Gemerlap Musik di Hutan FISIP UNS: Sorekustik KMF Hadir Melepas Penat Mahasiswa

Mahasiswa S-1 Ilmu Komunikasi UNS
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ardiansyah Arif Rahnawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana Hutan FISIP (Hufis) Universitas Sebelas Maret tampak berbeda dari biasanya pada Senin (7/9/2026) sore. Komunitas Musik FISIP (KMF) kembali menggelar panggung musik bulanan kebanggaan mereka, Sorekustik, yang kali ini mengusung tema unik dan energik: "Disco In The Wood".
Sorekustik, singkatan dari Sore dan Akustik, merupakan agenda rutin bulanan KMF yang memanfaatkan momen senja sebagai wadah relaksasi dan apresiasi musik bagi seluruh mahasiswa FISIP UNS. Dipandu oleh duo MC Galatia Agastya dan Lena Dewi yang membawakan acara dengan hangat dan ceria dari awal hingga akhir, suasana senja di Hufis terasa makin hidup. Kendati masa persiapannya terbilang sangat singkat, yakni hanya satu minggu, acara tetap berlangsung sukses dan meriah.
Sentuhan Interaktif dan Pengenalan KMF
Tidak hanya menyuguhkan pertunjukan musik, Sorekustik kali ini juga menghadirkan daya tarik unik berupa papan interaktif bertuliskan "Draw Yourself". Di sana, para penonton diajak mengekspresikan diri dengan menggambar sketsa atau karikatur diri mereka sendiri menggunakan spidol berwarna-warni yang telah disediakan oleh panitia.
Di sela-sela riuhnya acara, panitia KMF juga tampak aktif membagikan brosur kepada para pengunjung. Aksi ini menjadi langkah KMF untuk mengenalkan profil, karya, dan ruang berproses di komunitas musik kampus tersebut kepada mahasiswa FISIP, khususnya para mahasiswa baru.
Kemeriahan Deretan Penampil dan Setlist Lagu
Panggung Sorekustik sore itu diramaikan oleh deretan penampilan apik dari tiga band lokal kampus:
• Surakustik
Membuka panggung dengan nuansa pop manis dan nostalgia. Penonton diajak bernyanyi bersama (sing along) lewat lagu "Dekat di Hati" (RAN), "Remaja" (HiVi!), hingga tembang legendaris "Cinta" (Vina Panduwinata). Surakustik juga memanjakan pendengar lewat dua hit favorit dari NIKI, yakni "Take a Chance with Me" dan "Backburner".
• Don't Like That Crazy
Suasana makin panas ketika Don't Like That Crazy mengambil alih panggung. Mereka membakar semangat penonton lewat nomor-nomor indie berenergi tinggi, seperti "Mati Muda" dan "Menangisi Akhir Pekan" milik Jenny, serta indie anthem dari The Adams, "Waiting" dan "Timur".
• The Laduk
Sebagai penutup yang tak kalah heboh, The Laduk membawakan deretan lagu populer lintas generasi. Mulai dari "Mata ke Hati" (HIVI!), "Berharap Tak Berpisah" (Reza Artamevia), "Terlalu Lama" (Vierra), hingga dua lagu kebangsaan Dewa 19, "Separuh Nafas" dan "Aku Milikmu", yang sukses membuat seluruh penonton bergoyang dan bersorak riuh bersama.
Zeti, panitia Sorekustik dari program studi Administrasi Negara angkatan 2025, mengungkapkan rasa syukurnya atas sambutan penonton yang melebihi ekspektasi.
"Antusiasme penonton sangat luar biasa dan ramai sekali. Apalagi melihat mahasiswa baru yang baru pertama kali menyaksikan Sorekustik secara langsung, energi mereka benar-benar terasa," ujar Zeti di sela-sela acara.
Wadah Pelepas Stres di Tengah Padatnya Perkuliahan
Bagi para mahasiswa, kehadiran Sorekustik bukan sekadar tontonan musik biasa, melainkan oase di tengah tekanan akademis. Asa, mahasiswa Hubungan Internasional angkatan 2025 yang hadir sore itu, mengaku sengaja datang untuk mencari hiburan setelah bergelut dengan rutinitas kuliah.
"Sebagai mahasiswa yang baru menginjak semester 3, jujur tugas terasa makin banyak dan mata kuliahnya makin kompleks sampai bikin stres. Setelah kuliah, saya pengen cari hiburan buat have fun dan menghilangkan beban pikiran," tutur Asa.
Ia menambahkan bahwa menonton Sorekustik bersama kawan-kawan menjadi momen berharga yang sangat menghibur. Asa pun menyampaikan harapannya agar agenda ini terus konsisten berjalan.
"Semoga ke depannya Sorekustik terus diadakan secara rutin. Lagu-lagu yang dibawakan juga bisa makin bervariatif dan selalu menghibur orang banyak, khususnya mahasiswa yang lagi capek," pungkasnya.
Sorekustik "Disco In The Wood" sukses membuktikan bahwa ruang terbuka kampus seperti Hufis dapat disulap menjadi wadah kebersamaan yang hangat, melepas penat, dan mempererat tali silaturahmi antarmahasiswa FISIP UNS.
