segera terlihat berjalan.

Yang lebih mengkhawatirkan, kita tidak hanya membuang makanan, tetapi juga membuang seluruh energi yang sudah dipakai untuk menghasilkan dan memasaknya. Jika dihitung secara kasar, energi untuk memasak makanan rata-rata berada di kisaran 500–1.000 kkal per porsi.

Dengan potensi 1,56 miliar porsi yang terbuang, berarti energi yang ikut hilang mencapai sekitar 780 miliar hingga 1,56 triliun kilokalori. Angka ini setara dengan sekitar 900 juta hingga 1,8 miliar kWh listrik, jumlah yang cukup untuk memasok listrik lebih dari satu juta rumah tangga selama setahun.

Jika dikonversi ke bahan bakar, energi sebesar itu kira-kira setara dengan 90–180 juta liter bensin, cukup untuk menjalankan jutaan sepeda motor selama berbulan-bulan. Dengan kata lain, setiap piring yang terbuang tidak hanya kehilangan makanan, tetapi juga membuang listrik, gas, dan bahan bakar dalam skala nasional—energi yang sudah dibayar mahal, tetapi berakhir sia-sia di tempat sampah.

Ilustrasi makanan sisa di tempat pembuangan makanan. Foto: Shutterstock

Dan ketika makanan itu membusuk, ia tidak hilang begitu saja. Ia berubah menjadi emisi. Dengan estimasi sekitar 2,5 kilogram CO₂ per kilogram food waste, potensi sampah ini menghasilkan lebih dari 1,5 juta ton emisi karbon per tahun. Sebuah “gunung tak terlihat” yang pelan-pelan menumpuk di atmosfer.

Masalah sampah makanan MBG ini tidak bisa dilepaskan dari cara kebijakan dirancang. Dalam perspektif Public Policy, kebijakan yang tidak berbasis perilaku nyata berisiko menciptakan pemborosan dalam skala besar, meskipun memiliki tujuan yang baik.

Di titik ini, kita tidak bisa lagi berpura-pura bahwa ini hanya soal teknis kecil. Skala masalahnya terlalu besar, terlalu nyata, dan terlalu mahal untuk diabaikan. Karena itu, yang dibutuhkan hari ini tidak sekadar melanjutkan program, tetapi juga berhenti sejenak untuk melihat kenyataan secara utuh. Menghitung ulang, merancang ulang—dan jika perlu—menunda sampai semuanya benar-benar siap.

Sebab jika tidak, kita akan terus memproduksi sesuatu yang tampak mulia di atas kertas, tetapi dalam praktiknya hanya menghasilkan satu hal yang sangat konkret: sampah sisa makanan dalam skala yang tidak pernah kita bayangkan.