Konten dari Pengguna

Menjaga Kewarasan: Seni Menemukan Jeda di Tengah Interupsi yang Tak Kenal Waktu

Apria W Alfisa

Apria W Alfisa

Work. Write. Repeat. Berusaha untuk Berguna untuk orang lain

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Apria W Alfisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto dan gambar koleksi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Foto dan gambar koleksi pribadi

Pernah merasa hari-hari berjalan begitu cepat sampai kita lupa kapan terakhir kali benar-benar menarik napas panjang? Belakangan ini, ada satu frasa yang mendadak jadi mantra populer di lingkungan kerja saya: "Menjaga Kewarasan."

​Istilah ini sering digaungkan oleh atasan saya belakangan ini. Awalnya terdengar seperti gurauan di sela-sela meeting, tapi lama-kelamaan saya sadar bahwa ini adalah pengingat yang sangat penting bagi kita semua yang sedang bergelut dengan rutinitas.

Dinamika yang Selalu Berubah

Dunia kerja memang tidak pernah statis. Tekanan pekerjaan yang berat adalah bagian dari paket perjalanan profesional kita. Belum lagi jika ada bumbu baru seperti hadirnya pemimpin baru di lingkungan kerja.

Masuknya pemimpin baru dalam sebuah ekosistem kerja idealnya membawa angin segar. Namun, realitanya sering kali membawa tekanan ekstra. Ada ambisi-ambisi baru yang ingin dicapai dalam waktu singkat, ada standar baru yang terkadang dipaksakan tanpa melihat kapasitas tim yang sudah ngos-ngosan.

​Adaptasi terhadap ekspektasi yang meningkat ini memang sering kali membuat kita dipaksa berlari saat napas sudah tersengal-sengal. Namun, di sinilah seni menjaga kewarasan itu diuji.

Bukan Berhenti, Hanya Memberi Jeda

Menjaga kewarasan bukan berarti kita menyerah pada keadaan atau kehilangan profesionalisme. Sebaliknya, ini adalah cara kita mencintai pekerjaan dengan cara yang lebih sehat.

Menjaga kewarasan juga berarti memahami bahwa pikiran manusia butuh tombol off. Di tengah ritme kepemimpinan baru yang terkadang lupa bahwa hari libur adalah hak untuk memulihkan energi, kita perlu berani menentukan kapan harus benar-benar berhenti sejenak. Sebab, dedikasi terbaik tidak lahir dari kelelahan yang dipaksakan, melainkan dari pikiran yang segar.

Seni menjaga kewarasan ini bisa kita mulai dari hal-hal kecil:

  • ​Menghargai Proses Adaptasi: Sadar bahwa menyesuaikan diri dengan tekanan dan gaya kepemimpinan baru itu butuh waktu. Tidak apa-apa jika belum bisa langsung tancap gas.

  • ​Menemukan Kebahagiaan Kecil: Entah itu secangkir kopi di sore hari, obrolan ringan dengan rekan kerja, atau sekadar bisa mematikan notifikasi pekerjaan di akhir pekan tanpa rasa bersalah.

  • Saling Mendukung: Karena istilah ini dipopulerkan oleh atasan saya, saya melihatnya sebagai bentuk menjaga kesolidan tim. Kita semua sedang berjuang, jadi mari saling menjaga agar tidak ada yang "tumbang" di tengah jalan.

Pada akhirnya, pekerjaan adalah maraton, bukan lari sprint. Pemimpin boleh berganti, target boleh bertambah, tapi semangat dan kesehatan mental kita harus tetap terjaga.

​Terima kasih untuk atasan saya yang sudah mempopulerkan istilah ini. Mari kita kerjakan tugas sebaik mungkin, tapi jangan lupa untuk tetap menyisakan ruang bagi diri sendiri agar tetap bahagia. Karena tetap produktif itu penting, tapi tetap waras itu utama!

Wallohu a'lam.