Makin Keras Ngejar, Kok Makin Sering Gagal?

Mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Aqna Qolba Nadiya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak kamu ngerasa, semakin keras mengejar satu hal tertentu, justru semakin sering yang terasa adalah kegagalannya? Namun begitu kamu mulai berhenti ngejar dengan cemas, malah banyak hal baik tiba tiba datang dari arah yang nggak terduga. Rasanya seperti pola hidup yang sering banget dialami anak muda, di usia usia yang justru paling bersemangat untuk mengejar ambisi besar.
Banyak orang merangkum pengalaman ini dengan kalimat “stop chasing, start attracting”. Namun kalau dilihat dari sudut psikologi, fenomena ini jauh lebih masuk akal daripada sekadar dikaitkan dengan kekuatan supranatural.
Kenapa saat ngejar terus, yang kelihatan cuma sisi negatifnya?
Perasaan ini bisa dijelaskan lewat dua konsep utama: selective attention dan attention bias.
Secara sederhana, selective attention adalah cara otak kita memilih mana informasi yang diperhatikan dan mana yang diabaikan, karena otak nggak mungkin memproses semua hal sekaligus. Di dalam proses ini, muncul juga attention bias: kecenderungan otak untuk lebih banyak menangkap jenis informasi tertentu, tergantung pada emosi dan prioritas saat itu.
Saat seseorang terlalu fokus, bahkan terobsesi, pada satu tujuan, selective attention bikin otak otomatis memusatkan perhatian pada hal hal yang dianggap paling penting: target utama itu sendiri, ditambah segala hal yang terasa seperti ancaman atau kegagalan di jalannya. Di saat bersamaan, attention bias memperkuat kecenderungan ini, sehingga otak jadi jauh lebih peka pada:
• tanda tanda kegagalan, misalnya “ditolak”, “ditunda”, atau “nggak lolos”,
• kritik dan komentar negatif,
• serta hambatan yang terasa berat dan menakutkan.
Akibatnya, banyak peluang lain yang nggak langsung terkait dengan obsesi atau target itu misalnya tawaran kerja sampingan, ajakan kolaborasi, proyek kecil, atau ide kreatif yang awalnya terlihat biasa saja justru terlewat begitu saja atau dianggap nggak penting. Dalam situasi seperti ini, kamu merasa “semakin ngejar, semakin sering gagal”, bukan karena keadaan di luar jadi jauh lebih buruk, tapi karena otakmu lagi dilatih buat terlalu sering fokus pada ancaman dan kegagalan, sementara peluang lain perlahan terabaikan.
Ketika tekanan menurun, dunia jadi terasa lebih luas
Bagian inilah yang sering bikin orang merasa seolah olah “semuanya datang sendiri” setelah berhenti ngejar dengan cemas.
Ketika obsesi melonggar dan tekanan mulai turun, perhatian nggak lagi super sempit hanya pada satu jalur. Otak jadi lebih terbuka melihat pola, hubungan, dan peluang yang sebelumnya kurang terlihat. Yang penting diingat: banyak peluang itu sebenarnya sudah ada sejak lama, cuma baru jelas ketika lensa perhatianmu jadi lebih lebar.
Contohnya, setelah kamu berhenti hanya menunggu satu tawaran kerja impian, justru mulai banyak muncul ajakan proyek, kolaborasi, atau peluang lain yang dulu dianggap “nggak spesial” atau “nggak sepadan”. Kalau diputar balik pakai sudut psikologi, ini nggak terjadi karena keajaiban, tapi karena perhatianmu jadi jauh lebih luas dan kurang terjebak pada satu skenario tertentu.
Dari stres ke rasa tenang: perubahan cara berpikir
Ada pola hubungan yang cukup jelas di sini:
• Ngejar terus menerus dengan penuh cemas → stres naik → mood cenderung negatif → otak jadi lebih sempit dan defensif.
• Ketika kamu berhenti mengejar dengan cemas → tekanan berkurang → mood lebih positif → mental jadi lebih terbuka dan fleksibel.
Psikologi menyebut ini sebagai cognitive flexibility yaitu kemampuan berganti perspektif dan menangkap peluang baru serta broaden and build menurut Barbara Fredrickson, yang menjelaskan bahwa mood positif memperluas cara berpikir dan menguatkan sumber daya psikologis seperti harapan, kepercayaan diri, dan kreativitas.
Misalnya, orang yang lebih tenang cenderung lebih mudah mengatakan “iya” pada tawaran kecil, kolaborasi, atau eksperimen yang dulu dianggap “nggak cukup oke” atau “nggak layak dicoba”. Mereka jadi lebih responsif, bukan karena kecerdasannya tiba tiba naik, tapi karena otak mereka nggak lagi terlalu penuh dengan cemas dan rasa terancam.
Saat hati lebih tenang, peluang jadi lebih terasa dekat
Di bagian ini, psikologi positif ikut menjelaskan kenapa orang yang hidupnya udah agak “tenang dan puas” sering dibilang “lagi dibuka jalan”.
Psikologi positif (Seligman), konsep well being (Ryff & Keyes), dan flow (Csíkszentmihályi) menunjukkan bahwa orang yang punya psychological well being lebih tinggi cenderung:
• lebih optimis,
• lebih fleksibel,
• dan lebih terbuka terhadap perubahan.
Karena itu, mereka jadi lebih mudah mengenali dan merespons peluang baru, tanpa terjebak cuma pada satu skenario “harus begini, harus dapat ini, harus cari itu dulu”.
Hal yang cukup menarik, fenomena “banyak hal datang tiba tiba” sering muncul pada orang yang sudah:
• banyak kerja, belajar, dan mencoba sebelumnya,
• lalu secara mental melepas obsesi sempit dan tekanan berlebihan,
• tapi tetap terbuka menerima jalan yang tidak terduga.
Jadi, ini bukan cerita tentang “nggak pernah berusaha lalu datang sendiri”, tapi lebih ke “udah berusaha, tapi setelah hati lebih tenang, peluang yang selama ini terabaikan jadi jauh lebih kelihatan”.
Bukan soal berhenti, tapi soal cara ngejar
Masalahnya bukan ambisi itu sendiri, tapi cara kamu ngejar dan perasaan di dalamnya.
Ambisi yang sehat bikin hidup punya arah dan tujuan, tetap punya fokus, tapi tetap fleksibel dan nggak mengabaikan keseimbangan, recovery, dan hubungan sosial. Sementara ambisi yang jadi merusak justru:
• terlalu sempit dan obsesif,
• penuh kecemasan,
• dan menganggap bahwa kegagalan di satu jalur sama dengan kegagalan total dalam hidup.
Alhasil, muncul burnout, stres kronis, kehilangan makna, dan kekakuan saat menghadapi kegagalan. Alih alih adaptif, otak justru makin terjebak di satu jalur sempit.
Pola yang lebih sehat:
• tetap punya tujuan yang jelas,
• tapi buka kemungkinan jalan lain,
• dan berani melepas cengkeraman pada target yang terlalu sempit atau tidak realistis (goal disengagement).
Jadi yang perlu berubah bukan seberapa keras kamu ngejar, tapi cara kamu ngejar. Lebih tenang, lebih luas, dan nggak terlalu terpaku pada satu skenario. Karena peluang yang selama ini terabaikan bukan tiba-tiba muncul, mereka sudah ada, hanya kamu yang akhirnya mulai bisa melihatnya.
