Bagi Anak Muda Kota, Rumah Bukan Lagi Simbol Status Sosial?

Dosen Sosiologi Universitas Terbuka, Pengamat sosial lulusan Sarjana dan Magister Sosiologi Universitas Indonesia, mengulas relasi antara manusia dan ruang hidupnya baik di urban maupun rural.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Aprilia Cahyani Prabudiantoro Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
"Kapan punya rumah sendiri?"
Yap, ini pertanyaan horror yang kerap ditanyakan oleh orang tua atau mertua kepada kita.

Di masa lalu, memiliki rumah adalah simbol kesuksesan hidup yang sangat jelas. Bagi generasi orang tua kita, pertanyaan seperti di atas menjadi tolok ukur bahwa seseorang telah dewasa, stabil secara ekonomi, dan pantas disebut mapan. Tapi di tengah realitas sosial dan ekonomi yang berubah cepat, terutama di kota-kota besar, makna rumah mulai bergeser. Banyak anak muda urban yang kini memilih untuk menyewa, tinggal bersama teman, atau berpindah-pindah tempat tinggal sesuai pekerjaan dan gaya hidup mereka. Bukan berarti mereka tidak ingin punya rumah, tetapi karena ada perubahan struktur nilai, ekonomi, dan harapan sosial yang perlu dipahami lebih dalam.
Dari Lambang Mapan ke Realitas Bertahan Hidup: Rumah dan Perubahan Makna Simbolik
Di era sebelumnya, rumah bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga simbol pencapaian. Rumah menunjukkan bahwa seseorang telah mampu secara ekonomi dan sudah sampai pada tahap "jadi orang" di mata masyarakat. Namun kini, harga rumah di kota metropolitan seperti Jakarta, Surabaya, atau Bandung meningkat jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan. Anak muda yang baru mulai bekerja dengan gaji pas-pasan atau hidup dari penghasilan freelance sulit menjangkau harga rumah yang terus melonjak. Kondisi ini memaksa mereka untuk menunda atau bahkan meninggalkan mimpi memiliki rumah sebagai pencapaian hidup.
Dalam kerangka sosiologi konsumsi, Pierre Bourdieu (1984) menyebut rumah sebagai salah satu bentuk modal simbolik yang merupakan representasi dari kelas sosial, status, dan gaya hidup. Tapi saat akses terhadap rumah makin tidak merata, nilai simboliknya jadi berkurang. Anak muda sekarang lebih memilih kenyamanan dan fleksibilitas, daripada mengejar properti yang akan membebani mereka dengan cicilan selama puluhan tahun. Kepemilikan rumah bukan lagi satu-satunya tanda kesuksesan, melainkan salah satu pilihan di antara banyak bentuk kehidupan yang mungkin dijalani.
Hidup Fleksibel: Co-Living, Sewa, dan Dinamika Mobilitas Anak Muda Kota
Perubahan besar juga terlihat dari pilihan tempat tinggal anak muda urban hari ini. Banyak yang memilih tinggal di co-living space, menyewa apartemen bulanan, atau ngekost dekat tempat kerja. Terutama mereka yang bekerja di sektor kreatif, start-up, atau bahkan menjalani gaya hidup digital nomad, kehidupan yang tidak terikat tempat lebih masuk akal. Dalam konteks ini, rumah bukan tujuan akhir, tetapi bagian dari dinamika kehidupan yang terus berubah.
Zygmunt Bauman (2005) menggambarkan fenomena ini sebagai liquid life, di mana stabilitas dan kepemilikan digantikan oleh fleksibilitas dan mobilitas. Generasi muda lebih menghargai kebebasan dalam hidup, daripada harus berkomitmen pada satu tempat tinggal dengan konsekuensi ekonomi yang berat. Bagi mereka, berpindah-pindah tidak berarti kehilangan arah, tapi justru cara untuk menemukan bentuk kehidupan yang sesuai dengan nilai dan kebutuhannya masing-masing.
Rumah Sebagai Simbol Status Sosial dan Representasi Ketimpangan
Meski begitu, narasi keberhasilan lewat kepemilikan rumah masih bertahan di ruang publik, termasuk media sosial. Selalu ada konten tentang pencapaian membeli rumah pertama, renovasi hunian, atau punya properti di usia muda. Tapi kita juga harus jujur melihat kenyataan bahwa tidak semua anak muda memiliki akses ekonomi dan sosial yang sama. Ada yang bisa membeli rumah karena dukungan orang tua atau warisan, sementara yang lain kesulitan bahkan untuk menyewa kontrakan yang layak.
Di sinilah relevansi analisis Richard Sennett (2006) tentang fleksibilitas kerja dapat masuk. Sistem kerja modern yang semakin cair dan tidak stabil atau precarious work, berpengaruh besar terhadap struktur sosial, termasuk dalam hal kepemilikan hunian. Fleksibilitas hidup yang dipilih anak muda bukan selalu karena keinginan, tapi seringkali karena keterpaksaan dalam menghadapi sistem ekonomi yang tidak memberi jaminan masa depan. Rumah, dalam banyak kasus, berubah dari simbol status menjadi instrumen survival di tengah ketimpangan sosial yang makin nyata.
Rumah Masih Jadi Mimpi, Tapi Bentuknya Berubah
Meskipun realitasnya berbeda, bukan berarti anak muda tidak lagi memimpikan rumah. Hanya saja, mimpi itu sudah berubah bentuk. Ada yang membayangkan hidup di rumah mungil di desa, punya apartemen studio di pusat kota, atau cukup dengan tempat tinggal sewa yang nyaman dan aman. Rumah tidak lagi sekadar properti yang dipamerkan, tetapi ruang personal yang memberi rasa pulang, aman, dan stabil, apa pun bentuk fisiknya.
Perubahan ini menunjukkan bahwa mimpi tentang rumah masih ada, hanya saja tidak bisa lagi dipukul rata dengan standar masa lalu. Rumah tidak harus besar, mewah, atau dibeli dengan kredit puluhan tahun. Yang lebih penting adalah bagaimana rumah apa pun bentuknya bisa menjadi tempat membangun kehidupan yang otentik dan sesuai dengan identitas serta nilai-nilai anak muda kota masa kini.
Makna Baru Rumah di Tengah Gaya Hidup Urban Anak Muda
Dalam kehidupan anak muda urban hari ini, rumah memang masih penting, tetapi maknanya tidak tunggal. Kepemilikan rumah tidak lagi jadi satu-satunya indikator keberhasilan hidup. Justru dalam banyak kasus, fleksibilitas dalam memilih tempat tinggal menjadi cara baru untuk bertahan, menyesuaikan diri, dan tetap punya ruang hidup yang layak.
Rumah kini bisa jadi simbol kebebasan, ruang eksplorasi, bahkan tempat persinggahan sementara di tengah kehidupan yang dinamis. Daripada terpaku pada narasi lama tentang rumah sebagai tujuan akhir, mungkin sudah waktunya kita mengakui bentuk-bentuk baru mimpi yang lebih inklusif, adaptif, dan realistis. Dalam konteks urban dan sosiologi gaya hidup, rumah telah bertransformasi menjadi lebih dari sekadar bangunan. Ia adalah refleksi pilihan hidup yang penuh makna.
Referensi:
Bauman, Zygmunt. Liquid Life. Cambridge: Polity Press, 2005.
Bourdieu, Pierre. Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste. London: Routledge, 1984.
Sennett, Richard. The Culture of the New Capitalism. Yale University Press, 2006.
