Sunyi yang Penuh Suara

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Aqila Husni Laela tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Aku Memilih Diam
Aku duduk di bawah pohon kelapa yang berdiri sendiri di tengah hamparan rumput yang luas. Pohon itu tidak tampak istimewa dibanding ratusan pohon kelapa lain di sepanjang pantai. Tapi entah bagaimana, aku merasa disambut di bawah naungannya. Daunnya yang panjang menebarkan bayangan bergerak di tanah, menghalangi cahaya matahari yang memantul tipis dari balik selimut awan kelabu. Hari ini langit seperti menahan hujan, seolah menunggu sesuatu untuk benar-benar membasahi bumi.
Aku tak datang ke tempat ini dengan tujuan berjalan. Hari ini bukan tentang bergerak, bukan tentang pergi ke mana pun. Aku hanya ingin diam. Dan inilah tempat yang dipilih hatiku. Tempat ini tidak memaksa siapa pun untuk menjadi apa-apa. Ia hanya meminta satu hal: hadir.
Langit di atas terasa berat, seperti penuh cerita yang belum selesai dituliskan.Aku menyandarkan tubuhku pada pohon kelapa. Kulit batangnya terasa kasar, tapi hangat. Akar-akar di bawah tanah terasa kuat, seolah memegang rahasia panjang yang tak perlu diceritakan dengan kata-kata.
Aku menarik napas perlahan. Telingaku mulai bekerja.
Telinga manusia memang begitu, ia tak pernah berhenti bekerja, bahkan saat pikiran sibuk diam. Dan di tempat ini, suara-suara menjadi lebih daripada sekadar latar. Mereka menjadi pesan. Mereka menjadi penutur.
Ombak yang Tak Pernah Lelah
Suara pertama yang kudengar jelas dan dalam: ombak
Ombak itu datang dari jauh di sampingku, melintasi hamparan rumput, melewati tiang-tiang bambu yang membatasi ladang, dan menembus barisan pinus kecil yang tumbuh disamping jalan. Ombak itu tidak melihat jarak sebagai hambatan. Suara itu seperti napas dunia yang disuarakan berulang, tanpa jeda, tak pernah berubah arah.
Aku menutup mata.
Aku bisa merasakan ombak itu bukan hanya dengan telingaku, tapi dengan tulang rusukku. Meski tak menyentuh air, aku bisa membayangkan buih putih yang muncul dan hilang. Ombak tidak gugup, tidak terburu. Ia tahu caranya datang—lalu pergi—lalu kembali lagi. Suara itu menyampaikan sesuatu tanpa perlu meminta jeda.
Angin yang Berbicara Pelan
Angin ikut hadir, menyusul suara ombak. Hembusan lembutnya membungkus wajahku, seolah menyapa tanpa suara. Di telingaku, angin membawa cerita lain, cerita yang tak bisa terlihat, hanya bisa didengar jika kita mau diam.
Angin membuat daun-daun pohon kelapa di atas bergerak. Suara gesekannya terdengar seperti percakapan antara dua teman yang selalu tahu cara bicara tanpa perlu menjelaskan konteks. Daun-daun itu tidak menghasilkan dentingan keras, hanya desis halus seolah mereka tertawa bersama, sambil bercerita tentang ratusan pagi yang telah mereka lihat tanpa satu pun catatan.
Proses yang Tak Terlihat
Aku membuka mata sejenak.
Daun kelapa di atas tampak seperti jari-jari panjang yang membelah langit kelabu, bergoyang pelan. Rasanya seperti menonton sebuah tarian yang sudah berlangsung sejak lama, tapi baru kali ini aku benar-benar mau memperhatikannya.
Telingaku kembali merekam suara lain.
Ada yang berbeda. Lebih basah. Lebih ritmis.
Suara air mengalir.
Aku tahu suara itu. Aku pernah mendengarnya sebelumnya ketika berjalan di dekat pabrik pengolah garam. Suara air yang dipompa melalui pipa panjang, dialirkan ke kolam penguapan. Bukan suara sungai, bukan suara hujanl tapi suara air yang sedang bekerja.
Air itu bergerak, bukan karna gravitasi atau alam, tapi karena manusia. Dibawa dari laut, ditampung, dibiarkan menguap. Setelah itu, garam akan muncul, putih dan bersih. Suara air itu seperti detak mesin tanpa roda. Suara yang bekerja tanpa pujian, tapi akan selalu ada hasilnya.
Aku mendengarkan dengan hati-hati, dan suara itu, meskipun jauh, terasa dekat.
Air yang dahulu jadi ombak, kini menjadi siklus lain dari kehidupan. Mengembara melalui pipa-pipa, bersatu dengan panas matahari. Bekerja tanpa suara terbuka, tapi menghasilkan rasa di meja makan banyak orang. Aku tersenyum pelan. Ada yang indah dalam proses yang tidak dilihat, hanya didengar.
Lalu suara lain datang.
Dunia Tak Ikut Diam
Deru mesin. Motor.
Lalu mobil.
Tidak jauh dari sini, ada jalan besar. Kendaraan melintas, dengan suara yang berbeda-beda, kadang kasar, kadang berdesis, kadang berisik, kadang mendengung halus. Suara ban menyapu aspal, suara klakson dari jauh, dan sesekali suara orang berbicara sambil berkendara.
Suara-suara itu mengingatkanku pada dunia yang tak pernah benar-benar diam, bahkan ketika aku memilih diam.
Kelak, orang-orang itu akan sampai di tujuan mereka, entah pulang, entah bekerja, entah sekadar lewat. Dan mungkin mereka tak pernah tahu bahwa hanya beberapa meter dari jalan yang mereka lintasi, ada seseorang yang duduk diam mengamati dunia dari hening.
Aku mendengar lagi angin. Ombak masih datang.
Air masih mengalir. Kendaraan masih berjalan.
Dan semuanya tidak bertentangan. Semua suara itu berdampingan.
Aku mulai menyadari sesuatu.
Ketika kita diam, dunia tidak ikut diam. Ketika kita berhenti, dunia tetap bergerak.
Tapi di dalam diamku hari ini, aku bisa merasa sedang ikut bergerak, walaupun tubuhku tetap bersandar pada pohon kelapa.
Aku merasa sedang berjalan pula, tanpa kaki. Berjalan melalui suara.
Berjalan melalui waktu.
Tiba-tiba, suara kecil terdengar dari rumput.
Suara gesekan yang ringan. Hanya sekali. Lalu berhenti. Mungkin semut. Mungkin serangga lain. Tapi bagi telingaku yang sudah terbuka begini, suara itu terdengar seperti pengumuman kecil: “Aku juga ada di sini.”
Aku tersenyum lagi.
Di bawah pohon ini, aku tidak sendiri. Bahkan jika tidak ada manusia lain, aku ditemani oleh semesta yang tak pernah berhenti memancarkan suara. Setiap daun kelapa, setiap pasir yang tergeser angin, setiap tetes air yang jatuh dari daun. Semuanya bersuara, jika kita benar-benar mau mendengarnya.
Kutelentangkan tangan ke rumput. Rumput itu basah sedikit oleh embun. Dingin.
Dan diam.
Tapi diam yang menyimpan hidup. Suara lain datang, dari langit.
Bukan hujan. Bukan kilat. Tapi suara burung.
Burung yang terbang rendah, mungkin mencari tempat untuk berteduh sebelum hujan betul-betul turun. Sayapnya mengepak perlahan. Aku mendengar desis udara yang terbagi. Burung itu terbang ke arah barat, di mana langit tampak sedikit lebih terang.
Aku kembali menutup mata.
Burung itu terbang, tapi aku tidak merasa ditinggalkan. Tempat ini bukan tentang meninggalkan atau ditinggalkan. Di sini, semua lebih tentang hadir, tanpa harus melangkah.
Aku mendengar daun lain jatuh.
Sedikit lebih berat. Mungkin kelapa muda yang gugur karena angin. Suara tubuh muda pohon kelapa itu bertemu tanah, dan suara tumbukan itu membentuk titik baru di peta suara hari ini.
Suara air kembali bergema.
Aku membayangkan kolam garam, air asin yang sedang pelan-pelan berubah menjadi kristal. Suara itu terasa seperti detik jam, tapi detik yang tidak memaksa. Ia tidak menyorot waktu, hanya mengalirkannya.
Motor kembali lewat.
Lebih dekat kali ini. Suara knalpotnya sedikit batuk. Mungkin becak motor atau hanya motor tua yang tak diganti oli. Suara itu melintas cepat, lalu memudar. Tapi suara itu juga bagian dari simfoni.
Tiba-tiba, aku merasa tidak ingin pergi dari tempat ini.
Bukan karena tidak ada yang menungguku, bukan juga karena aku ingin lari dari apa pun. Tapi di tempat ini, aku bisa diam tanpa merasa salah. Bisa diam tanpa merasa kalah. Bisa diam, dan tetap merasa sedang berbicara, meski tak keluar satu kata pun dari mulutku.
Telingaku menangkap gema lain.
Suara kain yang tersentuh angin. Seperti ada potongan plastik atau kain bekas yang tersangkut di pagar bambu itu. Angin membuatnya bergerak dan menimbulkan bunyi halus. Aku membayangkan potongan kain itu mungkin bekas karung, mungkin kain dari panen, mungkin hanya sampah, tapi hari ini, ia memiliki suara. Dan itu cukup bagiku.
Mati lampu pun tidak mematikan suara-suara ini. Hujan pun tidak akan meniadakannya.
Mungkin nanti hujan akan datang, dan suara hujan akan bergabung dengan simfoni ini. Dan tempat ini akan menyambut hujan, seperti menyambut semua tamu yang datang.
Aku kini benar-benar duduk, tidak lagi hanya bertumpu pada tanah atau pohon kelapa, tapi berada di tengah kehidupan yang bergerak tanpa terburu. Teknologi tidak merusaknya. Kesunyian tidak mematikan suara. Semua hadir harmonis.
Aku sadar, suara-suara ini bukan kebetulan.
Mereka berasal dari dunia yang tetap berjalan. Yang menua. Yang berubah. Yang tumbuh. Yang bangkit dan runtuh.
Dan hari ini, aku duduk sebagai saksi.
Duduk di tempat di mana suara tidak hanya didengar, tapi dirasakan.
Dan ketika aku menutup mata, aku tidak lagi ingin menyingkir dari dunia ini. Aku ingin berada di sini. Mendengarkan semua hal yang biasanya hilang di tengah bising pikiran dan rutinitas.
Di bawah pohon kelapa ini, aku bukan siapa-siapa.
Tapi justru karena itu, aku merasa menjadi bagian dari segalanya. Aku kembali mendengar ombak.
Seperti dulu.
Tapi juga tidak sama. Ia seperti berkata:
"Teruslah duduk. Diam bukan berarti berhenti. Kadang, diam adalah cara untuk masuk ke dalam suara yang lebih besar dari kata-kata."
Aku membuka mata, dan langit masih kelabu. Tapi tak terasa gelap. Hanya menunggu. Seperti aku.
Dan aku tahu, jika hujan turun nanti, aku tidak akan bergerak. Aku akan tetap di sini.
Di bawah pohon kelapa.
Mendengarkan dunia yang tidak pernah benar-benar diam.
