Konten dari Pengguna

Celaka di Bulan Ramadhan

Apria W Alfisa

Apria W Alfisa

Work. Write. Repeat. Berusaha untuk Berguna untuk orang lain

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Apria W Alfisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Suasana Taklim Ramadhan di Masjid. Foto/Gambar: Dokumen Penulis.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Suasana Taklim Ramadhan di Masjid. Foto/Gambar: Dokumen Penulis.

Di salah satu hadits Rasulullah SAW,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ عِنْدَهُ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ

“Nabi SAW bersabda: Celakalah seseorang, (saat) aku disebut-sebut di depannya dan ia tidak mengucapkan shalawat kepadaku. Dan celakalah seseorang, Bulan Ramadhan menemuinya kemudian keluar sebelum ia mendapatkan ampunan, dan celakalah seseorang yang kedua orang tuanya berusia lanjut namun kedua orang tuanya tidak dapat memasukkannya ke dalam Surga (karena kebaktiannya).” (HR. Tirmidzi)

Dari hadits tersebut di atas, ada satu pernyataan bahwa jika seorang Mukmin menjumpai bulan Ramadhan kemudian bulan Ramadhan tersebut berlalu dan dia belum mendapatkan ampunan Allah SWT, maka dia termasuk ke dalam orang yang celaka.

Di bulan Ramadhan yang disebut di dalamnya sebagai bulan ampunan, bulan rahmat, dan bulan berkah, saat pintu surga dibuka lebar-lebar, sebagai simbol kemudahan akses dan sarana beribadah. Sebagai tanda bahwa pahala amal sholeh akan dilipatgandakan, namun di saat tersebut, kita enggak memanfaatakan sebaik-baiknya untuk memperbanyak dzikir kepada Allah SWT, memperbanyak sholat sunah termasuk tarawih dan tahajud, atau memperbanyak sedekah? Sayang kalau itu terjadi.

Saat pandemi ini merupakan waktu yang tepat untuk membantu sesama. Minimal berempati dengan tidak memperlihatkan kelebihan dan kelapangan rejeki harta kita. Ada anomali di saat pandemi ini. Yang tadinya mampu, punya kendaraan dan rumah yang bagus, belum tentu saat ini mereka juga sedang berkecukupan. Bisa saja tabungan mereka habis terkuras karena potongan gaji atau tunjangan. Ada juga ASN di daerah saat ini pembayaran tunjangan kinerjanya terhambat atau ditunda beberapa bulan. Mereka masih punya aset tapi tidak likuid. Mereka saat ini secara langsung tidak membutuhkan bantuan namun tidak bisa mengeluarkan dana untuk membantu program kemasyarakatan seperti bisanya, dan kadang lolos dari pengamatan kita.

Di bulan Ramadhan, pintu neraka ditutup rapat-rapat. Sebagai simbol bahwa sebenarnya kesempatan untuk berbuat dosa lebih diperkecil peluangnya. Dinyatakan juga bahwa setan dibelenggu, yang menandakan bahwa manusia diberikan kekuatan lebih untuk menahan bisikan setan. Namun kita masih berbuat bermaksiat?

Nabi SAW menyebut celaka jika saat Ramadhan, saat pintu surga terbuka dan gerbang neraka ditutup namun kita tidak bisa memanfaatkan sebaik-baiknya untuk mendapatkan ampunan Allah SWT. Bahkan di bulan Ramadhan juga ada satu hari yang nilai pahalanya melebihi seribu bulan. Malam lailatul qadar. Bonus mana yang diberikan Allah SWT di hari-hari lain. Beribadah semalam yang pahalanya menyamai ibadah seribu bulan, setara 83 tahun. Sedangkan menurut BPS angka harapan hidup di Indonesia hanya 69 tahun untuk laki-laki dan 73 tahun untuk perempuan.

Kenapa hal-hal tersebut bisa terjadi? Semuanya adalah karena biasa. Karena kita merasa biasa saja menghadapi bulan Ramadhan. Menganggap sebagai bulan biasa seperti bulan-bulan lainnya. Koq, bisa? Manusia dikaruniai hati kecil. Hati yang jujur, hati yang enggak bisa dibohongi. Sesuatu yang pertama terbersit di hati untuk menyatakan sesuatu itu benar atau tidak.

Contohnya jika seseorang sejak kecil sudah terbiasa salat dan puasa bersama-sama dengan teman-teman sekampungnya. Kemudian setelah beranjak dewasa, setelah hidup sendiri di kota, misalnya, kemudian terlewat tidak sahur, dan merasa enggak kuat dan mulai mencoba membatalkan puasa wajib, pasti awalnya akan berat. Hati nuraninya pasti melarang. Tapi ketika sekali dilakukan dan merasa semua baik-baik saja, maka akan diulang lagi di lain kesempatan. Bahkan di suatu hari meskipun hari itu juga bangun makan sahur.

Demikian juga dengan kejahatan lainnya, semisal korupsi. Pasti awalnya mencoba jumlah yang kecil dan merasa aman-aman saja, akhirnya melakukan pencurian (korupsi) dengan jumlah yang besar.

Biasa dan kebiasaan yang menjadikan sesuatu jadi tidak istimewa. Awalnya merasa enggak enak kalau tidak habis 30 juz tadarus Al Quran di bulan Ramadhan, mulai berkurang sedikit demi sedikit dari tahun ke tahun dengan berbagai alasan. Karena biasa dan jadi kebiasaan, akhirnya merasa enggak apa-apa kalau tidak tadarus Al Quran di bulan Ramdhan, apalagi di luar bulan Ramadhan.

Demikian pula sebaliknya, jika bisa memanfaatkan bulan Ramadhan dengan kebiasaan yang baik, berkesinambungan, awalnya dengan keterpaksaan namun kemudian jadi kebiasaan, dan biasa, maka bisa jadi manusia beruntung. Berhasil memanfaatkan pintu surga yang terbuka dan gerbang neraka yang ditutup, serta tangan setan yang dibelenggu.

Menjadi tetap melakukan perbuatan baik setelah melewati Ramadhan, tetap tadarus, tetap salat malam, tetap bersedakah secara rutin.

Wallahu a'lam.

*Disampaikan saat Kultum bakda Subuh di masjid Al-Ikhlas Adipura 3 Gedebage, 26 April 2021.