Ruminasi di Antara Malam yang Tak Kunjung Usai

Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi Sastra Indonesia.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ardi Hardiansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di antara sepi dan sunyi, ada jiwa kita yang sudah lelah ditimpa rutinitas yang padat. Ada hati yang mulai layu, sehingga mendorong kita untuk beristirahat. Namun alih-alih beristirahat, kadang kita cenderung untuk mulai memikirkan hal-hal yang sudah seharusnya dicukupkan. Satu pikiran kecil, lalu mulai bercabang, dan akhirnya menjadi sesuatu yang rumit untuk diselesaikan.
Pikiran-pikiran kecil yang melayang sering kita namakan sebagai overthinking. Namun semakin lama memikirkan sesuatu, semakin terasa hal itu hanya berputar-putar di satu tempat tanpa berpindah tempat. Pikiran-pikiran yang berputar tanpa adanya penyelesaian masalah akan menjadi sebuah perenungan. Kendati dalam hal ini, konteks perenungannya menjadi hal negatif. Jika sudah terjadi, masalah ini lebih dari sebatas overthinking. Dalam psikologi, pola ini dikenal sebagai ruminasi.
Ruminasi adalah kondisi kita ketika tengah terjebak dalam siklus pikiran negatif yang berulang dan tidak produktif mengenai suatu permasalahan atau tentang masa lalu. Contoh nyata dari ruminasi ialah ketika kita terus memikirkan suatu kesalahan tanpa mengambil tindakan untuk memperbaikinya. Lalu kekhawatiran perihal masa depan yang abu-abu yang tergolong belum tentu terjadi juga termasuk dalam kategori ruminasi jika dilakukan tanpa langkah antisipasi atau eksekusi yang nyata. Kondisi seperti ini akan menciptakan lingkaran yang sulit diputus tanpa adanya kesadaran diri yang kuat.
Ruminasi memiliki dampak negatif untuk psikologi. Kita jadi cenderung sulit untuk fokus pada penyelesaian masalah, lalu produktivitas kita akan berkurang karena energi kita terkuras untuk memikirkan hal yang sama, dan menciptakan kelelahan mental akibat aktivitas otak yang tidak kunjung berhenti.
Ruminasi ialah fenomena kompleks yang nyata dan sering kita alami. Kondisi ini bukanlah sekedar kondisi berpikir, tetapi pola yang membuat pikiran kita terjebak di tempat yang sama. Dan seringkali kita tidak sadar atas kondisi ini.
Penting bagi kita untuk menyadari kapan pikiran mulai menjadi tidak produktif dan berdampak negatif untuk kesehatan tubuh. Ketika fenomena ini tiba, kita bisa merespon dengan cara sadar bahwa kita sedang ada di kondisi ini. Berpikir untuk menemukan solusi bukan terjebak pada pikiran yang sama tanpa adanya solusi. Alihkan ke hal-hal konkret seperti menulis, berjalan, atau bertemu teman dan berbincang. Lalu yang terpenting ialah terima bahwa tidak semua hal harus selesai hari ini serta berhenti sebentar membiarkan pikiran kita untuk tidak selalu keluar sebagai pemenang.
