Pendidikan Jesuit di Indonesia: Sejarah Panjang hingga Universitas Sanata Dharma

Dosen Universitas Sanata Dharma
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Apri Damai Sagita Krissandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sejarah pendidikan di Indonesia turut dibentuk oleh peran Serikat Yesus (Jesuit), yang mengembangkan pendidikan bagi masyarakat pribumi sejak masa kolonial. Dari Muntilan, Jawa Tengah, kiprah pendidikan ini melahirkan tradisi panjang yang kemudian berlanjut melalui berdirinya Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta pada 1955. Inilah kisah tentang bagaimana pendidikan Jesuit ikut mewarnai perjalanan pendidikan Indonesia, melampaui batas agama dan generasi.

Pendidikan Jesuit di Indonesia memiliki sejarah panjang yang berawal jauh sebelum Universitas Sanata Dharma berdiri. Dari sekolah-sekolah di Muntilan pada awal abad ke-20 hingga perguruan tinggi di Yogyakarta, tradisi pendidikan ini membawa satu gagasan penting: pendidikan bukan sekadar mencerdaskan pikiran, melainkan juga membentuk manusia yang berintegritas dan peduli terhadap sesama.
Jejak karya Serikat Yesus atau Society of Jesus di Nusantara dapat ditelusuri sejak abad ke-16 melalui misi Santo Fransiskus Xaverius di wilayah Maluku. Setelah sempat terhenti, Serikat Yesus kembali berkarya di Hindia Belanda pada 1859. Salah satu tokoh penting dalam perkembangan pendidikan Jesuit di Jawa adalah Fransiskus Georgius Yosephus van Lith, SJ, yang tiba di Jawa pada 1896.
Van Lith kemudian mengembangkan karya pendidikan di Muntilan, Jawa Tengah. Pada 1904, ia merintis pendidikan calon guru bagi masyarakat pribumi. Di tengah ketimpangan akses pendidikan pada masa kolonial, sekolah-sekolah yang berkembang di Muntilan membuka kesempatan bagi anak-anak pribumi untuk memperoleh pendidikan formal dan mengambil peran lebih luas dalam masyarakat.
Pendidikan di Muntilan tidak hanya menekankan kemampuan akademik, tetapi juga pembinaan karakter, kehidupan sosial, dan pembentukan kepribadian. Muntilan pun berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Katolik yang berpengaruh di Jawa. Kiprah tersebut menjadi bagian penting dari sejarah pendidikan Indonesia, meskipun berlangsung dalam konteks kolonial yang kompleks.
Sanata Dharma dan kebutuhan guru Indonesia
Warisan pendidikan Jesuit kemudian mengambil bentuk baru setelah Indonesia merdeka. Pada 20 Oktober 1955, Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) Sanata Dharma berdiri di Yogyakarta. Kehadirannya menjawab kebutuhan Indonesia akan tenaga pendidik untuk membangun sistem pendidikan nasional.
Pada masa awal, PTPG Sanata Dharma memiliki empat jurusan, yakni Bahasa Inggris, Sejarah, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Ilmu Mendidik. Pater Nicolaus Driyarkara, SJ, menjadi dekan pertama. Perjalanan kelembagaannya berlanjut melalui perubahan menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan pada 1958, IKIP Sanata Dharma pada 1965, hingga Universitas Sanata Dharma pada 1993.
Perubahan status tersebut menandai perkembangan Sanata Dharma dari lembaga yang berfokus pada pendidikan guru menjadi universitas dengan bidang keilmuan yang lebih luas. Namun, pendidikan tetap menjadi bagian penting dari identitas dan sejarahnya.
Nama Sanata Dharma sendiri mengandung makna kebaktian atau pengabdian yang sesungguhnya. Semangat ini sejalan dengan pandangan bahwa ilmu pengetahuan seharusnya tidak berhenti pada pencapaian pribadi, tetapi juga digunakan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kini, Universitas Sanata Dharma melanjutkan kiprah tersebut melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan sejarah yang berakar sejak 1955, Sanata Dharma menjadi salah satu pilihan bagi generasi muda yang ingin mengembangkan kemampuan akademik sekaligus menumbuhkan kepekaan sosial dan tanggung jawab kemanusiaan.
Mendidik manusia, bukan sekadar menghasilkan lulusan
Ciri penting pendidikan Jesuit berakar pada spiritualitas Ignasian, yang menekankan refleksi, penalaran, pengenalan diri, dan tindakan nyata. Dalam tradisi ini, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur melalui nilai akademik atau gelar, tetapi juga melalui cara seseorang menggunakan pengetahuannya untuk mengambil keputusan dan memperlakukan orang lain.
Pendidikan diharapkan melahirkan pribadi yang kompeten, berhati nurani, peduli, dan bersedia berkontribusi bagi keadilan sosial. Nilai-nilai tersebut relevan ketika dunia pendidikan menghadapi tantangan kecerdasan buatan, perubahan teknologi, serta kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.
Di tengah perubahan tersebut, Universitas Sanata Dharma memiliki peluang untuk meneruskan tradisi pendidikan yang memadukan kecerdasan dan kemanusiaan. Bagi calon mahasiswa, khususnya yang tertarik pada dunia pendidikan, sejarah panjang Sanata Dharma menawarkan konteks tentang bagaimana perguruan tinggi dapat tumbuh bersama kebutuhan masyarakat.
Perjalanan dari Muntilan hingga Yogyakarta memperlihatkan bahwa pendidikan Jesuit di Indonesia bukan sekadar kisah tentang berdirinya sekolah dan universitas. Ia juga merupakan bagian dari sejarah upaya memperluas kesempatan belajar dan membentuk generasi terdidik.
Lebih dari satu abad setelah karya van Lith berkembang di Muntilan, pertanyaan mendasar pendidikan tetap sama: untuk apa ilmu dipelajari? Bagi tradisi Jesuit, jawabannya tidak berhenti pada keberhasilan individu. Pendidikan menemukan maknanya ketika pengetahuan membantu manusia memahami dunia, menghargai sesama, dan ikut membangun masyarakat yang lebih adil dan manusiawi.
