Lebaran dan Konsumsi Energi

ASN, bekerja di Kementerian ESDM
Konten dari Pengguna
15 Mei 2022 10:51
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Apriana Susaei tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Lebaran dan Konsumsi Energi (133494)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kemacetan saat mudik lebaran, foto : dok pribadi
Lebaran selalu identik dengan mudik, baju baru yang menarik, berkumpul dengan handai tolan demi menjaga hubungan baik, lalu ditutup dengan arus balik.
ADVERTISEMENT
Bagaimana tidak, hari raya lebaran Idul fitri adalah ritual sosial tahunan masyarakat muslim di Indonesia yang berlangsung sangat semarak. Peristiwa tersebut menggambarkan kemenangan spiritual setelah satu bulan lamanya menahan nafsu, lapar dan dahaga saat puasa.
Lebaran tahun ini juga nampak berbeda, perayaannya merupakan euforia yang tertunda. Setelah dua tahun lamanya pemerintah melarang masyarakat untuk mudik dan berkumpul dengan sanak saudara akibat pandemi yang tak kunjung reda. Penantiannya bak pucuk dicinta ulampun tiba.
Namun ternyata, jumlah pemudik pada tahun ini tidak lebih banyak dari tahun 2019 (Kumparan, 9 Mei 2022). Total pergerakan moda transportasi sejak H-7 hingga H+5 tahun ini mencapai 11,5 juta. Padahal pada tahun 2019, pergerakan moda transportasi mencapai 16,7 juta saat pandemi covid-19 belum melanda.
ADVERTISEMENT
Disisi lain, konsumsi BBM saat lebaran dan arus mudik ternyata tetap naik. Menurut data BPH Migas selama periode arus mudik tahun 2022, secara nasional konsumsi BBM jenis gasoline mengalami peningkatan 26%, dengan kenaikkan penyaluran tertinggi yaitu pada tanggal 1 Mei 2022 (H-1 Idul Fitri) sebesar 36% terhadap penjualan normal, khususnya untuk BBM Jenis RON 90, puncak penyaluran tertinggi yaitu pada H-1 sebesar 46% terhadap penjualan normal. Sedangkan gasoil turun 13% terhadap penjualan normal.
Pun demikian, pada arus balik konsumsi BBM jenis gasoline meningkat 12%, dengan kenaikkan penyaluran tertinggi yaitu pada tanggal 5 Mei 2022 (H+3 Idul Fitri) sebesar 29% terhadap penjualan normal. Sementara itu total konsumsi BBM jenis gasoil turun 40% terhadap penjualan normal.
ADVERTISEMENT
Bukan hanya BBM, konsumsi listrik juga biasanya meningkat selama ramadhan dan lebaran. Data dari kementerian ESDM menyatakan bahwa konsumsi listrik pada bulan Juli (Ramadhan) tahun 2018 sebanyak 8.122 GWh, sedangkan pada bulan Juni (Ramadhan) tahun 2019 meningkat sebanyak 8.416 GWh dan pada bulan Mei (Ramadhan) tahun 2020 juga meningkat sebanyak 10.029 GWh.
Urbanisasi dan konsumerisme
Kenaikan konsumsi BBM dan listrik selama bulan ramadhan dan lebaran baik mudik maupun arus balik bukanlah hal baru, tradisi ini menunjukan bahwa laju pertumbuhan ekonomi, populasi penduduk dan urbanisasi di Indonesia semakin meningkat. Terlebih, mudik di Indonesia dipahami sebagai liburan massal warga kota besar di daerah asal mereka.
Mudik dari sudut pandang sejarah, telah ada sejak masyarakat Indonesia mulai berurbanisasi. Secara keseluruhan hal ini tidak dapat dicegah karena merupakan salah satu indikator pertumbuhan ekonomi, sehingga fenomena urbanisasi akan terus terjadi. Disisi lain, pertumbuhan ekonomi juga berpengaruh terhadap konsumsi energi.
ADVERTISEMENT
Hasil penelitian pada Jurnal Ekonomi Terapan tahun 2017, dengan menganalisa data per provinsi di Indonesia pada periode 2008-2012, menyimpulkan bahwa urbanisasi berhubungan positif secara signifikan terhadap konsumsi BBM dan total konsumsi energi terutama di perkotaan.
Semakin tinggi tingkat urbanisasi akan menyebabkan terjadinya peningkatan konsumsi energi. Selain itu, populasi pendudukpun memiliki hubungan yang positif secara signifikan terhadap konsumsi energi (BBM, listrik, dan total energi).
Mudik maupun arus balik meningkatkan kemacetan dan konsumsi energi berlebihan. Peningkatan tersebut tak dapat disangkal menimbulkan konsumerisme, karena kemacetan adalah puncak alasan dari konsumerisme bertransportasi.
Kemacetanpun ikut bergeser, yang awalnya hanya diperkotaan telah berpindah ke pelosok daerah selama mudik dan arus balik.
Silaturahmi secara daring yang kita lakoni selama pandemi dan pembatasan mobilisasi, ternyata tak mampu membendung hasrat dan nafsu untuk segera menemui sanak famili. Kemacetan di sana-sini akhirnya kita telan dengan ikhlas kita lalui.
ADVERTISEMENT
Hemat Energi
Lebaran telah usai, namun edukasi dan literasi hemat energi jangan pernah berhenti. Mayarakat harus terus didorong agar lebih bijak mengkonsumsi energi.
Banyak yang tidak menyadari bahwa BBM yang selama ini digunakan masih sebagian besar berbahan fosil. Artinya, konsumsi berlebihan juga dapat memicu dan mempengaruhi peningkatan emisi CO2 dan berdampak pada lingkungan.
Sejurus dengan itu, konsumsi litrik di masyarakat saat inipun penggunaannya masih bergantung pada sumber energi fosil. Pada tahun 2020 saja, PT PLN telah menggunakan batu bara untuk memproduksi litriknya sebanyak 66,2 Juta ton, naik secara signifikan dari 25,8 Juta ton pada tahun 2011 (RUPTL PT. PLN 2021-2030).
Ditengah gejolak harga energi dunia ditambah kondisi geopolitik energi karena perang negara Rusia dan Ukraina, nampaknya membuat kita harus menyadari lalu mengantisipasi mubadzirnya penggunaan energi.
ADVERTISEMENT
Budaya menggunakan transportasi umum dan menghemat penggunan listrik dimanapun adalah langkah nyata upaya tersebut.
Hakikat lebaran Idul Fitri sejatinya adalah kebahagiaan dan kemenangan setelah satu bulan ditempa untuk belajar menahan hawa nafsu yang tiada akhir. Mudah-mudahan hasil pembelajaran tersebut mendorong kita untuk mulai (lagi) menghemat energi dan menahan hawa nafsu konsumsi berlebih.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020