Konten dari Pengguna

WFC: Cara Baru Gen Z Bekerja atau Hanya Gaya Hidup?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Khaila Putri A tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi aktivitas Work From Cafe (WFC) yang dilakukan bersama rekan kerja di sebuah kafe. Sumber: iStock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi aktivitas Work From Cafe (WFC) yang dilakukan bersama rekan kerja di sebuah kafe. Sumber: iStock

Pernah nggak kalian melihat kafe yang setiap mejanya dipenuhi laptop?

Pemandangan seperti ini merupakan salah satu gambaran dari WFC atau Work From Cafe. Ada yang sedang mengerjakan tugas, mengikuti meeting, membuka beberapa tab pekerjaan, atau sekedar duduk sambil menggunakan earphone.

Bagi Gen Z, bekerja dari kafe bukan hanya sekadar mencari tempat untuk menyelesaikan pekerjaan. Ada suasana berbeda yang mungkin nggak didapat ketika bekerja di kamar atau rumah. Kafe terasa lebih hidup dengan suara orang berbicara, musik yang diputar, dan suasana ramai. Hal-hal seperti itu justru bagi sebagian orang bisa membuat pekerjaan terasa lebih santai dan nggak terlalu membosankan.

Selain itu, WFC juga dianggap cocok dengan gaya hidup Gen Z yang cukup fleksibel. Ketika tugas kuliah atau pekerjaan bisa dikerjakan hanya melalui laptop dan koneksi internet, batas antara bekerja, belajar, dan bersantai menjadi semakin tidak kaku. Kafe pun bukan sekadar tempat untuk bersantai, tetapi bisa menjadi alternatif untuk belajar, berdiskusi, mengerjakan pekerjaan, atau bahkan bertemu teman.

Namun, di balik itu semua, muncul sebuah pertanyaan yang menarik:

Apakah WFC benar-benar dapat membuat Gen Z lebih produktif, atau sebenarnya hanya membuat mereka terlihat produktif?

Tidak bisa dipungkiri bahwa suasana baru dapat membantu seseorang menghilangkan rasa bosan. Ketika terlalu lama belajar atau bekerja di kamar, berpindah ke tempat lain bisa memberikan suasana yang berbeda. Ada perasaan seperti sedang “masuk jam kerja” ketika membuka laptop di tempat yang memang biasa digunakan untuk bekerja. Suasana seperti ini bagi sebagian orang bisa membuat mereka lebih fokus dan terdorong untuk menyelesaikan pekerjaan.

Tetapi, WFC juga nggak otomatis membuat seseorang menjadi lebih produktif. Terkadang, suasana kafe yang terlalu ramai, koneksi internet yang bermasalah, distraksi dari notifikasi media sosial, atau ajakan mengobrol dengan teman justru bisa mengalihkan perhatian. Tujuan awalnya hanya untuk menyelesaikan tugas, tetapi akhirnya malah lebih banyak menghabiskan waktu dengan duduk santai, memotret kopi, atau membuat konten.

Di sinilah WFC mulai menarik jika dilihat bukan hanya sebagai kebiasaan, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup. Aktivitas bekerja di kafe sering kali muncul di media sosial dalam bentuk foto laptop, kopi, dan suasana kafe yang ramai. Lama-lama, WFC bisa terlihat seperti gambaran kehidupan anak muda yang produktif, mandiri, dan memiliki gaya hidup yang fleksibel.

Padahal, produktivitas seharusnya tidak diukur dari di mana seseorang mengerjakan sesuatu. Seseorang bisa sangat produktif di kamar sendiri, sementara orang lain justru lebih fokus mengerjakannya saat berada di kafe. Tempat hanyalah salah satu faktor, bukan jaminan bahwa pekerjaan akan selesai.

Ada hal lain juga yang perlu dipikirkan, yaitu biaya. Jika WFC dilakukan terlalu sering, seperti membeli minuman atau makanan setiap kali bekerja, tentu bisa menjadi pengeluaran tersendiri. Maka dari itu, WFC sebaiknya tidak berubah menjadi kewajiban untuk terlihat produktif atau mengikuti tren yang sedang populer.

Pada akhirnya, budaya WFC menunjukkan bagaimana Gen Z mulai melihat ruang secara lebih fleksibel. Kafe tidak lagi hanya menjadi tempat untuk bersantai, makan, dan minum, tetapi juga menjadi ruang belajar, bekerja, berdiskusi, sekaligus bertemu orang lain dan mencari suasana baru. WFC tidak salah selagi dapat membantu kita mengerjakan sesuatu serta memberikan suasana yang lebih menyenangkan.

Namun, jangan sampai kita merasa harus pergi ke kafe hanya karena melihat orang lain terlihat produktif di sana. Karena pada akhirnya, yang membuat seseorang produktif bukan laptop yang dibuka di atas meja kafe atau segelas kopi di sampingnya, melainkan pekerjaan yang benar-benar berhasil diselesaikan.