Bukan Cuma Bikin Tertawa, Film Gara Gara Warisan Hadirkan Pesan Menyentuh

Mahasiswa S-1 Ilmu Komunikasi UNS
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ardiansyah Arif Rahnawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dalam banyak cerita kehidupan, harta warisan acap kali dianggap sebagai pemicu utama hancurnya ikatan darah dan memantik perebutan dingin hingga dinding pemisah antar saudara. Namun, bagaimana jika sebidang wisma tua justru bertransformasi menjadi arena tempat gengsi pelan-pelan runtuh, luka masa lalu akhirnya dibicarakan, dan kerenggangan persaudaraan perlahan disembuhkan?

Identitas Film
• Judul: Gara-gara Warisan
• Sutradara: Muhadkly Acho
• Rumah Produksi: Starvision Plus
• Tahun Rilis: 2022
• Durasi: 119 Menit
• Genre: Drama Komedi
• Bahasa: Bahasa Indonesia
• Pemeran: Oka Antara, Indah Permatasari, Ge Pamungkas, Yayu Unru, dan Ira Wibowo
• Rating IMDb : 7,2/10
Sinopsis
Ketika Warisan Diuji Lewat Tantangan Kelola Wisma
Kisah diawali dari keretakan hubungan tiga bersaudara yaitu Adam, Laras, dan Dicky yang telah lama tidak saling menyapa dan tinggal terpisah. Kehidupan mereka kembali bersinggungan ketika sang ayah, Dahlan yang diperankan oleh Yayu Unru, jatuh sakit parah dan membutuhkan biaya pengobatan yang tidak sedikit. Dalam kondisi tersebut, Dahlan memanggil ketiga anaknya pulang dan menawarkan warisan berupa sebuah wisma tamu keluarga, yaitu Guest House Salma.
Uniknya, hak pengelolaan wisma tersebut tidak langsung diberikan begitu saja. Dahlan memberikan tantangan kepada ketiga anaknya untuk membuktikan siapa yang paling layak dan mampu mengelola guest house tersebut. Menariknya lagi, penentu pemenang persaingan ini bukan sang ayah, melainkan penilaian langsung dari para staf guest house.
Ketiga bersaudara ini datang dengan latar belakang dan desakan ekonomi yang bertolak belakang. Adam yang diperankan oleh Oka Antara, merupakan anak sulung yang rela resign dari pekerjaannya demi menjalankan tantangan ini karena terdesak kebutuhan biaya sekolah anaknya. Laras yang diperankan oleh Indah Permatasari, adalah anak tengah yang mandiri, idealis, serta berjiwa sosial tinggi, membutuhkan dana besar untuk membiayai panti werda. Sementara itu, Dicky yang diperankan oleh Ge Pamungkas, merupakan si anak bungsu kesayangan Dahlan yang hidupnya masih berantakan tanpa rencana masa depan yang jelas.
Persaingan ketat pun bergulir di hadapan para staf demi membuktikan siapa ahli waris yang paling kompeten.
Resensi
Hal yang paling menyentuh dari pengalaman menonton film ini adalah bagaimana persaingan materi antaranggota keluarga tidak digambarkan sebagai bentuk keserakahan belaka. Latar belakang serta motif emosional dari masing-masing tokoh dihadirkan secara wajar dan sangat dekat dengan realitas kehidupan masyarakat sehari-hari. Gesekan emosi di antara mereka seperti rasa cemburu anak sulung terhadap anak bungsu yang dianakemaskan sang ayah terasa begitu manusiawi. Di sini, persaingan mengelola wisma keluarga justru bertransformasi menjadi ruang terbuka untuk meruntuhkan gengsi, memahami luka masa lalu, dan saling memaafkan.
Dukungan akting yang solid dari jajaran pemeran seperti Oka Antara, Indah Permatasari, Ge Pamungkas, Yayu Unru, hingga Ira Wibowo berhasil membangun dinamika emosi yang mengaduk-aduk perasaan penonton berpindah dari tawa lepas menuju adegan haru seputar hubungan ayah dan anak. Keputusan cerita yang menjadikan para staf wisma sebagai penentu pemenang persaingan juga memberikan sentuhan komedi tempat kerja yang segar tanpa mengaburkan pesan utamanya. Kualitas penceritaan ini terbukti lewat raihan berbagai nominasi di ajang penghargaan nasional, seperti Festival Film Wartawan Indonesia dan Indonesian Movie Actors Awards.
Bagi saya pribadi, Gara-gara Warisan menyampaikan pesan berharga bahwa di balik persaingan harta dan materi, ikatan kekeluargaan selalu menjadi aset paling bernilai yang tidak bisa ditakar dengan uang. Film ini sangat layak diapresiasi oleh siapa saja yang merindukan tontonan keluarga yang hangat, menghibur, dan sarat akan makna kehidupan.
