Kue Cucur, Jajanan Tradisional yang Masih Disukai di Bengkulu

Mahasiswa S1 Jurnalistik Universitas Bengkulu
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Aprilia Andriani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah banyaknya jajanan modern yang muncul, kue tradisional tetap memiliki tempat di hati masyarakat. Salah satu yang mudah ditemukan di Bengkulu adalah Kue Cucur. Kue berwarna coklat dengan bagian tengah yang tebal dan pinggiran yang tipis ini sering dijual di pasar tradisional dan lapak penjual kue di pinggir jalan.
Kue cucur umumnya memiliki tekstur yang khas. Saat digoreng, bagian tengah adonan mengembang dan menebal, sementara pinggirannya melebar dan menjadi lebih tipis. Namun, kue cucur Bengkulu memiliki bentuk yang berbeda. Tidak lagi tebal ditengah dan tipis dipinggir, tetapi bulat dan memiliki empat lubang kecil di bagian tengah yang membuatnya tampak unik dan mudah dikenali.
Jajanan ini dikenal sebagai jajanan sederhana yang dibua dari bahan-bahan yang mudah didapat, seperti tepung beras, gula merah, dan air. Adonan tersebut kemudian digoreng dalam minyak panas hingga membentuk tekstur khas. Warnanya cokelat keemasan hingga cokelat tua karena penggunaan gula merah sebagai bahan utama.
Selain tampilannya yang unik, kue cucur Bengkulu memiliki tekstur yang khas pula. Jika biasanya kue ini memiliki tekstur kenyal dibagian tengah, kue cucur Bengkulu bertekstur lebih kasar dan padat. Rasa manis dari gula merah membuat kue ini cocok dijadikan camilan saat bersantai maupun sebagai teman minum teh atau kopi.
Di Bengkulu, kue cucur biasanya dijual dari pagi hingga siang. Banyak pedagang membuat kue ini langsung di tempat, sehingga pembeli bisa melihat proses pembuatannya. Proses tersebut cukup sederhana, tetapi memerlukan ketelitian agar kue mendapatkan tekstur yang baik.
Salah satu penjual kue cucur di Kota Bengkulu, Dasih (54), mengatakan bahwa kue cucur masih banyak diminati masyarakat. Ia sudah menjual kue tersebut selama beberapa tahun di pasar Panorama, Kota Bengkulu.
“Setiap pagi saya membuat kue cucur bersama beberapa kue tradisional lainnya. Pembelinya lumayan banyak. Biasanya, orang yang datang ke pasar sekalian membeli untuk sarapan atau camilan di rumah,” ujar Siti saat ditemui di lapaknya, Selasa (10/3).
Menurut Dasih, proses pembuatan kue cucur terlihat mudah, tetapi tetap perlu pengalaman. Jika adonan terlalu kental atau encer, hasil kue bisa kurang baik.
“Kalau adonannya tidak pas, kue bisa menjadi terlalu keras atau tidak mengembang. Jadi, memang harus sudah terbiasa membuatnya supaya hasilnya bagus,” jelasnya.
Selain dijual di pasar, kue cucur juga sering dibuat di rumah. Ini membuat kue tradisional tersebut tetap bertahan di tengah berkembangnya berbagai jenis makanan baru. Banyak orang masih memilih kue cucur karena rasanya yang sederhana dan sudah dikenal sejak lama.
Di sisi lain, Siti Kunafa’a (39) yang merupakan warga Bengkulu mengaku sering membeli kue cucur saat berkunjung ke pasar. Menurutnya, kue ini memiliki rasa yang khas dan berbeda dengan jajanan lainnya.
“Saya suka kue cucur karena rasanya manis dan teksturnya unik. Biasanya saya beli kalau pergi ke pasar atau ingin camilan,” kata Rani.
Ia menambahkan bahwa kue cucur juga sering dijadikan teman minum teh di rumah. Bagi sebagian orang, kue ini mengingatkan pada suasana jajanan pasar yang sederhana tetapi tetap disukai. Keberadaan kue cucur menunjukkan bahwa jajanan tradisional masih memiliki tempat di tengah masyarakat.
Meski banyak makanan modern yang muncul, kue cucur tetap menjadi pilihan bagi sebagian orang yang ingin menikmati camilan dengan cita rasa khas. Dengan bahan-bahan sederhana dan cara pembuatan yang tidak terlalu rumit, kue cucur terus diproduksi oleh pedagang dan masyarakat di rumah. Hal ini membuat kue tradisional ini tetap bertahan dan menjadi bagian dari kekayaan kuliner yang dimiliki Bengkulu.
