Konten dari Pengguna

Seni Membalas Kedhaliman: Mengapa Mendoakan ‘Musuh’ Adalah Kemenangan Sejati?

Apria W Alfisa

Apria W Alfisa

Work. Write. Repeat. Berusaha untuk Berguna untuk orang lain

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Apria W Alfisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Generated by AI
zoom-in-whitePerbesar
Generated by AI

Dalam riuh rendahnya kehidupan, interaksi antar manusia sering kali bersentuhan dan menyisakan luka. Ada kalanya kita merasa dipojokkan, disalahpahami, atau bahkan didhalimi. Respon spontan kita biasanya seragam; marah, membalas, atau setidaknya menyimpan dendam sebagai 'benteng pertahanan diri'.

​Namun, di tengah suasana Ramadan yang menuntut kita untuk menahan ego, ada sebuah tawaran spiritual yang barangkali terdengar radikal namun membebaskan. Membalas kedhaliman dengan kebaikan dan doa.

​Filosofi Niat Baik yang Tersembunyi

​Sering kali, konflik terjadi karena perbedaan perspektif. Jika kita mau sedikit menepi dan ber-husnuzan, kita akan menyadari sebuah hakikat kemanusiaan; "Pada dasarnya, setiap orang merasa dirinya sedang melakukan kebaikan".

​Seseorang yang mendhalimi kita mungkin merasa sedang mempertahankan haknya, membela prinsipnya, atau sekadar terjebak dalam ketidaktahuan. Mereka tidak merasa sedang berbuat jahat; mereka hanya sedang 'salah jalan' dalam mengekspresikan niat baiknya. Dengan kacamata ini, kemarahan kita perlahan akan berubah menjadi rasa kasihan (pity), karena kita melihat mereka sebagai jiwa yang sedang kehilangan arah, bukan musuh yang harus dihancurkan.

​Belajar dari Tragedi Thaif

​Sejarah mencatat salah satu momen paling mengharukan dalam perjalanan Nabi Muhammad SAW saat berada di Thaif. Beliau tidak hanya ditolak, tetapi dilempari batu hingga fisik beliau terluka. Secara logika manusiawi, itu adalah saat yang paling tepat untuk membalas perbuatan mereka kepada Nabi SAW. Bahkan, malaikat pun sudah menawarkan 'opsi' untuk menghukum para pelaku.

​Namun, jawaban Rasulullah adalah sebuah revolusi akhlak, "Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui."

​Beliau memposisikan kedhaliman tersebut bukan sebagai kejahatan murni, melainkan sebagai 'ketidaktahuan'. Beliau tidak membalas lemparan batu dengan api, melainkan dengan doa keberkahan. Inilah puncak dari kecerdasan emosional dan spiritual.

​Mekanisme Idfa’ billati hiya ahsan

​Al-Qur'an dalam Surah Fussilat ayat 34 memberikan rumus yang sangat menarik; "Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik."

​Menariknya, Allah menjanjikan bahwa dengan membalas keburukan menggunakan kebaikan, lawan bicara yang tadinya memusuhi kita bisa berubah menjadi 'teman yang sangat setia'. Mengapa? Karena kebaikan yang tidak terduga memiliki kekuatan untuk meruntuhkan ego seseorang. Kebaikan adalah interupsi positif yang memaksa orang lain untuk berkaca pada perilakunya sendiri.

​Memaafkan untuk Menjaga Kewarasan

​Memang, bersabar dan mendoakan orang yang menyakiti kita bukanlah perkara mudah. Ini adalah latihan mental tingkat tinggi. Namun, manfaat terbesarnya justru kembali kepada diri kita sendiri.

​Dendam adalah beban yang sangat berat. Menyimpan kemarahan ibarat kita yang meminum racun, tapi mengharap orang lain yang mati. Dengan memaafkan dan mendoakan hidayah bagi mereka, kita sebenarnya sedang melakukan detoksifikasi hati. Kita melepaskan rantai yang mengikat batin kita pada perilaku buruk orang lain.

​Sebuah Latihan di Sisa Ramadan

​Ramadan bukan sekadar tentang mengubah jam makan, tapi tentang mengubah cara kita merespon keadaan. Mari mencoba sebuah eksperimen kecil di sisa malam-malam Ramadan ini, sebutlah satu atau dua nama orang yang pernah membuat hati kita sesak dalam doa sujud kita. Bukan untuk mengadukan kejahatan mereka, tapi untuk memohonkan kebahagiaan dan kelapangan hati bagi mereka.

​Pada akhirnya, membalas kedhaliman dengan doa bukanlah tanda kelemahan. Itu adalah tanda bahwa hati kita terlalu berharga untuk dikotori oleh kebencian orang lain. Karena hati yang pemaaf adalah hati yang telah menemukan kedamaian sejatinya.

Wallohu a'lam.

Catatan: Artikel ini merupakan adaptasi dari materi Kultum Subuh yang disampaikan penulis pada Sabtu, 14 Maret 2026 (24 Ramadhan 1447 H), bertempat di Masjid Al Ikhlash, Adipura, Kota Bandung.