Konten dari Pengguna

Ancaman Nyata di Depan Mata Bahaya Mikroplastik

Ardi Hardiansyah

Ardi Hardiansyah

Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi Sastra Indonesia.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ardi Hardiansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mikroplastik. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Mikroplastik. Foto: Unsplash

Manusia ialah makhluk konsumtif dan yang berkembang begitu pesat. Salah satu sisi negatif dalam hal ini ialah dampak pencemaran lingkungan yang dihasilkan dari aktivitas manusia yang kurang peduli terhadap lingkungan di sekitarnya.

Individu-individu yang hanya mementingkan kepuasannya serta tak acuh pada kehidupan generasi selanjutnya menjadi akar dari permasalahan pencemaran lingkungan yang terjadi di Indonesia. Faktor lainnya yang menjadi salah satu penyebab pencemaran lingkungan ialah gaya hidup urban modern. Pada abad ke-21 ini, pencemaran plastik telah diakui secara global sebagai salah satu ancaman lingkungan terbesar.

Contoh pencemaran lingkungan. Foto: Unsplash

Untuk bisa peduli terhadap lingkungan, kita perlu mengetahui terlebih dahulu dampak signifikan yang terjadi di sekitar kita ketika tidak adanya kesadaran diri dalam mengelola lingkungan dan sampah. Dalam kasus ini ialah mikroplastik. Mikroplastik adalah hasil dari modernisasi umat manusia yang diberikan ke alam semesta. Mikroplastik bisa didefinisikan secara konvensional sebagai partikel plastik dengan ukuran dari 5 mm (Gesamp & Anderson, 2015).

Mikroplastik diklasifikasikan menjadi 2 jenis yakni mikroplastik primer dan mikroplastik sekunder. Mikroplastik primer ialah yang diproduksi sengaja dalam ukuran kecil (seperti microbeads dalam kosmetik dan serat dari pakaian sintetis). Sedangkan mikroplastik sekunder ialah yang terbentuk dari proses fragementasi dan degradasi makroplastik dari paparan fisik, kimiawi, dan fotodegradasi (sinar UV) di lingkungan.

Indonesia yang berada di wilayah tropis memiliki relevansi yang sangat tinggi. Dengan ekosistem pesisir dan laut tropis dicirikan oleh keberadaan Blue Forests yang terdiri dari terumbu karang, hutan mangrove, dan padang lamun (seagrass). Di Indonesia sendiri sudah terdapat kasus yang terjadi terkait permasalahan mikroplastik. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menerbitkan tulisan pada 17 Oktober 2025 bahwa penelitian yang dilakukan sejak 2022 menunjukkan bahwa air hujan yang turun di Jakarta mengandung partikel mikroplastik berbahaya yang berasal dari aktivitas manusia di perkotaan.

Partikel-partikel seperti plastik mikroskopis yang terbentuk dari degradasi limbah plastik, debu kendaraan dan ban, serta sisa pembakaran sampah plastik. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan mikroplastik yang ditemukan umumnya berbentuk serat sintetis dan fragmen kecil plastik, terutama polimer seperti poliester, nilon, polietilena, polipropilena, hingga industri, yang kemudian terbawa angin lalu turun kembali bersama hujan. Proses dan fenomena ini dikenal dengan nama atmospheric microplastic deposition.

Studi global menunjukkan dampak dari paparan mikroplastik sangat serius seperti stres oksidatif, gangguan hormon, hingga kerusakan jaringan. Lebih mengerikannya lagi dari sisi lingkungan, air hujan bermikroplastik berpotensi mencemari sumber air permukaan dan laut, yang nantinya masuk ke dalam rantai makanan manusia.

Dalam kasus ini, edukasi publik menjadi kunci penting untuk bisa menyadarkan setiap individu untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Dengan cara mengurangi penggunaan plastik, memilah sampah, dan tidak membakar limbah sembarangan adalah hal yang bisa dilakukan oleh masing-masing individu.

Kasus ini seolah menjadi refleksi dari perilaku manusia terhadap bumi. Musabab alam akan selalu bersahabat pada siapa saja yang menjaganya. Sebaliknya, alam akan membalas hal buruk, untuk siapa saja yang melukainya.