Konten dari Pengguna

AI dan Micro-Culture Targeting: Ketika Iklan Makin Personal

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari aprillya dyah leksono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah merasa iklan yang muncul di media sosial seperti tahu apa yang sedang kamu cari? Misalnya, setelah beberapa kali melihat konten tentang skincare, kopi, olahraga, atau fashion, tiba-tiba muncul iklan yang masih berkaitan dengan hal tersebut.

Hal ini bukan sekadar kebetulan. Di balik iklan yang kita lihat, terdapat teknologi yang membantu pengiklan memahami perilaku dan minat pengguna. Salah satunya adalah kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Saat ini, AI tidak hanya digunakan untuk membuat konten atau menjawab pertanyaan. Dalam dunia periklanan, AI juga dapat membantu mengenali pola perilaku pengguna sehingga iklan dapat diarahkan kepada kelompok audiens yang lebih spesifik.

AI Tidak Lagi Sekadar Menentukan Usia dan Jenis Kelamin

Dalam periklanan konvensional, target konsumen biasanya ditentukan berdasarkan karakteristik seperti usia, jenis kelamin, lokasi, pekerjaan, atau pendapatan.

Namun, cara tersebut belum tentu menggambarkan minat seseorang secara keseluruhan. Dua orang yang sama-sama berusia 20 tahun dan tinggal di kota yang sama bisa saja memiliki ketertarikan yang sangat berbeda.

Salah satunya mungkin menyukai gaming, sementara yang lain lebih tertarik dengan skincare atau kuliner.

Karena itu, muncul pendekatan yang lebih spesifik melalui konsep micro-culture targeting.

Micro-culture dapat dipahami sebagai kelompok kecil yang memiliki kesamaan minat, kebiasaan, nilai, tren, atau cara berinteraksi. Kelompok ini bisa terbentuk di lingkungan digital tanpa harus memiliki karakteristik demografis yang sama.

Contohnya adalah komunitas penggemar thrifting, pecinta kopi, pengguna local brand, penggemar K-pop, komunitas gaming, hingga kelompok yang mengikuti tren tertentu di media sosial.

AI Membuat Iklan Lebih Personal

AI dapat membantu pengiklan membaca pola dari berbagai sinyal yang tersedia dalam aktivitas digital. Misalnya, minat terhadap suatu topik, interaksi dengan konten, atau respons terhadap iklan.

Foto oleh BrianPenny dari Pixabay

Platform periklanan seperti Google Ads sendiri telah menggunakan berbagai sinyal audiens, termasuk informasi demografis, minat, perilaku, dan interaksi dengan bisnis untuk membantu pengiklan menemukan audiens yang sesuai dengan tujuan kampanye.

Bayangkan sebuah merek kopi ingin memperkenalkan produk baru.

Target awalnya mungkin hanya mahasiswa berusia 18–24 tahun. Dengan pendekatan yang lebih spesifik, pengiklan dapat menemukan kelompok mahasiswa yang memiliki ketertarikan terhadap kopi, sering melihat konten coffee shop, mengikuti tren minuman tertentu, atau tertarik mencoba produk baru.

Dengan begitu, iklan yang dibuat tidak hanya berbicara kepada “mahasiswa”, tetapi kepada kelompok mahasiswa dengan minat dan kebiasaan yang lebih spesifik.

Iklan yang Lebih Personal

Setelah kelompok audiens ditemukan, AI juga dapat membantu pengiklan menyesuaikan pesan yang diberikan.

Bahasa, visual, hingga bentuk konten dapat dibuat sesuai dengan karakter audiens. Iklan untuk komunitas gaming, misalnya, tentu dapat menggunakan pendekatan komunikasi yang berbeda dengan iklan yang ditujukan kepada komunitas skincare.

Tujuannya bukan hanya mendapatkan lebih banyak orang yang melihat iklan, tetapi membuat pesan yang diberikan terasa lebih relevan bagi orang yang melihatnya.

Inilah salah satu perubahan menarik dalam dunia periklanan. Konsumen tidak lagi hanya dipandang sebagai bagian dari kelompok besar berdasarkan usia atau lokasi, tetapi juga sebagai bagian dari komunitas kecil yang memiliki karakteristik tertentu.

Namun, Ada Tantangannya

Penggunaan AI dalam periklanan juga tidak terlepas dari tantangan, terutama terkait privasi dan penggunaan data.

Semakin banyak data yang digunakan untuk memahami perilaku pengguna, semakin penting pula bagi perusahaan untuk memastikan bahwa data tersebut digunakan secara bertanggung jawab.

Selain itu, personalisasi yang terlalu jauh juga dapat membuat pengguna terus-menerus melihat konten yang serupa dengan minat mereka. Karena itu, penggunaan AI dalam periklanan perlu tetap memperhatikan transparansi dan batasan dalam pemanfaatan data.

Platform seperti Meta juga telah mengembangkan informasi dan label terkait penggunaan teknologi generative AI dalam iklan untuk meningkatkan transparansi kepada pengguna.

Masa Depan Periklanan yang Semakin Spesifik

Perkembangan AI membuat dunia periklanan bergerak menuju pendekatan yang semakin personal. Micro-culture targeting menjadi salah satu cara untuk memahami bahwa konsumen memiliki minat dan kebiasaan yang jauh lebih beragam dibandingkan sekadar data demografis.

AI dapat membantu menemukan pola tersebut dan mengubahnya menjadi strategi komunikasi yang lebih relevan.

Namun, semakin canggih teknologi yang digunakan, semakin besar pula tanggung jawab pengiklan dalam menggunakannya. Pada akhirnya, tujuan penggunaan AI bukan hanya membuat iklan semakin tepat sasaran, tetapi juga menciptakan pengalaman yang tetap relevan tanpa mengabaikan privasi pengguna.