Konten dari Pengguna

Pendidikan atau Sekadar Ilusi? Saat Ilmu Lenyap Seminggu Setelah Ujian

Arsyad Sadewa

Arsyad Sadewa

Mahasiswa Universitas Pamulang Fakultas Teknik Informatika S1

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arsyad Sadewa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ruang kelas ( sumber https://pixabay.com/id/photos/siswa-kelas-sekolah-sedih-395568/ )
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ruang kelas ( sumber https://pixabay.com/id/photos/siswa-kelas-sekolah-sedih-395568/ )

Ribuan Jam Belajar, tapi Ilmu Cepat Hilang

Setiap tahun, jutaan pelajar Indonesia menghabiskan 12 tahun hidupnya di ruang kelas. Pagi hingga sore, lima hari seminggu, selama lebih dari satu dekade. Tapi setelah semua ujian selesai, berapa banyak pelajaran yang benar-benar membekas?

“Ujian selesai. Buku ditutup. Ingatan ikut menghilang.”

Banyak siswa mengaku lupa hampir semua materi hanya seminggu setelah ujian. Jika itu yang terjadi, maka kita harus bertanya:

Apakah sistem pendidikan kita sedang mencerdaskan?

Atau justru sekadar menciptakan rutinitas kolektif yang tak bermakna?

Sistem Kita Menghafal, Bukan Memahami

Ilustrasi bingung ( sumber https://pixabay.com/id/photos/anak-laki-laki-anak-bingung-orang-61171/ )

Menurut Dr. Indra Charismiadji, praktisi dan pemerhati pendidikan, sistem pendidikan Indonesia masih sangat berorientasi pada hafalan dan nilai ujian, bukan pada pemahaman mendalam.

“Kita belajar untuk ujian, bukan belajar untuk hidup. Anak-anak dijejali informasi yang tidak kontekstual. Akibatnya, mereka bisa menjawab soal hari ini, tapi lupa besoknya. ”

Pernyataan itu selaras dengan laporan World Bank yang menyebut Indonesia mengalami “learning crisis”, yakni kondisi di mana siswa hadir di sekolah tetapi tidak mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna.

Belajar yang Relevan adalah Kunci

Prof. Dr. Arief Rachman, tokoh pendidikan nasional, menegaskan bahwa kurikulum kita terlalu berat dan tidak berpihak pada murid.

“Yang harus dikejar bukan seberapa banyak materi, tapi seberapa relevan dan membekasnya dalam kehidupan sehari-hari. ”

Namun, realitanya, anak-anak masih dijejali hafalan panjang tanpa tahu mengapa itu penting untuk hidup mereka.

Sekolah Tak Mengajarkan Hidup

Di media sosial, anak-anak muda kerap melontarkan kritik:

12 tahun sekolah, tapi tak diajarkan cara bayar pajak, bikin CV, atau mengelola stres.

Keluhan ini tak bisa dianggap remeh. Pendidikan seharusnya membekali murid menghadapi hidup nyata, bukan sekadar menghadapi ujian. Sayangnya, banyak lulusan sekolah yang merasa asing saat berhadapan dengan dunia kerja dan kehidupan sosial.

Belajar Harus Lebih dari Sekadar Tugas

“Kemampuan menyelesaikan soal tidak sama dengan kemampuan menyelesaikan masalah,” kata Dr. Anita Lie, guru besar pendidikan dari Universitas Widya Mandala.

Jika sekolah hanya mengajarkan cara menjawab soal, tapi tidak melatih cara berpikir kritis, empati, atau kerja sama, maka sistem ini gagal mencapai tujuannya.

Harus Ada Perubahan dari Akar

Ilustrasi perubahan ( sumber https://pixabay.com/id/photos/jam-pasir-waktu-biarawan-buddhis-1875812/ )

Sekolah bukan tempat menyetor hafalan, melainkan tempat mengasah nalar, karakter, dan keberanian berpikir. Kalau sistem pendidikan terus mengukur kecerdasan dari kecepatan mengisi lembar jawaban, kita sedang kehilangan arah.

Sudah waktunya pendidikan tidak lagi sekadar dipandang sebagai formalitas untuk dapat ijazah, tetapi sebagai proses pertumbuhan manusia seutuhnya.

Pendidikan Seharusnya Membekas, Bukan Lewat

Jika ilmu hanya bertahan seminggu, maka 12 tahun yang kita habiskan hanyalah formalitas. Itu bukan kesalahan murid. Itu tanggung jawab sistem yang perlu dirombak.

“Pendidikan bukan sekadar mempersiapkan anak menjawab soal, tapi mempersiapkan mereka menghadapi hidup.” -Dr. Indra Charismiadji