Konten dari Pengguna

79 Kilometer Menuju Purna Tugas

Apriana Susaei

Apriana Susaei

ASN pada Kementerian ESDM

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Apriana Susaei tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

KRL menuju Stasiun Tanah Abang (unsplash.com)
zoom-in-whitePerbesar
KRL menuju Stasiun Tanah Abang (unsplash.com)

Setiap hari, ketika azan subuh telah berkumandang lewat pelantang suara di masjid, Pak D, seorang teman sekantor, sudah memulai perjalanan panjangnya pagi itu menuju tempat bekerja.

Dari Jasinga, Kabupaten Bogor, dia menempuh jarak 79 kilometer menuju kantor di kawasan Cikini. Terkadang dia naik angkot atau mengendarai sepeda motor, lalu beralih moda dengan kereta rel listrik. Begitulah rutinitasnya setiap hari pulang-pergi selama dua puluh tahun terakhir ini.

Pagi ini adalah hari terakhirnya mengabdi. Menenteng tas hitam yang mulai kusam—satu-satunya tas yang ia pakai selama sepuluh tahun terakhir—Pak D siap menyambut hari kerja dengan semangat yang tak pernah luntur.

Ia selalu tiba tepat waktu, pukul 07.30. Senyumnya selalu merekah, tak pernah bosan menyapa orang-orang yang datang pagi itu. Usianya kini lima puluh delapan tahun. Hari ini ia menutup lebih dari dua puluh tahun pengabdiannya sebagai aparatur sipil negara (ASN).

Pengabdian

Dalam birokrasi, masa pensiun sering kali dibicarakan dalam angka. Menurut Undang-Undang ASN Nomor 20 Tahun 2023, batas usia pensiun PNS adalah 58–60 tahun, tergantung pada jabatan manajerial atau nonmanajerial yang diampu.

Namun bagi sebagian pegawai, angka itu adalah “garis akhir” dari perjalanan panjang: pulang-pergi ke kantor setiap hari, melewati kemacetan berkepanjangan, rapat-rapat yang tak terhitung, laporan yang disusun hingga larut malam, dan dedikasi yang dipertaruhkan demi negara.

Di balik angka administratif itu, ada makna pengabdian; ada manusia seperti Pak D dengan puluhan tahun cerita. Lebih dari dua puluh tahun bukan waktu yang sebentar. Hal itu setara dengan ribuan pagi yang dimulai dengan rutinitas yang sama: bangun, bersiap, berangkat, bekerja, pulang, lalu mengulanginya lagi esok hari.

Sebagian orang mungkin akan berseloroh, bukankah begitu artinya hidup? Kalau gak mau seperti itu, jangan jadi abdi negara.

Namun, di balik pengabdian itu, ada hari-hari ketika pekerjaan baru selesai saat orang lain sudah pulang. Ada keluarga yang harus ditinggalkan sementara. Ada masa-masa sulit yang mungkin tak pernah tercatat dalam laporan kinerja.

Tak ada kolom penilaian dalam birokrasi untuk peluh dan air mata yang ditahan saat harus memilih antara tugas dan momen penting keluarga. Tak ada angka yang bisa mewakili malam-malam sunyi menyelesaikan pekerjaan yang tak pernah benar-benar "selesai".

Sebelum menjadi pengadministrasi umum, Pak D dahulu hanyalah sopir pimpinan. Keberuntungan nasib membawanya diangkat menjadi abdi negara. Menjadi ASN adalah jawaban atas doa panjang seorang kepala keluarga seperti dirinya yang setiap hari menukar keringat untuk masa depan anak-anaknya.

Mengabdi kepada negara adalah cita-citanya yang sederhana, bukan pangkat yang tinggi, melainkan hanya tangga untuk menuju masa depan yang lebih baik bagi keluarganya.

Pengabdian sejatinya tidak selalu berbunyi lantang. Kadang ia hanya berbunyi seperti derap langkah kaki yang datang untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik.

Ada cerita pengabdian ribuan guru yang telah mendidik generasi penerus bangsa, kisah peneliti yang menghabiskan separuh hidupnya di laboratorium demi temuan yang mungkin baru dihargai bertahun-tahun kemudian, hingga pegawai administrasi yang setiap hari memastikan satu simpul kecil dalam kompleksnya sistem pemerintahan tetap berjalan—meski jarang ada yang menyadari betapa pentingnya pekerjaan itu seperti halnya Pak D.

Kecemasan Finansial

Namun, di ujung purna tugas, Pak D dihadapkan pada kecemasan. Karena dia terlambat menikah, saat purna tugas dia memiliki anak yang masih kuliah dan sekolah. Di ujung masa kerja, seolah dia harus sering menghitung hari dan juga menghitung rupiah.

Pak D mulai berhitung. Selisih penghasilannya sewaktu pensiun jauh lebih besar dari yang dia bayangkan. Gaji pensiunnya tentu tidak cukup di masa ekonomi sekarang. Dia harus membiayai hidup sehari-hari keluarganya, biaya kuliah anak sulungnya dan juga sekolah anak bungsunya.

“Uang pensiunnya takut gak cukup, Mas,” ungkapnya cemas kala itu.

Dia bukan satu-satunya yang akan merasakan ini. Data OJK dan BPS dari Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024 menunjukkan indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia baru mencapai 65,43 persen. Ini menunjukkan masih ada sepertiga masyarakat, termasuk banyak calon pensiunan, yang belum sepenuhnya memahami cara mengelola keuangan jangka panjang secara matang.

Selain pendidikan, ada hal tersembunyi yang dia cemaskan. Seiring bertambahnya usia, kesehatannya semakin menurun. Terjangan angin di jalan ketika pulang-pergi ke kantor setiap hari merangsang penyakit batuknya yang kambuhan. Sementara biaya kesehatan juga tidak murah. Dia takut menjadi beban.

Kecemasan Sosial

Ketika pensiun, Pak D khawatir tidak punya teman. Dia membayangkan jika masih bekerja, ponselnya selalu ramai sejak subuh: pengumuman rapat, obrolan santai dengan rekan sejawat, candaan di sela bekerja. Dia khawatir nanti dia mulai jarang disapa.

Fenomena ini bukan hal kecil secara demografis. BPS mencatat sekitar 1,71 juta lansia di Indonesia diproyeksikan hidup sendirian pada 2025, sebuah angka yang menggambarkan betapa rentannya masa tua terhadap isolasi sosial, terutama bagi mereka yang dulu terbiasa dikelilingi rekan kerja setiap hari.

Dia menyadari kualitas relasi keluargalah nantinya yang akan menjadi penentu utama bagaimana seseorang menjalani masa tuanya dengan tenang atau justru merasa terasing.

Banyak juga yang mengira post-power syndrome hanya milik mereka yang dulu berkuasa: pejabat eselon, kepala dinas, atau pimpinan dengan banyak anak buah. Padahal, kehilangan status dan rasa hormat (sebagai ASN) itu bisa dirasakan oleh siapa saja yang selama puluhan tahun punya peran dalam birokrasi.

Ini bukan kegelisahan berlebihan. Berkaca pada cerita teman-teman yang sudah pensiun. Perasaan “merasa tidak dibutuhkan” ini tanpa disadari merupakan sebuah proses yang alami. Hal ini kemudian menjadi perasaan “kehilangan” yang wajar dialami siapa pun, baik pejabat maupun staf biasa yang pensiun.

Besok, tas hitam yang mulai kusam itu tidak akan lagi menemani perjalanan 79 kilometer dari Jasinga ke Cikini. Tidak akan ada lagi angkot yang harus dikejar oleh Pak D sebelum pagi benar-benar terang; tidak ada lagi kereta rel listrik yang harus disambung demi tiba pukul 07.30 tepat di kantor Pak D.

Pensiun bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan sesuatu yang harus direncanakan. Bukan soal siap atau tidak siap secara usia, melainkan siap atau tidak siap secara persiapan. Dan bagi Pak D, seperti bagi ribuan abdi negara lainnya, persiapan itu sebaiknya sudah dimulai jauh sebelum duduk di tempat bekerja untuk terakhir kalinya.