FOMO, Overthinking, dan Siapa Aku di Dunia Digital?

Mahasiswa Universitas Pamulang Fakultas Teknik Informatika S1
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Arsyad Sadewa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak sih kamu merasa hidupmu nggak secerah teman-teman yang selalu posting di Instagram?
Atau mungkin kamu merasa bingung tentang siapa diri kamu sebenarnya di tengah derasnya konten yang terus mengalir?
Kalau iya, kamu nggak sendirian!
Banyak dari kita yang menghadapi tiga masalah besar ini di era digital, yaitu FOMO, overthinking, dan krisis jati diri.
FOMO, Ketakutan Ketinggalan yang Menghantui
Siapa yang nggak pernah merasa ketinggalan saat melihat teman-teman berlibur, makan enak, atau bahkan meraih pencapaian di media sosial?
FOMO adalah perasaan takut kalau kita melewatkan sesuatu yang “penting” atau “seru” dalam hidup orang lain. Tapi, tahukah kamu kalau kebanyakan dari apa yang kita lihat di media sosial itu hanyalah ilusi?
Foto atau video yang dibagikan seringkali sudah dipilih dan diedit sedemikian rupa agar tampak sempurna. Kenyataannya, siapa pun yang kamu lihat itu juga punya masalah mereka sendiri, meskipun nggak dibagikan ke publik. Jadi, jangan terjebak perasaan FOMO yang nggak beralasan. Kebahagiaan bukan diukur dari jumlah suka (like), tetapi dari kebebasan dari perbandingan.
Overthinking, Pikiran yang Tak Pernah Berhenti
Sering nggak sih kamu terjebak dalam pikiran berlebihan tentang hal-hal kecil? Misalnya, kamu kirim pesan ke teman, tapi mereka nggak langsung jawab. Atau mungkin kamu berpikir tentang foto yang kamu unggah,
"Apakah caption-nya cukup bagus?"
"Kenapa nggak ada yang nge-like?"
Nah, itu semua adalah bentuk overthinking, yaitu berpikir berlebihan.
Di era digital ini, kita terpapar begitu banyak informasi pesan, pemberitahuan, komentar yang membuat kita merasa harus selalu responsif. Padahal, sering kali kita menghabiskan waktu untuk menganalisis hal-hal yang sebenarnya nggak perlu dipikirkan terlalu dalam. Kuncinya adalah belajar untuk berhenti sejenak dan memberi ruang bagi ketenangan.
Krisis Jati Diri, Siapa Sih Kita Sebenarnya?
Di dunia digital yang dipenuhi konten dan opini, kita sering merasa bingung,
"Siapa diri kita sebenarnya?"
Media sosial memberi kebebasan untuk menampilkan versi terbaik dari diri kita, namun kadang itu justru membuat kita lupa siapa kita di dunia nyata. Krisis jati diri ini seringkali muncul ketika kita merasa perlu mengikuti tren atau standar yang ditetapkan orang lain.
Saat kita terus-menerus melihat orang lain memamerkan pencapaian, gaya hidup, dan kebahagiaan mereka, kita bisa merasa hidup kita nggak cukup berarti. Padahal, setiap orang punya jalan hidup masing-masing, dan nggak ada yang harus mengikuti standar orang lain. Keaslian itu penting, jadi lebih fokus pada apa yang membuat kamu merasa bahagia dan percaya diri.
Cara Menghadapinya, Mulailah dari Diri Sendiri
Kurangi Penggunaan Media Sosial. Cobalah untuk lebih selektif dalam memilih platform dan batasi waktu yang dihabiskan di sana. Mungkin cukup 30 menit setiap hari untuk memeriksa pembaruan, lalu gunakan waktu itu untuk aktivitas lain yang lebih produktif.
Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain. Setiap orang punya perjalanan hidup yang berbeda, jadi jangan bandingkan dirimu dengan orang lain. Apa yang mereka tampilkan di media sosial bukanlah gambaran lengkap dari kehidupan mereka.
Praktikkan Kesadaran Penuh (Mindfulness). Fokuskan perhatianmu pada momen saat ini. Kalau ada pikiran berlebihan yang datang, coba alihkan perhatianmu ke hal-hal nyata di sekitar kamu—pernapasan, suasana, atau aktivitas yang kamu nikmati.
Tetap Menjadi Diri Sendiri. Jangan terjebak dalam pencitraan yang nggak asli. Tampilkan dirimu apa adanya dan lakukan hal-hal yang membuat kamu bahagia tanpa merasa harus mengikuti tren atau pendapat orang lain.
Menemukan Ketenangan di Tengah Keriuhan
Menghadapi FOMO, overthinking, dan krisis jati diri memang bukan hal yang mudah, terutama di dunia digital yang penuh tekanan. Namun, dengan sedikit kesadaran dan pengelolaan waktu yang bijak, kita bisa menemukan kedamaian dalam diri sendiri. Jangan biarkan hidupmu dikendalikan oleh apa yang orang lain pikirkan atau apa yang kamu lihat di layar. Kebahagiaan sejati datang dari menerima diri sendiri, bukan dari pandangan orang lain.
