Pasir Mengingat, Laut Menghapus

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Aqila Husni Laela tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jejak-jejak yang sempat ada sebelum akhirnya rata
Pasir terasa dingin saat telapak kakiku menyentuhnya. Dingin yang lembap, menyimpan sisa malam, membuat langkah pertamaku melambat. Aku menunduk dan melihat jejak-jejak itu: tapak kaki yang saling bertumpuk, sebagian jelas, sebagian patah, sebagian lain hampir rata. Tidak ada garis lurus. Setiap langkah seperti pernah ragu sebelum akhirnya diteruskan.
Angin pantai bertiup pelan, membawa bau asin yang langsung menempel di hidung. Bau laut selalu begitu tajam, bersih, dan sedikit pahit. Dari kejauhan, suara ombak datang berlapis, jatuh ke pantai tanpa tergesa, lalu surut sambil menyeret pasir kembali. Bunyi itu terdengar seperti napas panjang yang dilepaskan dengan sabar.
Jejak-jejak di hadapanku beragam. Ada tapak kecil yang rapat, seolah seseorang berjalan cepat tanpa banyak menoleh. Ada tapak besar yang dalam, meninggalkan cekungan berat di pasir. Ada pula garis lengkung panjang, bekas sesuatu yang diseret, entah sandal, entah tubuh yang sempat duduk lalu berdiri kembali. Aku tidak tahu siapa mereka, tapi mataku mengikuti langkah-langkah itu seperti membaca cerita yang tidak ditulis.
Aku melangkah maju. Pasir terasa lembut, lalu kasar di bagian tertentu, bercampur serpihan kecil yang menggelitik telapak kaki. Setiap pijakan menghasilkan suara lirih, gesekan pelan yang hanya terdengar jika aku benar-benar diam. Bau matahari mulai muncul, hangat dan tipis, bercampur asin, membuat kulit kakiku terasa lebih hidup.
Sebentar aku berhenti.
Jejak-jejak itu tidak bergerak,
tapi rasanya tidak pernah benar-benar diam.
Ada tapak yang mengarah ke laut. Ada yang menjauh. Ada yang berhenti mendadak lalu berbelok, seolah seseorang sempat berubah pikiran. Dadaku terasa sedikit sesak. Bukan karena sedih, tapi karena menyadari aku sedang berdiri di atas sisa kehadiran orang lain. Mereka sudah tidak ada, tetapi langkahnya masih tertinggal.
Aku membayangkan suara-suara yang mungkin pernah memenuhi tempat ini. Tawa yang pecah lalu hilang tertiup angin. Langkah kaki yang berlari kecil. Tarikan napas seseorang yang berhenti lama, menatap laut seperti aku sekarang. Semua itu tidak terdengar, tapi anehnya terasa ramai di kepala.
Angin bertiup sedikit lebih kencang. Butiran pasir halus menyentuh betis, sedikit perih, lalu terasa biasa saja.
Aku berjalan mendekati garis air. Pasir berubah tekstur, lebih padat, lebih dingin. Jejak kaki di sini tampak lebih tipis, sebagian sudah diratakan oleh air. Ombak kecil datang, menyentuh ujung tapak lama, lalu mundur, meninggalkan kilap basah yang perlahan memudar.
Begitu mudah jejak itu hilang.
Begitu singkat waktu yang dibutuhkan air untuk merapikan sesuatu yang sebelumnya terasa nyata.
Kakiku ikut terkena air. Dingin. Aku menarik napas pendek saat dingin itu merambat cepat. Bau laut semakin kuat, dan suara ombak kini terdengar lebih dekat, lebih penuh. Aku berdiri di sana, membiarkan air menyentuh kakiku berulang kali, sambil menatap jejak-jejak yang berkurang satu per satu.
Aku menoleh ke belakang. Jejak kakiku sendiri kini terlihat di antara yang lama. Masih jelas. Masih utuh. Untuk sementara. Aku tahu tidak lama lagi, angin atau air akan melakukan hal yang sama, menghapus, meratakan, menyatukan.
Pikiran itu tidak membuatku takut. Justru terasa jujur.
Aku jongkok dan menyentuh pasir dengan ujung jari. Butirannya halus dan lembap, menempel di kulit. Saat kugosok perlahan, terasa kasar dan licin sekaligus. Pasir selalu berubah. Ia menerima semua tapak tanpa pernah berjanji menyimpannya lama.
Ada hal-hal yang cukup diterima, tanpa harus dipertahankan.
Aku bangkit dan berjalan menyusuri pantai, tidak lagi menghindari jejak lama. Kakiku menimpa apa saja yang ada, menciptakan bentuk baru di atas bentuk yang hampir hilang. Angin membawa bau asin dan hangat bersamaan. Suara ombak tetap setia mengisi telinga.
Napasku melambat. Bahu terasa turun. Tubuhku mengikuti irama yang sejak tadi menungguku.
Saat aku berhenti untuk terakhir kalinya, aku menoleh lagi. Jejak-jejak itu masih ada, tetapi sudah berubah. Tidak setegas sebelumnya. Beberapa menyatu, beberapa hampir rata. Aku tersenyum kecil tanpa sadar. Rasanya seperti melihat waktu bekerja—pelan, sabar, tanpa perlu penjelasan.
Aku melangkah pergi, meninggalkan jejak baru yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari yang lain. Pasir tetap dingin di telapak kakiku, angin tetap asin, dan ombak tetap berbunyi seperti semula.
Tidak ada yang benar-benar berubah.
Kecuali aku, yang kini tahu bahwa beberapa hal memang hanya singgah
cukup disadari,
lalu dibiarkan pergi...
