Healing Dulu, Tugas Menumpuk: Ketika GenZ Memilih Lari dari Tekanan Akademik

Mahasiswi Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Khaila Putri A tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa di sini yang sering mengucapkan "gue butuh healing" setelah satu minggu dihadapkan pada tugas, presentasi, dan tenggat waktu yang saling berkejaran? Sebutan itu kini hampir menjadi mantra wajib bagi mahasiswa generasi Z. Belum selesai mengerjakan tugas-tugas, postingan Instagram sudah dipenuhi foto kafe estetik dengan keterangan "recharge dulu." Belum tuntas masa ujian, rencana liburan sudah lebih dahulu tersusun rapi. Seolah-olah healing menjadi jawaban tunggal atas segala kelelahan yang dirasakan. Namun, muncul pertanyaan yang jarang berani diajukan: jika healing benar-benar menjadi solusi, mengapa setelah pulang dari kafe, setelah unggahan di media sosial selesai dibagikan, setelah waktu istirahat berlalu, tugas yang menumpuk tetap berada di tempatnya? Mengapa rasa kewalahan itu tidak ikut menghilang bersama dokumentasi yang telah dipublikasikan? Pertanyaan semacam ini mungkin terasa tidak nyaman untuk dijawab. Namun, di titik inilah persoalan yang jarang diakui secara terbuka mulai terlihat: apa yang kerap disebut sebagai healing tidak selalu merupakan proses pemulihan, melainkan bentuk pelarian yang dikemas dengan istilah yang lebih positif.
Tekanan Akademik yang Tidak Selalu Terlihat
Menjadi mahasiswa di Indonesia bukan hal yang sederhana. Dibalik kehidupan kampus yang tampak menyenangkan di media sosial, terdapat tekanan signifikan yang harus dihadapi setiap hari. Tugas datang secara beruntun, ekspektasi dosen harus dipenuhi, indeks prestasi harus dijaga, organisasi harus tetap diikuti, dan di sisi lain, keluarga dirumah menanti kabar baik. Data menunjukkan gambaran yang lebih konkret dibandingkan sekadar keluhan personal. Penelitian Astutik dkk. (2020) menemukan bahwa 25 persen mahasiswa di Indonesia mengalami depresi, 51 persen mengalami kecemasan, dan 39 persen mengalami stres. Angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan representasi nyata dari kondisi yang dialami jutaan mahasiswa dalam kesehariannya. Survei Kesehatan Indonesia yang dirilis Kementerian Kesehatan pada 2023 turut mencatat bahwa prevalensi depresi pada kelompok usia 15–24 tahun mencapai sekitar 2 persen, lebih tinggi dibandingkan populasi umum.
Ketika Healing Berubah Jadi Standar Sosial
Secara harfiah, healing berarti penyembuhan. Namun, dalam penggunaan sehari-hari generasi Z, maknanya meluas jauh dari definisi awal, mulai dari perjalanan ke luar kota, berkumpul di kafe, menonton konser, berbelanja sebagai bentuk self-rewarding, hingga sekadar berbaring sepanjang hari sambil menelusuri media sosial tanpa tujuan tertentu. Seluruh aktivitas tersebut dikemas dalam satu istilah yang terdengar positif dan sarat kesadaran diri yaitu healing. Media sosial memiliki peran besar dalam membentuk persepsi ini. Konten bertema slow living, self-care, dan mental health day terus mengalir tanpa henti di berbagai platform. Ketika figur publik membagikan momen di tepi pantai dengan keterangan "healing is necessary," atau ketika lingkar pertemanan ramai membicarakan pengalaman healing trip masing-masing, muncul tekanan tidak langsung untuk turut melakukan hal serupa. Tekanan semacam ini sering disebut FOMO (fear of missing out) atau rasa cemas yang membuat seseorang merasa harus ikut healing bukan karena kebutuhan yang nyata, melainkan karena khawatir dipandang tidak peduli terhadap kesehatan mental sendiri, atau sekadar tidak ingin tertinggal dari tren yang sedang berlangsung. Di titik ini, muncul paradoks yang harus dicermati. Healing yang semestinya menjadi ruang pemulihan justru bertransformasi menjadi tekanan sosial baru akibat rasa FOMO itu sendiri. Belum healing dianggap kurang menyadari kondisi diri, dan jika terus bekerja tanpa henti dianggap mengabaikan kesehatan mental. Tanpa disadari, narasi semacam ini menyamarkan batas antara istirahat yang sebenarnya dan pelarian yang dikemas sebagai pembenaran. Keduanya sama-sama didorong oleh kecemasan untuk tidak terlihat berbeda dari orang lain, bukan oleh kebutuhan yang sesungguhnya.
Ketika Sistem Pendidikan Turut Berperan
Tokoh sosiologi Émile Durkheim pernah menjelaskan bahwa individu tidak dapat dilepaskan dari tekanan sosial yang melingkupinya. Melalui konsep anomie, Durkheim menggambarkan kondisi ketika tuntutan sosial berada pada level yang tidak sebanding dengan kemampuan individu untuk memenuhinya, sehingga memunculkan keguncangan psikologis yang mendalam. Kondisi semacam ini tampaknya turut mencerminkan apa yang dialami sebagian mahasiswa generasi Z saat ini. Sistem pendidikan tinggi di Indonesia menuntut banyak hal secara bersamaan. Mahasiswa diharapkan berprestasi secara akademik, aktif dalam organisasi, membangun portofolio, mengikuti program magang, sekaligus menjaga kesehatan mental. Seolah seluruh aspek tersebut dapat dijalankan secara paralel tanpa ada yang perlu dikorbankan. Ketika realitas tidak sejalan dengan tuntutan tersebut, sebagian mahasiswa tidak mencari solusi, melainkan mencari pelarian yang kemudian disebut sebagai healing agar terdengar lebih dapat diterima secara sosial. Persoalannya, pelarian tidak pernah menyelesaikan akar masalah. Kafe yang estetik tidak mengubah tugas yang menumpuk. Perjalanan healing tidak membuat tugas akhir selesai dengan sendirinya. Begitu mahasiswa kembali dari proses "healing," beban yang sama tetap menanti, bahkan terkadang bertambah berat akibat waktu yang telah terlewat.
Bukan Soal Istirahat yang Salah, melainkan Sistem yang Perlu Dipertanyakan
Penting untuk ditegaskan bahwa kebutuhan untuk beristirahat bukanlah hal yang keliru. Setiap individu memerlukan waktu untuk memulihkan diri, sebab tubuh maupun pikiran manusia tidak dirancang untuk bekerja tanpa henti. Memaksakan produktivitas tanpa ruang istirahat justru akan menurunkan kualitas kerja secara keseluruhan. Persoalan utamanya bukan terletak pada kebutuhan untuk beristirahat, melainkan pada cara mendefinisikan istirahat itu sendiri, serta pada sistem yang membuat mahasiswa merasa perlu melarikan diri dari lingkungan akademiknya sendiri. Apabila mahasiswa terus-menerus membutuhkan ruang untuk "kabur" dari tekanan akademik, pertanyaan yang lebih relevan untuk diajukan bukanlah "mengapa generasi Z mudah lelah?", melainkan "apakah ada yang perlu dievaluasi dari sistem yang berlaku?" Beban akademik yang kurang realistis, terbatasnya ruang dialog antara mahasiswa dan dosen, serta minimnya mekanisme pengelolaan stres di lingkungan kampus menjadi beberapa faktor yang turut berkontribusi terhadap kondisi ini. Generasi Z tidak memerlukan lebih banyak konten healing di media sosial. Yang dibutuhkan adalah sistem pendidikan yang lebih memperhatikan aspek kemanusiaan, serta kesadaran diri yang cukup untuk membedakan antara momen pemulihan yang sesungguhnya dan tindakan menghindar yang dikemas dengan istilah lain. Pada akhirnya, healing yang sejati bukan diukur dari seberapa jauh seseorang melangkah pergi, melainkan dari kesiapannya untuk kembali dan menghadapi apa yang sempat ditinggalkan.
