Emotional Emptiness: Apakah Normal Merasa Mati Rasa?

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya
Tulisan dari AQILA SHEKINA PUTRI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Manusia pastinya pernah mendapatkan stimulus tertentu yang diproses oleh otak lalu menghasilkan suatu emosi dan reaksi yang sesuai dengan keadaan saat itu. Namun pernahkah Anda merasa numb atau tidak dapat merasakan suatu emosi? Pernahkah Anda merasa sendiri dan kesepian walaupun sedang berada di keramaian? Anda pasti akan bertanya-tanya apa yang salah dengan diri Anda.
Perasaan kosong dan hampa itu ada di dada Anda, namun Anda tidak yakin bagaimana hal itu bisa terjadi. Apakah itu perasaan sedih? melankolis? bosan? atau malah semua dari itu?
Pada umumnya, perasaan kehampaan ini muncul ketika seseorang baru saja kehilangan sosok yang berarti di dalam hidupnya. Namun pada beberapa orang, perasaan kosong ini timbul tanpa diketahui sebabnya. Jadi, apakah wajar untuk merasa kosong atau hampa tanpa memiliki alasan yang jelas? Nah, kita bahas lebih lanjut yuk tentang Emotional Emptiness!
Apa itu Emotional Emptiness?
Emotional Emptiness atau kekosongan emosional merupakan perasaan tidak nyaman di mana kita merasa tidak terikat kepada sesuatu. Perasaan ini dapat mengganggu kestabilan karena kita merasa terputus dari diri sendiri bahkan orang lain sehingga kita tidak yakin bagaimana menjalani kehidupan di dunia. Emotional emptiness ini dapat menyebabkan seseorang tetap merasa kesepian atau tidak merasakan antusias sama sekali bahkan saat berada di keramaian. Perasaan ini sangat berbeda dari depresi, panik, atau marah, sehingga membuat kita akan kebingungan saat menghadapinya.
Lalu, apa sih yang menyebabkan kekosongan tersebut? Apakah perasaan tersebut hanya datang ketika kita sedang berduka? Mari kita bahas lebih dalam lagi mengenai alasan mengapa kita merasakan emotional emptiness.
Mengapa kita bisa merasakan perasaan kosong atau hampa?
Banyak orang berpikir bahwa mereka merasakan emotional emptiness tanpa memiliki alasan yang jelas. Namun, faktanya mereka hanya belum menyadari alasan dibalik timbulnya perasaan tersebut. Mereka masih belum memahami dirinya dengan baik.
Emotional emptiness pada setiap orang pasti memiliki intensitas dan alasan yang berbeda-beda. Perubahan hormon, kehilangan pekerjaan, hubungan yang tidak sehat, dan tuntutan yang tidak realistis dapat menjadi penyebab terjadinya emotional emptiness. Bahkan situasi dalam kehidupan apapun yang mengharuskan kita untuk merenungkan kehidupan dapat menimbulkan perasaan hampa sementara. Nah, jadi sangat wajar loh bagi kita untuk merasakan emotional emptiness.
Meskipun begitu, pada beberapa kasus, emotional emptiness dapat juga menjadi tanda beberapa kondisi kesehatan mental, seperti depresi, bipolar, atau stres pascatrauma. Tetapi hanya para ahli kesehatan mental yang dapat memberi diagnosis akurat terhadap kondisi tersebut.
Emotional Emptiness dan adiksi, apakah berkaitan?
Kita mungkin mencari alasan atas perasaan yang kita rasakan dan memberi validasi kepada perasaan tersebut. Dalam kasus ini, kita seringkali melakukan apa saja untuk merasakan sesuatu, kita mungkin melakukan hal seperti menonton film sedih, mendengarkan lagu-lagu mellow, atau membaca tulisan-tulisan sedih. Tidak jarang juga orang mengisi kekosongan ini dengan mencari rasa sakit fisik, seperti melukai diri sendiri, penyalahgunaan alkohol atau zat, melakukan perilaku berbahaya, atau pergaulan seksual dan eating disorder dibanding menangani perasaan tidak nyaman ini secara langsung.
Penyalahgunaan alkohol atau zat-zat adiktif tersebut akan memberi otak reward dengan produksi dopamin yang berlebihan sehingga orang tersebut merasakan perasaan menyenangkan dan motivasi yang selama ini ia cari. Begitu juga dengan melukai diri sendiri, orang tersebut terkadang melakukannya hanya untuk “merasakan sesuatu”.
Perilaku-perilaku tersebut dipengaruhi oleh keinginan akan rasa nyaman, validasi, dan atensi yang akan membentuk sebuah adiksi sehingga orang tersebut dapat merasa lebih baik. Sayekti Pribadiningtyas, S.Psi., M.Pd. Psikolog, Wakil I Himpunan Psikologi Indonesia Cabang Malang, mengungkapkan bahwa orang-orang yang mengalami emotional emptiness cenderung memunculkan perilaku yang sifatnya impulsif untuk mengatasi rasa kesepian dan kehampaan yang dirasakan.
Namun, mengisi kekosongan yang ada melalui distraksi dan adiksi hanya dapat memberikan solusi sementara dan dapat membuat kita semakin asing dengan diri kita sendiri. Semakin seseorang berusaha untuk mengabaikan emosi ini, semakin ia akan tenggelam dalam kekosongan di dalam dirinya. Begitu juga ketika passion atau adiksi semakin berkurang, kita akan merasa kecewa dan kekosongan tersebut akan kembali lagi.
Bagaimana mengatasi Emotional Emptiness?
1. Akui kekosongan tersebut dengan lembut
Kita harus menerima emosi tersebut dibanding menghindarinya. Pada dasarnya, apabila kita mengacuhkan atau bahkan menghindari emosi negatif tersebut dengan mendistraksi diri menggunakan minuman keras, narkoba, atau melakukan self-harm akan membangun sebuah adiksi yang tidak baik bagi tubuh kita. Salah satu cara untuk menerima emosi negatif tersebut bisa dengan mindfulness meditation atau sekedar menuliskan apa yang kita rasakan.
2. Berinteraksi dengan orang lain
Interaksi dengan orang-orang terdekat akan membantu Anda untuk mengisi kekosongan tersebut. Terlebih apabila Anda dapat mengungkapkan apa yang Anda rasakan pada saat itu. Interaksi tersebut dapat memberi Anda dukungan dan emosi positif.
3. Self-care dan melakukan kegiatan yang memberi Anda kebahagiaan
Anda dapat mulai merawat diri Anda dengan mencari hobi baru, melakukan olahraga, atau aktivitas lainnya yang dapat mengisi kekosongan tersebut.
Jadi, emotional emptiness dalam intensitas yang wajar sangat normal terjadi pada diri kita. Kita harus menerima dan memberi validasi terhadap apa yang kita rasakan bukan justru mencari distraksi yang akan berujung menjadi adiksi terhadap sesuatu yang buruk. Semakin cepat kita menerima perasaan kosong dan hampa tersebut, semakin cepat pula kita mendapatkan cara untuk mengisi kekosongan tersebut dengan cara yang lebih positif.
Referensi
Lancer, D. (2019). Perspectives of Emptiness. Psychology and Behavioral Science International Journal, 12(4).
Didonna, F., & Gonzalez, Y. R. (2009). Mindfulness and feelings of emptiness. In Clinical handbook of mindfulness (pp. 125-151). Springer, New York, NY.
Z., P. A. (2022, August 26). Emptiness, Sebuah Perasaan Kosong dan Hampa Bahkan di Keramaian. Radius Supermedia Berita Malang Terpercaya. Retrieved December 12, 2023, from https://getradius.id/news/86735-emptiness-sebuah-perasaan-kosong-dan-hampa-bahkan-di-keramaian
