Konten dari Pengguna

Sering Mendadak Lupa Akibat Stage Fright atau Demam Panggung, Apa Alasannya?

Chintya Ardenia Putri

Chintya Ardenia Putri

Mahasiswi Psikologi Universitas Brawijaya

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Chintya Ardenia Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Photo: Pinterest
zoom-in-whitePerbesar
Photo: Pinterest

“Stage fright was a stigma one suffered alone in silence” - Julie Jaffee Nagel

Pernahkah kalian mengalami "demam panggung" ketika tampil di suatu acara? Entah itu untuk menari, menyanyi, berpidato di depan umum, dan sebagainya? Nah, ketika berada di atas panggung atau saat pentas biasanya ada seseorang yang merasakan takut, cemas, gugup, gemetar, dan lainnya. Akibat munculnya perasaan-perasaan tersebut, otak kita akan bereaksi seperti lupa mendadak tentang hal-hal terkait gerakan, lirik, nada, dan sebagainya. Apakah kalian pernah mengalaminya?

Bagi sebagian orang yang hendak memberikan suatu penampilan di atas panggung mungkin pernah merasakan stage fright ini. Bahkan tidak hanya ketika pentas pertama saja merasakan hal tersebut, ketika tampil di pentas kedua, dan seterusnya, stage fright itu mungkin masih terus dirasakan. Lalu, kenapa hal itu bisa terjadi?

Stage Fright atau Demam Panggung

Sebagai pembuka, alangkah baiknya kita pahami dulu apa sih "demam panggung" itu? Menurut KBBI, demam panggung adalah perasaan tidak tenang (gugup) ketika berada di atas panggung atau ketika pentas. Gejala fisik seseorang yang mengalami demam panggung dapat nampak seperti, gemetar, berkeringat, dan hiperventilasi, gejala psikologis berupa perasaan tidak aman meskipun telah dipersiapkan dengan baik; dan seseorang dapat merasakan demam panggung sebagai akibat dari ketakutan akan ejekan, rasa malu, khawatir takut salah teknik dan ingatan (Nagel, 2018).

Selain itu, ketakutan akan tidak dicintai, ditinggalkan, tidak diinginkan bisa menjadi terinternalisasi dalam pikiran pemain (Gabbard 1997; Lansky 2008; Lansky dan Morrison).

Dengan kata lain, pemain memiliki keinginan untuk memuaskan para penonton tetapi disisi lain ada perasaan takut akan gagal dan ditolak oleh penonton.

Kenapa demam panggung dapat menyebabkan lupa mendadak?

Ada beberapa alasan kenapa manusia bisa mengalami lupa mendadak ketika sedang merasakan demam panggung atau gugup:

Pertama, bagian otak manusia terdiri dari tiga bagian yaitu neocortex (yang menjadi pusat berpikir manusia), limbic system, dan reptilian brain. Ketika kita merasa gugup, takut, cemas, dan merasa tertekan ketika hendak pentas, bagian otak yang aktif adalah otak reptil yang tugasnya mengatur pernapasan, detak jantung, dan reaksi fight or flight (hadapi atau lari dari hal yang menyebabkan gugup) di tubuh kita ketika merasa terancam. Sementara sistem otak yang bertugas untuk menghafal, belajar, memahami segala informasi adalah bagian neocortex. Secara logika pun dapat kita pahami, jika kita mengalami demam panggung maka segala ingatan yang tersimpan dalam neocortex menjadi terhambat untuk ‘keluar’ karena aktifnya sistem otak reptil.

Kedua, terkait sistem hormonal dalam diri seseorang ketika mengalami demam panggung atau gugup adalah meningkatnya hormon kortisol atau hormon pemicu stress. Karena meningkatnya hormon kortisol ini otak kita seperti menciptakan memori baru tentang "Bagaimana reaksi penonton ketika pentas dimulai?" "Apakah mereka menyukai penampilan yang akan ditampilkan nanti?".

Akibat saking banyaknya memori-memori baru yang diciptakan, maka secara tidak langsung memori-memori lama terkait pementasan (gerakan, nada, lirik, dan lainnya) akan tertutup dengan memori baru itu. Ketika hormon kortisol itu berkurang dan diri menjadi lebih tenang, maka fungsi otak akan seperti awal lagi di mana memori-memori lama masih akan tetap ada dan membuat kita mampu mengingat dengan baik.

Ketiga, ketika kita sedang mengalami demam panggung biasanya pikiran kita akan penuh dengan hal-hal lain atau fokus lain. Semakin banyak hal-hal yang dipikirkan ketika pentas, maka otak akan terdistraksi dan kita menjadi susah fokus. Hal itu yang menyebabkan kita suka lupa mendadak ketika tampil.

Keempat, berkaitan dengan kondisi emosional. Ashby, Isen & Turken (1999) mengembangkan teori neuropsikologis mengenai pengaruh emosi terhadap kognisi. Secara singkat, teori ini menjelaskan bahwa ketika emosi seseorang sedang dalam kondisi netral maka dopamin dalam tubuh akan meningkat dan dengan meningkatnya dopamin ini akan mempengaruhi peningkatan kinerja berbagai tugas kognitif, termasuk memori.

Jadi, singkatnya ketika kita sedang mengalami demam panggung yang berarti kondisi emosi saat itu sedang tidak dalam kondisi netral karena ada rasa takut, cemas, dll maka kinerja tugas kognitif memori akan cenderung menurun sehingga tak jarang akan menimbulkan lupa.

TIPS KETIKA MENGALAMI DEMAM PANGGUNG

  1. Tarik napas dan pejamkan mata supaya rasa panik berangsur-angsur berkurang dan kita bisa kembali fokus ke pementasan;

  2. Yakinkan diri kalian bahwa kalian mampu memberi pementasan terbaik nantinya;

  3. Buang jauh-jauh pikiran bahwa kalian akan melakukan kesalahan di atas panggung atau memikirkan bagaimana reaksi penonton di sana. Focus only on giving your best!

  4. Berdoa ketika hendak pentas;

  5. Dan terakhir, jika memang ketika sudah di atas panggung dan kalian tiba-tiba mendadak lupa mungkin yang bisa dilakukan adalah tetap fokus dan melanjutkan pentas kalian hingga selesai. Lihat teman-teman di sekeliling kalian jika memang kalian lupa gerakan, nada, dan lain-lainnya tetapi jangan berhenti di tengah jalan ya.

Ilustrasi demam panggung.

Daftar Rujukan

Ashby, F. G., Isen, a. M., & Turken, A. U. (1999). A neuropsychological theory of positive affect and its influence on cognition. Psychological Review, 106, 3, 529‐550.

Gabbard, G.O. (1997). The vicissitudes of shame in stage fright. In Work and Its Inhibitions: Psychoanalytic Essays, ed. C.W. Socarides & S. Kramer. Madison, CT: International Universities Press, pp. 209–220.

KBBI. Demam panggung.

Lansky, M.R. (2008). Jealousy and envy in Othello: Psychoanalytic reflections on the rivalrous emotions. In Jealousy and Envy: New Views on Two Powerful Emotions, ed. L. Wurmser & H. Jurass. New York: Routledge, pp. 25–48.

Nagel J. J. (2018). Memory Slip: Stage Fright and Performing Musicians: Journal of the American Psychoanalytic Association. DOI: 10.1177/0003065118795432

Ruangguru. (2016, Juni 1). Ruang Guru. Retrieved Maret 29, 2021, from https://www.ruangguru.com/blog/hindari-panik-saat-mengerjakan-ujian