Mahalnya buku, Rendahnya Literasi: Benarkah Harga Menjadi Penghalang Membaca?
Tulisan dari Aqni Rizqi Safari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Membaca sering disebut sebagai salah satu cara untuk memperluas wawasan. Namun, bagi sebagian masyarakat, keinginan untuk membaca tidak selalu mudah diwujudkan. Salah satu persoalan yang kerap muncul adalah harga buku yang dianggap semakin sulit dijangkau. Di tengah ajakan untuk meningkatkan budaya literasi, muncul sebuah pertanyaan: jika buku semakin mahal, apakah masyarakat masih memiliki kesempatan yang sama untuk membangun kebiasaan membaca?
Persoalan harga buku kembali menjadi perhatian pada 2026. Dosen Ilmu Informasi dan Perpustakaan Universitas Airlangga, Meinia Prasyesti Kurniasari, menyebut harga bahan bacaan sebagai salah satu tantangan dalam membangun budaya membaca karena dapat memengaruhi daya beli masyarakat terhadap buku.
Harga menjadi persoalan karena membeli buku bukan satu-satunya kebutuhan masyarakat. Bagi seseorang dengan pendapatan terbatas, pengeluaran untuk makanan, transportasi, pendidikan, dan kebutuhan sehari-hari tentu harus diprioritaskan. Buku, meskipun penting untuk pendidikan dan pengembangan diri, dapat dianggap sebagai kebutuhan yang masih bisa ditunda. Ketika harga sebuah buku meningkat, keputusan untuk membelinya pun menjadi semakin sulit.
Namun, apakah mahalnya buku secara otomatis membuat masyarakat menjadi tidak gemar membaca? Jawabannya tidak sesederhana itu.
Data Badan Pusat Statistik berdasarkan Survei Tingkat Kegemaran Membaca Masyarakat 2025 menunjukkan bahwa skor Tingkat Kegemaran Membaca Indonesia berada pada angka 54,80. Angka tersebut juga berbeda-beda antarprovinsi; misalnya DKI Jakarta berada pada 57,23, sedangkan Banten berada pada 56,53.
Data tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan membaca masyarakat memiliki banyak dimensi dan tidak dapat hanya dilihat dari seberapa banyak buku yang dibeli.
Sebuah studi literatur mengenai minat baca Generasi Z di Indonesia yang diterbitkan pada 2026 juga menemukan bahwa budaya literasi merupakan faktor penting dalam membentuk minat baca. Lingkungan belajar dan penggunaan gawai turut memengaruhi pola membaca, sementara harga buku disebut sebagai salah satu faktor yang dapat menghambat akses terhadap bacaan.
Dengan kata lain, harga buku lebih tepat dilihat sebagai salah satu bagian dari persoalan akses literasi, bukan sebagai satu-satunya penyebab rendahnya minat baca. Seseorang mungkin memiliki minat membaca yang tinggi, tetapi tidak selalu memiliki kemampuan ekonomi untuk membeli buku yang ingin dibacanya. Sebaliknya, seseorang yang memiliki kemampuan membeli buku belum tentu memiliki kebiasaan membaca yang kuat.
Di sinilah perbedaan antara minat membaca dan akses terhadap bacaan menjadi penting. Minat merupakan dorongan dari dalam diri seseorang, sedangkan akses berkaitan dengan apakah seseorang memiliki kesempatan dan fasilitas untuk memperoleh bahan bacaan. Ketika akses terbatas, minat yang sebenarnya sudah ada dapat menjadi sulit diwujudkan.
Meski demikian, membeli buku bukan satu-satunya jalan untuk memperoleh bahan bacaan. Perpustakaan, taman bacaan, pertukaran buku, serta layanan buku digital dapat menjadi alternatif. Pemerintah juga terus mengembangkan akses terhadap buku digital. Pada Mei 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengintegrasikan Sistem Informasi Perbukuan Indonesia (SIBI) dengan SLiMS untuk memperluas akses masyarakat terhadap koleksi buku digital. SIBI sendiri menyediakan berbagai koleksi buku yang dapat diakses secara digital.
Karena itu, persoalan literasi seharusnya tidak hanya dibebankan kepada masyarakat dengan tuntutan untuk “lebih rajin membaca”. Jika ingin meningkatkan budaya literasi, akses terhadap bacaan juga perlu diperhatikan. Buku yang berkualitas perlu tersedia dalam berbagai bentuk dan dapat dijangkau oleh masyarakat dari latar belakang ekonomi yang berbeda.
Pada akhirnya, mahalnya buku bukan berarti masyarakat Indonesia tidak memiliki minat membaca. Persoalannya lebih kompleks: terdapat hubungan antara daya beli, ketersediaan bahan bacaan, lingkungan, perkembangan teknologi, dan budaya membaca. Maka, daripada hanya bertanya mengapa masyarakat tidak membaca, mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah setiap orang sudah memiliki kesempatan yang cukup untuk membaca?
Sebab, membangun budaya literasi bukan hanya tentang mengajak seseorang membuka halaman pertama sebuah buku. Lebih dari itu, literasi membutuhkan ekosistem yang membuat seseorang mampu menemukan, memperoleh, dan menikmati bacaan tanpa menjadikan harga sebagai penghalang utama.
Membaca bukan sekadar tentang membuka halaman demi halaman, tetapi tentang membuka jalan menuju pengetahuan. Karena membaca adalah jembatan ilmu.

