Api yang Datang Setelah Ragu

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Aqila Husni Laela tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tentang malam dingin dan nyala yang tidak langsung percaya
Api belum ada ketika kami berkumpul di pasir. Yang ada hanya tumpukan kayu yang tampak rapi tapi terlalu gelap warnanya, lembap, berat, menyimpan sisa air. Udara malam dingin, menempel di kulit, dan bau kayu langsung tercium saat kami mendekat.
Seseorang jongkok lebih dulu, merapikan susunan kayu. Korek dinyalakan. Api kecil muncul, lalu mati begitu menyentuh kayu. Hanya asap tipis yang naik, pahit dan menyengat hidung.
Kayunya mendesis pelan. Menolak.
“Basah,” ucap seseorang singkat.
Kami saling pandang. Tidak ada yang tertawa kali ini. Hanya jeda sebentar, lalu satu orang berdiri dan berjalan menjauh. Ia kembali membawa botol plastik. Di tutupnya ada lubang kecil.
Bau bensin datang lebih dulu, tajam, menusuk, jauh lebih kuat dari bau asap tadi. Bau itu langsung memenuhi udara, membuat tenggorokan terasa kering. Aku refleks menahan napas sebentar.
Botol itu digenggam miring.
Disemprotkan pelan.
Bau bensin
menyela malam
dingin berubah tegang
Kayu-kayu itu mengilap sebentar di bawah cahaya senter. Pasir di sekitarnya ikut basah, mengeluarkan aroma tanah bercampur bahan bakar. Semua mundur setengah langkah. Tidak ada yang bicara. Suasana mendadak sunyi, seperti menunggu sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.
Korek dinyalakan lagi.
Api menyentuh kayu
dan langsung hidup.
Bukan ragu.
Bukan kecil.
Api melonjak cepat, tinggi sesaat, membuat panas mendadak menampar wajah. Aku refleks memalingkan kepala. Udara yang tadinya dingin berubah hangat dalam hitungan detik. Asap tebal naik, gelap, lalu terbawa angin.
“Wah,” seseorang tertawa pendek, lega.
Kami mundur sedikit, lalu duduk kembali. Api kini stabil, menyala di tengah tumpukan kayu. Suaranya lebih keras, krek...krek, seperti kayu yang akhirnya menyerah. Bau bensin perlahan kalah oleh bau kayu terbakar, lebih hangat, lebih familiar.
Cahaya oranye mulai memantul ke wajah-wajah di sekeliling. Gelap dan terang bergantian, membuat bayangan bergerak di pasir. Dua orang berjalan melewati depan api, siluet mereka memanjang, bayangannya tampak lebih hidup dari tubuhnya sendiri.
Aku merasakan panas di lutut, tapi pasir di belakangku masih dingin. Kontras itu jelas. Tanganku menyentuh pasir, kasar, lembap, meninggalkan jejak di kulit. Saat kugosok, terasa hangat di bagian yang dekat api.
Angin lewat, membawa asap ke arahku. Mataku perih. Aku mengedip, menarik napas pendek. Asap masuk ke hidung, pahit, membuat dada terasa penuh. Di balik itu, ada bau laut yang samar, asin, seperti mengingatkan bahwa api ini hanya tamu di tempat yang lebih besar.
Api menyala
malam menepi
kami duduk tanpa perlu banyak suara
Di kejauhan, lampu-lampu jalan berdiri diam, kecil, seolah tidak terlibat. Langit gelap, awan berat menggantung rendah. Api unggun ini terasa seperti pusat dunia kecil kami, cukup hangat untuk bertahan, cukup terang untuk saling melihat.
Kayu-kayu mulai runtuh ke dalam. Bara merah terlihat jelas di bagian tengah. Cahaya menjadi lebih lembut. Suara tawa muncul sebentar, lalu tenggelam lagi di antara bunyi api dan angin.
Aku menyadari bau asap sudah menempel di pakaian, di rambut, di kulit. Bau yang tidak bisa langsung hilang. Seperti malam ini, tidak akan lama, tapi cukup untuk meninggalkan rasa.
Kami tidak melakukan apa-apa selain duduk, menghangatkan diri, dan membiarkan api bekerja.
Dan itu terasa cukup.
