Konten dari Pengguna

Mengapa Kebudayaan dalam Bahasa Inggris Bukan Skill, Melainkan "Knowledge"?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Apulia Charis Ariefah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi anak belajar bahasa Inggris. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak belajar bahasa Inggris. Foto: Shutter Stock

Dalam pembelajaran bahasa Inggris, kita mengenal empat keterampilan dasar (language skills); listening, speaking, reading, dan writing. Namun, gagasan bahwa budaya (culture) merupakan keterampilan kelima (fifth language skill) sering kali menjadi topik hangat di kalangan pendidik maupun mahasiswa pendidikan bahasa Inggris. Gagasan ini salah satunya dipopulerkan oleh pakar komunikasi antarbudaya Barry Tomalin dalam artikelnya di British Council.

Tomalin berargumen bahwa di era globalisasi, belajar bahasa tidak cukup hanya grammar atau kosakata, melainkan membutuhkan intercultural skills agar seseorang bisa beradaptasi dan bertoleransi dengan budaya lain.

Sekilas, gagasan Tomalin ini terdengar logis. Namun, jika dipikirkan lebih dalam, melabeli budaya sebagai language skill adalah langkah yang kurang tepat. Budaya bukanlah skill, melainkan pengetahuan (knowledge).

Mengapa Budaya Adalah Pengetahuan, Bukan Keterampilan?

Secara teknis, skill dalam bahasa melibatkan proses kognitif yang dilatih secara berulang hingga menjadi sebuah keterampilan, seperti bagaimana otak kita memproses tata bahasa saat berbicara atau merangkai kata saat menulis.

Sebaliknya, budaya berisi nilai-nilai (values), tradisi, tata cara berinteraksi, norma sosial, hingga sejarah dari suatu komunitas. Ini adalah entitas informasi dan pemahaman. Seseorang tidak "berlatih kebudayaan" sebagaimana ia melatih pronunciation atau listening comprehension. Seseorang mempelajari dan memahami budaya.

Barry Tomalin sendiri mengklasifikasikan elemen budaya menjadi beberapa tingkatan: cultural knowledge (pengetahuan budaya), cultural values (nilai-nilai budaya), cultural behaviour (perilaku budaya), hingga cultural skills (kompetensi budaya). Namun, pemaksaan untuk menggabungkan seluruh elemen ini ke dalam komponen "language skill" justru mengaburkan esensi dari budaya itu sendiri.

Budaya sebagai Pengetahuan Dasar (Basic Knowledge)

Menganggap budaya sebagai pengetahuan dasar bukan berarti mengecilkan peranannya. Justru sebaliknya, pengetahuan budaya (cultural literacy) adalah fondasi dasar yang wajib dimiliki oleh semua orang, bukan hanya sekadar mempelajari bahasa Inggris.

Di era yang makin terhubung ini, kemampuan untuk memahami cara berpikir dan kebiasaan masyarakat lain adalah modal utama agar kita bisa menjadi warga yang toleran dan memiliki empati. Sikap ini dibutuhkan oleh siapa saja dan dalam bidang apa pun.

Jika pemahaman budaya hanya dimasukkan ke dalam pelajaran bahasa Inggris, seolah-olah kita hanya perlu memiliki cultural awareness saat berbicara bahasa Inggris. Padahal, hal ini kita perlukan saat berkomunikasi menggunakan bahasa apa pun dan dalam situasi sosial apa pun.

Solusi: Jadikan Mata Pelajaran Sendiri, Jangan "Menempel" di Bahasa Inggris

Lalu, bagaimana sebaiknya materi budaya ini diajarkan di sekolah?

Daripada dipaksakan masuk ke dalam kurikulum bahasa Inggris yang sering kali membuat fokus belajar bahasa menjadi tidak maksimal, pemahaman budaya akan jauh lebih efektif jika berdiri sebagai mata pelajaran tersendiri.

Jika dipelajari secara terpisah (misalnya melalui mata pelajaran Studi Kebudayaan, Komunikasi Antarbudaya, atau diintegrasikan ke dalam IPS/PPKn):

Materi yang dipelajari lebih luas: Siswa tidak hanya mengenal budaya dari negara-negara penutur bahasa Inggris (seperti Amerika atau Inggris), tetapi juga dapat memahami budaya global secara menyeluruh, termasuk keragaman budaya di Indonesia.

Belajar bahasa Inggris menjadi lebih fokus: Guru dan siswa dapat berfokus mengasah keterampilan berbahasa (listening, speaking, reading, writing) tanpa terbebani oleh materi budaya yang kompleks.

Pembahasan materi bisa lebih mendalam: Budaya dapat dipelajari sebagai disiplin ilmu yang melatih empati, pemikiran kritis, serta wawasan global, bukan sekadar pelengkap contoh percakapan di dalam buku teks.

Kepekaan dan pemahaman budaya merupakan hal yang sangat penting di era modern saat ini. Namun, menempatkannya sebagai bagian dari language skill kuranglah tepat. Budaya adalah basic knowledge yang perlu dimiliki oleh setiap individu.

Sudah saatnya sistem pendidikan kita menempatkan materi budaya pada tempat yang sesuai: bukan sekadar "sisipan" pada pelajaran bahasa asing, melainkan sebuah pengetahuan dasar yang harus diajarkan secara terstruktur melalui mata pelajaran khusus.