Konten dari Pengguna

Di Antara Kopi dan Deadline di Kopi Kenangan Bengkulu

Aprilia Andriani

Aprilia Andriani

Mahasiswa S1 Jurnalistik Universitas Bengkulu

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aprilia Andriani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana sebuah kedai kopi dipenuhi pelajar yang tengah mengerjakan tugas. Mereka duduk berkelompok di meja, menggunakan laptop dan berdiskusi, menciptakan atmosfer belajar yang aktif dan produktif di tengah tempat yang nyaman. Foto: Dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Suasana sebuah kedai kopi dipenuhi pelajar yang tengah mengerjakan tugas. Mereka duduk berkelompok di meja, menggunakan laptop dan berdiskusi, menciptakan atmosfer belajar yang aktif dan produktif di tengah tempat yang nyaman. Foto: Dokumentasi pribadi

Deru mesin kopi berpadu dengan suara ketikan laptop terdengar di dalam ruangan. Aroma kopi yang menguar samar memenuhi sudut-sudut kedai, bercampur dengan percakapan pelan para pengunjung. Di beberapa meja, pelajar duduk berkelompok, menatap layar sambil sesekali berdiskusi. Sebagian lainnya tampak fokus sendiri dengan headset terpasang, tenggelam dalam tugas masing-masing. Di Kopi Kenangan Bengkulu, tempat yang identik dengan nongkrong itu kini tak sekadar menjadi ruang bersantai, tetapi juga ruang belajar bagi pelajar yang tengah mengejar deadline.

Fenomena pelajar mengerjakan tugas di kedai kopi semakin terlihat dalam beberapa waktu terakhir. Tidak hanya pada akhir pekan, suasana serupa juga tampak di hari biasa, terutama pada sore hingga malam hari. Hampir seluruh kursi terisi, dengan beberapa pelajar datang berkelompok sambil membawa laptop dan buku. Diskusi kecil berlangsung di berbagai sudut, sementara sebagian lainnya memilih bekerja secara mandiri dengan fokus penuh pada layar.

Jika diamati lebih jauh, suasana ini menunjukkan bahwa kedai kopi kini menjadi salah satu ruang publik yang memiliki fungsi ganda. Di satu sisi, ia tetap menjadi tempat bersantai. Namun di sisi lain, ia juga bertransformasi menjadi ruang produktif yang dimanfaatkan pelajar untuk menyelesaikan tugas. Perubahan ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan berkembang seiring meningkatnya kebutuhan akan ruang belajar yang fleksibel dan nyaman.

Bagi sebagian pelajar, suasana kedai kopi justru memberikan kenyamanan tersendiri untuk mengerjakan tugas. Ernes (20), salah satu pengunjung, mengaku memilih Kopi Kenangan Bengkulu karena suasananya yang berbeda dibandingkan tempat belajar pada umumnya. “Karena lebih cozy saja, bisa dapat inspirasi, dan sekalian nongkrong juga,” ujarnya.

Menurut Ernes, belajar di kedai kopi memberikan pengalaman yang tidak ia temukan ketika berada di rumah. Ia merasa suasana yang hidup justru membantunya tetap termotivasi untuk menyelesaikan tugas. Interaksi sosial yang terjadi di sekitar, meskipun tidak selalu diikuti secara langsung, memberikan energi tersendiri yang membuat proses belajar terasa lebih ringan dan tidak membosankan.

Meski suasana di kedai kopi cenderung ramai, hal tersebut tidak selalu menjadi hambatan. “Keadaannya memang lebih berisik, tapi tidak tahu kenapa justru terasa nyaman,” kata Ernes. Pernyataan ini menunjukkan bahwa konsep kenyamanan dalam belajar mulai mengalami perubahan. Tidak semua pelajar membutuhkan suasana yang sepenuhnya tenang, melainkan cukup dengan lingkungan yang membuat mereka merasa betah.

Fenomena ini juga diakui oleh pihak kedai. Tirta (24), salah satu pegawai, menyebut bahwa kehadiran pelajar sudah menjadi pemandangan sehari-hari. “Dari jam 11 pagi sudah mulai berdatangan, dan sore menjelang malam semakin ramai,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa pola kedatangan pelajar biasanya mengikuti waktu luang setelah aktivitas sekolah atau perkuliahan.

Tidak hanya pada hari tertentu, keramaian tersebut terjadi hampir setiap hari. Menurut Tirta, kedai jarang sekali berada dalam kondisi sepi, terutama ketika mendekati masa ujian. “Hari-hari selalu ramai, tidak pernah sepi. Apalagi menjelang ujian, itu masa pelajar banyak dikejar tugas,” katanya. Hal ini menunjukkan bahwa kedai kopi telah menjadi bagian dari rutinitas baru bagi pelajar, khususnya dalam menghadapi beban akademik.

Selain faktor kenyamanan, ketersediaan fasilitas juga menjadi alasan penting. Akses internet yang stabil, colokan listrik, serta tempat duduk yang relatif nyaman menjadi pendukung utama aktivitas belajar di kedai kopi. Fasilitas tersebut tidak selalu tersedia secara optimal di rumah atau tempat lain, sehingga kedai kopi menjadi pilihan alternatif yang dianggap lebih memadai.

Di sisi lain, belajar di kedai kopi juga memberikan pengalaman sosial yang berbeda. Pelajar tidak hanya datang untuk menyelesaikan tugas, tetapi juga untuk bertemu teman, berdiskusi, atau sekadar berada di lingkungan yang sama dengan orang lain yang juga sedang produktif. Suasana ini menciptakan semacam “energi kolektif” yang mendorong mereka untuk ikut fokus.

Fenomena ini mencerminkan adanya pergeseran gaya belajar di kalangan pelajar. Jika sebelumnya proses belajar identik dengan ruang yang tenang seperti perpustakaan, kini ruang publik seperti kedai kopi mulai mengambil peran tersebut. Pelajar tidak lagi terpaku pada konsep belajar yang kaku, melainkan lebih fleksibel dalam memilih tempat yang sesuai dengan kebutuhan dan preferensi mereka.

Namun demikian, pilihan ini tidak lepas dari tantangan. Suasana yang ramai, percakapan di sekitar, hingga lalu lalang pengunjung dapat menjadi distraksi yang mengganggu konsentrasi. Selain itu, belajar di kedai kopi juga membutuhkan biaya, meskipun tidak selalu besar. Hal ini menjadi pertimbangan tersendiri bagi pelajar dalam menentukan tempat belajar.

Di tengah kondisi tersebut, kehadiran kedai kopi seperti Kopi Kenangan Bengkulu dapat dilihat sebagai bagian dari dinamika perkembangan kota. Kedai kopi tidak hanya berfungsi sebagai tempat konsumsi, tetapi juga sebagai ruang sosial yang mempertemukan berbagai aktivitas. Aktivitas belajar, bekerja, dan bersantai kini dapat terjadi dalam satu ruang yang sama.

Perubahan ini juga menunjukkan bagaimana brand dapat beradaptasi dengan perilaku konsumennya. Tanpa secara langsung mengubah konsep dasar, kedai kopi secara alami menjadi ruang multifungsi karena cara pengunjung memanfaatkannya. Dalam hal ini, pelajar menjadi salah satu kelompok yang turut membentuk fungsi baru dari ruang tersebut.

Pada akhirnya, di antara aroma kopi dan percakapan yang tak pernah benar-benar berhenti, lahir kebiasaan baru di kalangan pelajar. Mereka belajar di tengah keramaian, mencari inspirasi di luar ruang konvensional, dan menyelesaikan tugas di sela-sela aktivitas sosial. Di Kopi Kenangan Bengkulu, kopi dan deadline kini berjalan beriringan, mencerminkan wajah baru gaya belajar pelajar masa kini lebih fleksibel, lebih dinamis, dan semakin menyatu dengan ruang publik.