• 4

Bayang Letusan Dahsyat Gunung Agung 1963

Bayang Letusan Dahsyat Gunung Agung 1963


Maletus Gunung Agung medal hagni, hudan hawu mawor watu...isaka 1884. Isaka 1887, rijek jagate hantuk parthe. Pang, sasih, kapat, tekeng, tang, ka, 5, bintang kukus ring hambara meh rahina bener kangin. Ring purnama kalima, gentuh pasaning segara, hangrubuhaken pinggir, ngilyaken watu kakalih, ring segara Hintaran, kadi kubu goognya. --Lontar Puja Panambutan
Tahun 1963 Gunung Agung meletus, lalu 1965 masyarakat hancur karena partai, banyak warga dibunuh. Dari lontar Puja Panambutan, kita diajak eling, menjaga keheningan batin, mulat sarira (mawas diri) dan merenung: apakah ini berulang tahun 2017 meletus, dua tahun kemudian, 2019, muncul ribut-ricuh-kacau karena partai? Semoga jangan terulang ritme kekacauan itu. --Letusan Gunung Agung dalam Catatan Lontar Bali, Sugi Lanus
Isaka yang tercantum dalam Lontar Puja Panambutan di atas ialah kalender Bali. Isaka 1884 adalah tahun 1963 dalam kalender Masehi, dan isaka 1887 adalah tahun 1965.

Doa untuk Gunung Agung

Pengungsi di Lapangan Ulakan, Karangasem (Foto: Cornelius Bintang/kumparan)
Kadek Yulianti tak berpikir panjang ketika diajak mengungsi oleh keluarganya. “Saya takut kalau (Gunung Agung) meletus. Dulu dengar cerita letusannya besar sekali,” ucap Kadek ketika ditemui di tenda pengungsian Lapangan Ulakan, Karangasem, Senin (2/10), merujuk pada letusan besar Gunung Agung tahun 1963.
Perempuan 29 tahun itu sudah beberapa kali mendengar cerita tentang bagaimana masyarakat melarikan diri ketika Gunung Agung mengamuk 54 tahun lalu.
Waktu itu, orang tua dan tetangga mereka yang tinggal di Desa Budakeling langsung lari sesaat setelah gunung meletus. Jangan bayangkan masa itu seperti masa kini. Tak ada peringatan dini dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Tak ada pula proses pemantauan ketat atas aktivitas vulkanik dan antisipasi evakuasi penduduk oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Maka, begitu gunung meletus, penduduk langsung lari tanpa bantuan transportasi. Lari saja, sementara jalanan bersanding dengan jalur lahar yang mengalir deras.
Erupsi Gunung Agung 17 Maret 1963 termasuk bencana alam terbesar yang pernah terjadi di Indonesia dalam 100 tahun terakhir. Letusan itu menewaskan 1.549 orang, dengan tambahan 200 orang lagi yang terseret pada banjir lahar dua bulan berikutnya, Mei 1963.
Letusan kala itu juga menyebabkan 1.700 rumah hancur dan 225.000 orang kehilangan mata pencaharian.
Angka-angka tersebut cukup menjadi pengingat bahwa perlu langkah-langkah mitigasi agar kehancuran bisa dihindarkan. Dan generasi berikutnya yang lahir dengan bayang-bayang masa lalu itu langsung tanggap menghadai intaian bencana letusan Gunung Agung.
Begitu status Gunung Agung ditingkatkan ke level tertinggi, Awas, warga Kabupaten Karangasem yang berada di zona bahaya, Kawasan Rawan Bencana III, bergegas mengungsi. Wilayah itu harus dikosongkan.
Bahkan ketika pemerintah menetapkan hanya 27 desa di Kabupaten Karangasem yang berada di zona merah, penduduk 52 desa lain yang berada di luar zona itu ikut mengungsi.

Ritual Meayu-ayu Gunung Agung

Ritual Meayu-ayu Gunung Agung (Foto: ANTARA/Nyoman Budhiana)
Ingatan tentang letusan 1963 tak hanya soal tragedi. Sebagai gunung yang disucikan oleh umat Hindu Bali, peran Gunung Agung dan Pura Besakih-nya amat sentral. Gunung Agung dianggap sebagai tempat bersemayam Batara Siwa, satu dari tiga dewa utama (Trimurti) dalam agama Hindu.
Dalam konsep dasar spiritual Bali, dikenal istilah Caturlokapala--ruang pemujaan Tuhan yang menekankan pada keseimbangan semesta lewat representasi arah mata angin.
Pada Caturlokapala itu, Gunung Lempuyang berada di sisi timur, Gunung Bratan di sisi barat, Gunung Mangu di utara, dan Gunung Andakasa di selatan. Keempatnya berporos di Gunung Agung dan Gunung Batur--dan Pura Besakih di lereng Gunung Agung adalah poros mandala (area sakral) dari Gunung Caturlokapala tersebut.
Kosmologi itu memengaruhi cara pandang umat Hindu Bali, termasuk kacamata mereka dalam melihat erupsi Gunung Agung.
“Gunung Agung kan meletus 1963 paling dahsyat. Dahulu itu pengetahuan orang kan beda, apakah laharnya itu (dianggap) dewa yang ingin menghampiri penganutnya atau bagaimana,” kata Wayan Sudiana, seorang pengungsi di Lapangan Ulakan.
Maka bila lahar dianggap sebagai dewa yang turun menyambangi manusia, tak semua penduduk berlari ketika melihat lahar turun. Sebagian malah menerjang bahaya dengan menanti dan menyambutnya.
Makna gelegak magma Gunung Agung memang tak semata aktivitas vulkanik bagi umat Hindu Bali. Kisah lisan yang diturunkan dari generasi ke generasi itu bergulir sama dari bibir Sudiana--lelaki 37 tahun yang belum lahir ketika kampungnya di Desa Duda, Kecamatan Selat, Karangsem, dilahap lahar Gunung Agung 54 tahun silam: letusan ini bukan letusan biasa, ada simbol spiritual di baliknya.

Doa untuk Gunung Agung

Letusan vulkanik Gunung Agung 1963 (Foto: www.volcano.si.edu)
Di antara cerita lisan turun-temurun soal letusan Gunung Agung 1963, umum dikisahkan tentang orang-orang yang melakukan ritual menyambut awan panas dan lahar. Alih-alih berlari karena takut ditelan awan panas, isi perut gunung berapi yang dimuntahkan dianggap sebagai “Batara Rawuh” atau kedatangan dewa.
Masyarakat saat itu berada dalam situasi psikologis yang sama sekali berbeda. Mereka sama sekali tak sadar bencana, ditambah soal kepercayaan yang begitu kental.
Letusan tahun 1963 terjadi ketika umat Hindu Bali tengah melakukan hajatan Eka Dasa Rudra, salah satu sembahyang terbesar di Pulau Bali. Ini upacara 100 tahun sekali menyambut perputaran tahun Saka, untuk meresapi segala ciptaan Tuhan sebagai wujud kekuasaan-Nya yang tak terbatas.
Maka ketika letusan terjadi, masyarakat Bali terbagi dua. Ada yang mengungsi menuju tempat aman sembari berkejaran dengan lahar, dan ada yang bertahan di pura.
Erupsi Gunung Agung 1963 jadi pelengkap ujian bagi penduduk Bali setelah awal 1960-an mereka dilanda wabah penyakit pes. Tikus-tikus yang membawa penyakit menular itu juga menyerang lahan garapan masyarakat dan menyebabkan petani gagal panen.
1963 sungguh menjelma tahun bencana bagi Bali. Setelah Gunung Agung meletus 17 Maret, Gunung Batur--yang bersama Gunung Agung menjadi poros Gunung Caturlokapala--juga meletus pada bulan September. Belum lagi gempa tektonik besar yang mengguncang Bali pertengahan Mei tahun yang sama.
Bencana-bencana tersebut menjadi ujian berat bagi masyarakat Bali. Sebanyak 316.000 ton bahan pangan hancur dikubur abu vulkanik, 25.000 hektare lahan musnah, dan 100.000 hektare lahan tak bisa ditanami. Paceklik memperparah kondisi Bali yang harus mengurusi hampir 100.000 pengungsi.
“Pada Oktober 1963, dilaporkan ada 98.792 pengungsi internal, 15.595 penderita kekurangan gizi parah, dan 122.743 penderita kekurangan gizi yang sudah gawat,” tulis surat kabar Suara Indonesia pada 21 Oktober 1963, dikutip dari Historia.

Doa untuk Gunung Agung

Pengungsi saat Gunung Agung meletus 1963 (Foto: Tropen Museum)
Memori masa lalu itu mendorong Wayan Sudiana dan orang-orang desanya di Subagan mengungsi. Ia berkata, “Kalau sekarang pola pikir sudah beda. Lahar ya betul-betul lahar yang akan mengancam nyawa kita.”
Letusan Gunung Agung 1963 memang begitu besar hingga menjadi catatan penting dalam sejarah kebencanaan di Indonesia. Laporan PVMBG kepada UNESCO tahun 1964 menyebut aktivitas vulkanik Gunung Agung kala itu terjadi hampir satu tahun penuh, mulai 2 Februari 1963 sampai 27 Januari 1964.
Selama kurun waktu itu, dapur magma Gunung Agung tak pernah berhenti bergemuruh, dan tercatat setidaknya terjadi dua letusan paroksimal, yakni letusan dahsyat dengan lontaran material besar.
Puncak letusan tahun 1963 itu terjadi pada 17 Maret. Gunung Agung menyemburkan material vulkanik sejauh 14.400 kilometer dengan ketinggian 20 kilometer. Sebagian atmosfer pun berselimut abu vulkanik hingga menghalangi sinar matahari, dan membuat suhu bumi turun 0,4 derajat Celcius.
Sang Kawya, Ida Pedanda Made Sidemen, pendeta-pujangga besar Bali, dalam lontar Puja Panambutan--seperti dicatat Sugi Lanus, pembaca lontar kuno Bali--menuliskan, Gunung Agung pada 1963 mulai menampakkan aktivitas vulkaniknya pada 18 Februari.
Lahar mulai turun di bagian utara gunung dan meluncur 7 kilometer ke bawah mulai 24 Februari hingga 20 hari setelahnya. Erupsi berpuncak pada letusan hebat 17 Maret yang menewaskan 1.549 orang. Sebulan kemudian, 16 Mei, Gunung Agung kembali meletus, dan kali itu menewaskan 200 orang.

Bersimpuh di Kaki Gunung Agung

Bersimpuh di Kaki Gunung Agung (Foto: Cornelius Bintang/kumparan)
Generasi saat itu, yang memiliki pemaknaan berbeda terhadap letusan Gunung Agung, mungkin tak membayangkan gunung yang mereka puja ternyata memiliki daya ledak mengancam jiwa.
Ida I Dewa Gede Catra, pengungsi di Karangasem yang memiliki kemampuan membaca lontar tua, menjadi saksi mata langsung letusan dahsyat Gunung Agung tahun 1963.
Saat itu, sebelum letusan besar, ia menyaksikan tanda-tanda alam. Semisal ikan-ikan di sungai mati tanpa sebab. Lalu hewan-hewan seperti rusa, kera, dan burung-burung turun ke permukiman warga yang lokasinya lebih rendah dari hutan yang menjadi habitat para satwa.
“Kalau bertanya kepada orang tua mengapa ikan-ikan di sungai itu mati semua, orang tua bilang bahwa itu peluwesan bumi,” ucap Gede. Peluwesan bumi merupakan istilah lokal artinya semacam “tanda-tanda keajaiban”.
Gunung Agung mengeluarkan asap sebelum mengalami letusan besar 17 Maret 1963. Kepulan asap mulai muncul sebulan sebelumnya, Februari. Tapi hal itu tak membuat masyarakat khawatir. Mereka tetap beraktivitas biasa tanpa cemas gunung bakal meletus.
“Tempat saya di Karangasem dulu itu jalur lahar, tapi sekarang termasuk aman. Tapi saya tetap mengungsi meski karena perasaan saya tidak aman,” ucap Gede Catra di Denpasar.
Rumah Gede Catra tepatnya berada di Kelurahan Subagan, Kecamatan Karangasem, Kota Amlapura, yang masuk dalam zona aman.
Namun sebutan “zona aman” tak mengenyahkan rasa khawatir. Bayang-bayang kelam dari siang 17 Maret 1963 dan situasi gawat setahun penuh setelahnya, membuat lelaki 71 tahun itu kini memilih pergi dari Subagan.

Doa untuk Gunung Agung

Lokasi pengungsian di Sibetan (Foto: Cornelius Bintang/kumparan)
Sejarah Bali tak lepas dari geliat Gunung Agung. Dan tragedi yang berkaitan dengan Gunung Agung tak pernah luput dari pencatatan masyarakat Bali kuno.
“Ada 15 peristiwa (terkait Gunung Agung) sampai sebelum 1963. Peristiwa-peristiwa itu cukup memakan korban. (Letusan) tahun 1616 dan 1711 cukup besar. Ada indikasi bahwa tahun-tahun tersebut, yang disebut dalam naskah kuno Bali, signifikan sekali bagi dinamika kehidupan orang Bali.”
Letusan Gunung Agung 1963 bahkan dikaitkan dengan pembantaian massal di Bali--seperti juga di daerah-daerah lain di Indonesia--pada 1965, tahun ketika Partai Komunis Indonesia dan gerakan kiri diberangus di Indonesia.
Ida Pedanda Made Sidemen dalam catatan lontar kunonya menuliskan, bencana Gunung Agung diikuti tragedi pembantaian puluhan ribu orang. Tragedi kemanusiaan yang berdekatan dengan petaka alam tersebut kemudian dianggap sebagai pangeling-eling atau pesan pengingat bagi manusia.
Puput sinurat ring dina, Bu, Ka, Dunghulan... duk rijek jagate hantuk parthe, keh janmane kapademang, makawit maciri bintang kukus wetan das rahina, nemonin wuku wayang, muwah ring tilem kalima, A, Wa, Sinta, suryugra matemu lawan ulan, duk isaka, 1887. --Lontar Caru Ageng Alit
Berikut terjemahannya: Selesai disalin pada hari Rabu, Kliwon, Dungulan… ketika hancur dunia karena partai, banyak manusia dibunuh, berawal dari ciri bintang kukus di timur setiap hari, pada wuku Wayang, bulan genap kelima, Selasa, Wage, Sinta, bagian matahari bertemu bulan, pada tahun duk isaja, 1887 (1965 Masehi).
“... kisruh kepartaian (dan keterlibatan militer) diperkirakan oleh beberapa peneliti memakan korban rakyat Bali sekitar 100.000 orang, jauh lebih besar dari bencana letusan Gunung Agung 2 tahun sebelumnya,” kata Sugi Lanus dalam makalahnya, Letusan Gunung Agung dalam Catatan Lontar Bali.

Doa untuk Gunung Agung

Sembahyang di Pura Puseh, Sibetan (Foto: Cornelius Bintang/kumparan)
Setelah 54 tahun tenang, kini Gunung Agung kembali bergolak. Warga Bali terus bersembahyang memohon ampunan dan keselamatan.
Dalam penantian dan kepasrahan masyarakat, Sugi Lanus mengatakan, amat penting mengingat pesan-pesan para pendahulu yang tercatat rapi dalam lontar-lontar kuno, termasuk apa yang diucapkan Ida Pedanda Made Sidemen, sang sastrawan dan budayawan Bali.
“Ida Pedanda Made Sidemen dikenal sebagai pendeta mumpuni yang punya visi melihat ke masa depan. Dia tentu tidak bermain-main dalam meninggalkan semacam pengeling-eling dalam jejak tulisan tangan. Kita diajak bercermin dan berpikir bijak: semoga Gunung Agung segera kembali tenang dan tak terulang lagi bencana ricuh partai yang menewaskan ratusan ribu orang Bali itu.”
Semoga. Doa itu terus terlantun.

Doa untuk Gunung Agung

Pemangku memberi air suci di pura. (Foto: Cornelius Bintang/kumparan)
Om deva suuksma paramaacintyaaya nama svahaa
Oh keseluruhan yang lengkap dan sempurna, hormat kepada-Mu wahai dewata yang maha gaib dan tak terlukiskan

LipsusNewsGunung AgungBaliBudaya

500

Baca Lainnya