Konten dari Pengguna

Beli Barang Karena Keracunan Influencer?

Aqilla Dwi Febrianti

Aqilla Dwi Febrianti

Mahasiswa Keperawatan Universitas Airlangga

·waktu baca 3 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aqilla Dwi Febrianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber gambar: fotoprodukkatalog.
zoom-in-whitePerbesar
sumber gambar: fotoprodukkatalog.

Scroll santai di TikTok sering kali terasa tanpa tujuan. Namun, tanpa disadari, aktivitas hiburan ini kerap berakhir pada satu tindakan konkret: membuka keranjang kuning dan menyelesaikan pembayaran. Peralihan cepat dari menonton ke membeli inilah yang menjadi ciri khas baru ekosistem belanja digital di TikTok. Platform ini tidak lagi hanya menyajikan konten hiburan, tetapi juga membentuk lingkungan yang mendorong keputusan belanja secara spontan dan emosional.

Berbeda dengan iklan konvensional yang bersifat satu arah, konten influencer di TikTok bekerja secara lebih halus. Rekomendasi produk disisipkan dalam cerita personal, tutorial sehari-hari, atau pengalaman jujur yang terasa dekat dengan kehidupan penonton. Influencer tidak tampil sebagai “penjual”, melainkan sebagai teman digital yang berbagi solusi. Inilah yang membuat pesan promosi terasa lebih alami dan mudah diterima.

Dwivedi et al. (2023) menjelaskan bahwa influencer berperan sebagai opinion leader yang mampu memengaruhi cara konsumen menilai sebuah produk, bahkan sebelum konsumen menyadari bahwa mereka sedang berada dalam proses pengambilan keputusan. Fenomena ini menjadi dasar dilakukannya mini research oleh Kementerian Riset & Keilmuan AUBMO Universitas Airlangga berjudul “Pengaruh Influencer terhadap Pilihan Belanja Netizen”. Penelitian ini berfokus pada bagaimana konten influencer membentuk niat beli dan keputusan aktual pengguna TikTok, khususnya generasi muda.

Survei daring dilakukan terhadap 30 pengguna aktif TikTok berusia di atas 17 tahun yang pernah membeli produk atas rekomendasi influencer. Hasilnya menunjukkan bahwa keputusan belanja sering kali muncul bukan karena perencanaan, melainkan dorongan sesaat setelah menonton konten. Sebanyak 76% responden mengaku tertarik membeli produk setelah melihat review influencer, dan 70% benar-benar melanjutkannya ke tahap pembelian. Temuan ini memperlihatkan bahwa TikTok memperpendek jarak antara ketertarikan dan tindakan.

Salah satu faktor utama yang mendorong hal tersebut adalah rasa percaya. Sekitar 73% responden menilai influencer yang mereka ikuti memiliki pengetahuan dan pengalaman nyata terkait produk yang dipromosikan. Kepercayaan ini menciptakan persepsi bahwa keputusan membeli bukanlah tindakan berisiko, melainkan pilihan yang “aman” karena telah divalidasi oleh figur yang dianggap kredibel. Yan dan Yagnik (2023) juga menegaskan bahwa kredibilitas influencer berperan besar dalam meningkatkan kepercayaan merek dan niat beli konsumen.

Selain faktor psikologis, desain sistem TikTok Shop turut berkontribusi besar. Fitur keranjang kuning memungkinkan pengguna berpindah dari konten ke transaksi tanpa harus keluar dari aplikasi. Lebih dari 80% responden menyebutkan bahwa kemudahan ini membuat mereka lebih cepat mengambil keputusan. Penelitian dalam Journal of Business Research (2022) menunjukkan bahwa minimnya hambatan teknis dalam transaksi digital meningkatkan kemungkinan pembelian impulsif, karena konsumen tidak memiliki cukup waktu untuk mempertimbangkan ulang keputusannya.

Menariknya, keputusan belanja juga dipengaruhi oleh tekanan sosial digital. Sebanyak 68% responden mengaku membeli produk karena sedang viral dan ramai dibicarakan. Rasa takut tertinggal tren (fear of missing out/FOMO) menjadi pemicu kuat yang mendorong konsumsi, bukan lagi kebutuhan fungsional semata. Dalam konteks ini, belanja bertransformasi menjadi bagian dari partisipasi sosial di ruang digital.

Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa influencer tidak hanya memengaruhi apa yang dibeli konsumen, tetapi juga bagaimana mereka mengambil keputusan. Hubungan parasosial yaitu hubungan semu antara pengikut dan influencer yang menciptakan kedekatan emosional yang mampu mengaburkan batas antara rekomendasi dan dorongan personal (Dwivedi et al., 2023).

Mini research ini menyimpulkan bahwa TikTok telah membangun ekosistem belanja yang menggabungkan hiburan, kepercayaan, kemudahan teknologi, dan tekanan sosial dalam satu pengalaman utuh. Influencer menjadi pemicu awal, sementara sistem platform mempercepat keputusan akhir. Meski demikian, konsumen tetap perlu memiliki kesadaran kritis agar tidak terjebak dalam belanja impulsif yang berlebihan.

Bagi pelaku bisnis, temuan ini menegaskan bahwa kekuatan influencer tidak hanya terletak pada jumlah pengikut, tetapi pada kemampuan membangun narasi yang autentik dan relevan. Di platform TikTok, keputusan belanja bisa lahir dari hal sederhana yaitu sebuah video singkat di sela-sela scroll, namun dampaknya nyata, dari layar ponsel hingga transaksi di keranjang kuning.