Altruisme Ekologis

Mahasiswa Universitas Indonesia
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Arbar Wijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pulau Sumatera adalah rumah bagi jutaan jiwa manusia, rumah bagi jutaan hewan, dan rumah bagi jutaan tanaman. Menurut Ratnasari dan Buwono dalam Sumatera Masa Depan menjelaskan bahwa Pulau Sumatera adalah gerbang pariwisata Indonesia karena keunikan yang dimilikinya, mulai dari alamnya yang memukau, budayanya yang beragam, hingga letaknya yang strategis.
World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia juga merilis bahwa Sumatera adalah satu-satunya tempat di dunia di mana harimau, gajah, badak, dan orang utan hidup berdampingan. Sumatera juga merupakan rumah bagi keanekaragaman tanaman besar dari hutan dataran rendah lainnya, Sumatera adalah rumah bagi 218 jenis tanaman vaskuler, dan Sumatera adalah rumah bagi tanaman endemik atau tanaman yang tidak dapat ditemukan di tempat lain di dunia, Titan Arum (Amorphophallus Titanium).
Namun, keindahan yang hadir bagi jutaan kehidupan di pulau Sumatera ini seketika rapuh. Akhir November 2025 menjadi sebuah catatan kelam bencana ekologis yang melanda pulau Sumatera. Peristiwa yang berdampak terhadap tiga provinsi di Sumatera ini (Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat) telah menimbulkan dampak yang serius bagi masyarakat.
Banjir bandang yang melanda 50 kabupaten menjadi catatan serius untuk kita evaluasi secara bersama. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan pada 2 Desember 2025 terdapat 605 korban meninggal dunia, 464 masih hilang, dan 570 ribu orang mengungsi atas bencana ekologis yang terjadi di pulau Sumatera. Selain itu, ratusan fasilitas pendidikan dan jembatan rusak, serta puluhan ribu rumah hancur. Melihat kondisi ini, penting untuk memahami bagaimana bencana ekologis di Sumatera memunculkan sekaligus menuntut tindakan altruisme dari manusia.
Altruisme Ekologis sebagai Etika Lintas Generasi
Altruisme adalah sikap dan/atau tindakan manusia dalam rangka membantu orang lain tanpa berharap adanya timbal balik atau balas jasa. Arifin dalam bukunya Psikologi Sosial menjelaskan berbagai definisi altruisme menurut para ahli. Misalnya saja penjelasan Auguste Comte yang mendefinisikan bahwa altruisme berasal dari kata “alteri” yang berarti “orang lain” dengan penekanan terhadap tindakan mementingkan orang lain.
Daniel Batson juga menjelaskan bahwa altruisme dapat menimbulkan perasaan yang positif pada saat seseorang memiliki motivasi altruistik. David O. Sears (dalam buku Psikologi Sosial Islami karya Fuad Nashori) juga menjelaskan bahwa perilaku altruisme merupakan suatu tindakan sukarela yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang dalam rangka menolong orang lain tanpa mengharapkan apapun, kecuali mungkin “rasa” melakukan kebaikan.
Definisi-definisi tersebut bukanlah sekadar teori belaka, melainkan sebuah fenomenologi yang terjadi di masyarakat, bahwa adanya tindakan membantu orang lain semata-mata hanya untuk membantu, bukan untuk maksud dan tujuan tertentu. Perilaku-perilau tersebutlah yang kini muncul dan dapat kita saksikan dalam aksi sosial yang dilakukan para relawan dan masyarakat di pulau Sumatera yang menjadi wujud nyata dari definisi-definisi altruisme ini.
Berkaitan dengan alam, nampaknya sikap altruistik ini dapat kita kaitkan dengan alam. Hari ini, kita yang tidak terkena dampak dari bencana ekologis di Sumatera, masih diberikan kesempatan untuk hidup berkat sikap altruistik orang-orang di masa lalu. Daniel Batson dalam bukunya Altruism in Humans menjelaskan bahwa empati sebagai emosi yang berorientasi pada orang lain yang timbul akibat dan sesuai dengan kesejahteraan yang dirasakan oleh seseorang yang membutuhkan.
Orang-orang di masa lalu menyadari bahwa kita di masa kini membutuhkan bantuan mereka dalam menjaga alam. Batson juga menjelaskan bahwa altruisme adalah sebuah perilaku menolong orang asing atau perilaku yang tidak dapat dijelaskan melalui seleksi kekerabatan. Lalu, bagaimana dengan orang lain di masa depan? Apakah kita akan membiarkan mereka di masa depan untuk hidup menderita karena alam hari ini tidak kita jaga? Atau kita juga memiliki sikap altruistik untuk menjaga alam agar mereka di masa depan dapat menikmati keindahan alam sebagaimana apa yang kita rasakan hari ini?
Kita sadar betul bahwa bencana ekologis yang terjadi di Pulau Sumatera adalah suatu hal yang sangat menyedihkan dan menyakitkan. Mereka yang abai terhadap alam, telah membiarkan alam menyerang lingkungan manusia. Banjir bandang yang terjadi seakan membawa rudal alami menghantam berbagai kehidupan.
Tembok-tembok rumah seketika hancur dihantam gelondongan kayu yang ditebang oleh para perusak alam. Ribuan orang kelaparan, komunikasi digital sulit didapatkan, para keluarga tak terhubung, seekor gajah endemik sumatera pun mati diterjangnya. Maka pertanyaan selanjutnya, apakah jika kita hari ini menderita atas sikap orang-orang yang merusak di masa lalu akan kita wariskan kepada orang-orang di masa depan?
Merawat Alam, Merawat Masa Depan
Merusak alam sama dengan merusak manusia lain dan menjaga alam adalah tindakan altruisme lintas generasi. Bencana ekologis yang melanda Pulau Sumatera bukanlah semata-mata peristiwa yang “alamiah”, melainkan akumulasi dari campur tangan manusia terhadap keseimbangan lingkungan. Dalam sudut pandang Sosio-Ekologis, kerusakan hutan, degradasi daerah aliran sungai, serta perubahan tata guna lahan mengganggu kemampuan tanah dan sungai menyerap serta menahan limpahan air, sehingga memicu banjir ekstrem. Jika hari ini kita gagal menumbuhkan perilaku altruistik terhadap alam, maka bencana ekologis serupa bukan hanya berpotensi terulang, tetapi justru akan menjadi warisan pahit bagi generasi yang akan datang.
Politik-Ekologi juga menjadi bagian penting peran pemerintah yang dalam hal ini telah gagal memberikan keputusan dalam pengelolaan hutan di Sumatera. Hal ini terafirmasi dalam pidato Muhaimin Iskandar, Menteri Koordinator Pemberdayaan Manusia RI, yang mengajak pemerintah, khsusunya Menteri Kehutanan dan Menteri ESDM, untuk melakukan taubat nasuha yang menegaskan perlunya refleksi dan evaluasi mendalam atas kebijakan yang selama ini dijalankan. Seruan untuk bertobat secara substantif ini dapat dibaca sebagai bentuk altruisme ekologis, sebuah panggilan agar para pemangku kebijakan menempatkan keberlanjutan alam dan keselamatan generasi mendatang di atas kepentingan jangka pendek.
Dalam sudut pandang ajaran agama, tidak satu pun tradisi spiritual yang membenarkan perusakan alam. Sebaliknya, alam adalah bagian dari amanah yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk dipelihara dan dijaga keseimbangannya. Manusia harus tetap hidup berdampingan dengan alam karena menjaga alam adalah bagian dari tanggung jawab moral. Alam tidak akan merusak kehidupan manusia jika manusia tidak merusak kehidupan alam. Merawat alam adalah tindakan altruisme yang paling tinggi kebaikannya, sebab tindakan kita pada hari ini akan berdampak terhadap jutaan kehidupan di generasi mendatang.
